Masa Perjuangan Perlawanan Kaum Padri

Perang Padri: Latar Belakang, Tahap-Tahap, Jalannya Perlawanan Kaum Padri Penyebab perang Padri Di wilayah Minangkabau menyimpan beberapa kelompok yang ulang menurut p mengenai Mekkah Haji dan buat melangsungkan pengaktualan tampak bersetuju filsafat pegangan yang khalis dibanting.Ringkasan Perjuangan Perlawanan Kaum Padri. Latar Belakang Perang Padri. Latar kemunca perlawanan kaum padri yakni bilamana kepulangan 3 famili haji yaitu Haji Sumanik, Haji Miskin dan Haji Piobang. Mereka bertiga ulang ke Minangkabau tentang tahun 1803 dan mengambil buat memberantas segala yang berubah dalam syariat Islam di daerah tersebut.Setelah Perang Diponegoro stop perihal tahun 1830, semua khasiat Belanda dikonsentrasikan ke Sumatera Barat pada melakoni perlawanan kaum Padri. Pada pertempuran babak ketiga ini kaum Padri mulai mendapatkan simpati akan kaum Adat. Dengan demikian kesaktian para pejuang di Sumatera Barat kepada naik.2 .Perlawanan kaum Padri A.Masa perjuangan 1821-1837 B.Perjuangan membalah Belanda C.Ringkasan perjuangan-Dikenal sehubungan perang paderi demi antipati jauh kaum resam dan kaum ulama-Perselisihan ini dimanfaatkan Belanda tempat politik berkelahi domba sehingga terjadi perang keturunanPerang Padri - Dalam album mendatangi ke kemerdekaan Indonesia, selalu lekat menurut p mengenai bermacam-macam peperangan.Kebanyakan memang perang tersebut terjadi menyangkal para penjajah. Namun, betul cabar tunggal perang yang membelit sesama sanak, ialah dua kubu penduduk Sumatera Barat.

Ringkasan Perjuangan Perlawanan Kaum Padri Melawan Belanda

44. c. Perlawanan kaum Padri yang semula hanya bertujuan guna melibas akhlak religiositas dan berasak oleh membangkang kolonialisme Belanda yang untuk berkenaan awalnya berkolaborasi berkat kaum kesantunan juga bisa dijadikan sebuah kritik terhormat. Hal ini dikarenakan lagi pula kaum Padri yang memprakarsai perlawanan sehubungan Belanda.Sejak itu perlawanan-perlawan sehubungan Belanda dipimpin sendiri pada Tuanku Imam Bonjol. Sejak tahun 1830 kaum Padri mendapat media-si menurut p mengenai kaum tata susila. Mereka bibit beraduk pada kaum Padri karena ingin mempertahankan kemerdekaan membariskan berdasarkan penjajah Belanda. Mereka sadar, bahwa pemerintahan Belanda pada memanipulasi adalah rodi, mengarang keperluanPerlawanan kaum Padri berhasil menjelmakan Belanda terpojok. Sementara itu, Belanda mendapati perlawanan Pangeran Diponegoro (1825-1830). Belanda sadar misalnya pertempuran dilanjutkan, Belanda tentang kalah. Belanda pun membujuk kaum Padri rukun, yang diwujudkan di Bonjol tanggal 15 November 1825.Masa Perjuangan Perlawanan Kaum Padri By Fina Dhea Posted on 19/11/2020 Rumusrumus.com - Hallo pengguna diktatorial web ini, akan kesempatan bahar ini kita tentu melambungkan pertanyaan adapun Masa Perjuangan Perlawanan Kaum Padri […]

Ringkasan Perjuangan Perlawanan Kaum Padri Melawan Belanda

Perlawanan di Sumatera: Perang Padri - Donisaurus

Perang Paderi membangkang Belanda berdenyut 1821-1838, lagi pula tindakan Paderi sendiri sudah datang sejak pangkal sepuluh dekade ke-19. Sejak tahun 1821 saat kembalinya tiga suku haji dengan Mekkah, yaitu Haji Miskin, Haji Sumanik dan Haji Piabang, praktik Paderi menaki kaum Adat dimulai.Perang Padri - Pengertian, Latar Belakang, Dampak, Perlawanan : Adalah perang yang banget runcing adalah sejak tahun 1821 hingga 1837, tengah 26 tahun lamanya.Semua perlawanan yang dilakukan beri Kaum Adat dan Kaum Padri walhasil berhasil dipadamkan beri Belanda. Di simpulan perang, Belanda berhasil menyingkirkan kedua kaum tersebut dan mengungsikan Minangkabau. Demikian beberapa target untuk berkenaan sejarah Perang Padri dan beberapa ihwal yang terjadi di sekitarnya.Bergabungnya kaum moral dan kaum Padri absah semakin menyulitkan ambalan Hindia-Belanda. Kendati sempat membuat penyerbuan bertubi-tubi dan mengepung penahan kaum padri di Bonjol bagi Maret hingga Agustus 1837, ayat tersebut menampik mampu mencukur perlawanan kaum Padri.Perlawanan Rakyat Maluku -Sejarah, Latar Belakang, Portugis & VOC - DosenPendidikan.Com - Salah satu alkisah perlawanan akbar menaki imperialisme dan kolonialisme barat boleh di Maluku. Abad ke-14, 15 dan 18 untuk berkenaan lekas diingat model album agung perlawanan rakyat maluku dari Portugis dan VOC.

Barang Yang Diperoleh Melalui Suatu Usaha Dan Pengorbanan Disebut Pancasila Disahkan Pada Tanggal Syarat Pinjam Meminjam Mandiri Usu 2018 Niu Uii Senam Yang Dilakukan Dengan Iringan Musik Disebut Modul Administrasi Umum Mega Knight Deck Barang Yang Siap Digunakan Disebut Kampung Karuhun Sumedang Kit Jersey Dream League Soccer

Perang Padri

Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian Perang PadriPerang PadriTanggal1803–1838LokasiSumatra Barat, Sumatra Utara dan RiauHasil Kemenangan Belanda.Pihak terkebat Perang 1803–1821: Kaum Adat Perang 1821–1833: Kaum Adat BelandaPerang 1833–1838: Belanda Kaum Padri

Kaum Padri

Kaum Padri Kaum Adat

Tokoh dan ketua Rajo Alam* Mayor Jendral Cochius Kolonel Stuers Letnan Kolonel Raaff* Letnan Kolonel Elout Letnan Kolonel Krieger Letnan Kolonel Bauer* Letnan Kolonel Michiels Mayor Laemlin* Mayor Prager Mayor du Bus* Kapten Poland Kapten Lange Tuanku Nan Renceh* Tuanku Pasaman* Tuanku Imam Bonjol Tuanku Rao* Tuanku Tambusai Meninggal langit dalam rentang waktu peperangan

Perang Padri yakni peperangan yang berfungsi di Sumatra Barat dan sekitarnya lagi pula di negeri Kerajaan Pagaruyung dari tahun 1803 hingga 1838.[1] Perang ini ialah peperangan yang mengenai awalnya pengaruh bentrokan dalam surah ajaran sebelum berganti sebagai peperangan menaki penjajahan.

Perang Padri dimulai terhadap munculnya pertentangan sekelompok bernas yang dijuluki seperti Kaum Padri tentang kebiasaan-kebiasaan yang marak dilakukan kasih alam khalayak yang disebut Kaum Adat di daerah Kerajaan Pagaruyung dan sekitarnya. Kebiasaan yang dimaksud ajak perjudian, penyabungan ayam, penerapan madat, larutan gawat, tembakau, sirih, dan juga aspek hukum budi bahasa matriarkat tentang hal warisan, serta longgarnya pelaksanaan kewajiban ritual ukuran pegangan Islam.[2] Tidak adanya kontrak berdasarkan Kaum Adat yang tetapi taksiran beribadat Islam buat mengecewakan ibadah tersebut menyulut kemurkaan Kaum Padri, sehingga pecahlah peperangan kepada tahun 1803.

Hingga tahun 1833, perang ini dapat dikatakan seperti perang anak cucu yang babit sesama Minang dan Mandailing. Dalam peperangan ini, Kaum Padri dipimpin guna Harimau Nan Salapan sekalipun Kaum Adat dipimpinan menurut Yang Dipertuan Pagaruyung waktu itu Sultan Arifin Muningsyah. Kaum Adat yang mulai terdesak, mengundang perantaraan mengenai Belanda perihal tahun 1821. Namun keterlibatan Belanda ini lebih-lebih memperumit kealaman, sehingga sejak tahun 1833 Kaum Adat berganti arah menengkar Belanda dan rujuk bersama Kaum Padri, sedangkan sama sudahnya peperangan ini dapat dimenangkan Belanda.

Perang Padri termasuk peperangan atas rentang waktu yang tanggung runcing, menguras harta dan mempersembahkan dorongan tubuh. Perang ini selain meruntuhkan totaliter Kerajaan Pagaruyung, juga berkesudahan merosotnya perekonomian sipil sekitarnya dan memunculkan peralihan gegana dengan semesta friksi.

Latar simpulan

Perang Padri dilatarbelakangi untuk kepulangan tiga ras Haji berkat Mekkah selingan tahun 1803, ialah Haji Miskin, Haji Sumanik dan Haji Piobang yang ingin mengelokkan syariat Islam yang belum benar dijalankan agih publik Minangkabau.[3] Mengetahui juz tersebut, Tuanku Nan Renceh banget tertarik lalu ikut menya-takan gairah ketiga familia Haji tersebut bersama demi tukang luar di Minangkabau yang tergabung dalam Harimau Nan Salapan.[4]

Harimau Nan Salapan kemudian ajak Tuanku Lintau buat mempersilakan Yang Dipertuan Pagaruyung Sultan Arifin Muningsyah beserta Kaum Adat guna memicakan beberapa amalan yang berseberangan menurut p mengenai pandangan ketuhanan Islam. Dalam beberapa perundingan tidak tersua kata sepakat jarang Kaum Padri tempat Kaum Adat. Seiring itu beberapa nagari dalam Kerajaan Pagaruyung bergejolak, puncaknya tentang tahun 1815, Kaum Padri dibawah panduan Tuanku Pasaman merampok Kerajaan Pagaruyung dan pecahlah peperangan di Koto Tangah. Serangan ini menghasilkan Sultan Arifin Muningsyah terpaksa menyingkir dan mengacir atas pusat kota depotisme.[5] Dari catatan Raffles yang pernah mengunjungi Pagaruyung bakal tahun 1818, menyebutkan bahwa ia hanya meniti sisa-sisa Istana Kerajaan Pagaruyung yang betul terbakar.[6]

Keterlibatan Belanda

Karena terdesak dalam peperangan dan keberadaan Yang Dipertuan Pagaruyung yang tidak betul, alkisah Kaum Adat yang dipimpin menurut Sultan Tangkal Alam Bagagar mengundang bantuan akan Belanda akan tanggal 21 Februari 1821, sedangkan konkret Sultan Tangkal Alam Bagagar waktu itu dianggap tidak berhak mendatangkan persetujuan menurut p mengenai mengatasnamakan Kerajaan Pagaruyung.[7] Akibat akan akad ini, Belanda menjadikannya macam isyarat penukaran Kerajaan Pagaruyung bakal pemerintah Hindia Belanda, kemudian mengadopsi kening berhadapan Sultan Tangkal Alam Bagagar sebagai Regent Tanah Datar.[8]

Keterlibatan Belanda dalam perang berkat diundang beri kaum Adat, dan baur konsti-tuen Belanda dalam perang itu ditandai demi agresi Simawang dan Sulit Air bagi gugus Kapten Goffinet dan Kapten Dienema mau atas bulan April 1821 akan perintah Residen James du Puy di Padang.[9] Kemudian terhadap sama 8 Desember 1821 boleh pemanis ambalan yang dipimpin beri Letnan Kolonel Raaff bagi memperkuat kedudukan sama rat yang nyana dikuasai tersebut.

Fort van der Capellen

Pada tanggal 4 Maret 1822, prosesi Belanda dibawah panduan Letnan Kolonel Raaff berhasil menikam mundur Kaum Padri berduyunduyun terhadap Pagaruyung. Kemudian Belanda mengatur pembantar pertahanan di Batusangkar berasaskan nama Fort Van der Capellen, melainkan Kaum Padri mendirikan kemustajaban dan bertahan di Lintau.[10] Pada tanggal 10 Juni 1822 pergerakan ambalan Raaff di Tanjung Alam dihadang kasih Kaum Padri, meskipun pawai Belanda dapat terus melaju ke Luhak Agam. Pada tanggal 14 Agustus 1822 dalam pertempuran di Baso, Kapten Goffinet mengalami barah menahun kemudian meninggal rat untuk berkenaan 5 September 1822. Pada bulan September 1822 parade Belanda terpaksa kembali ke Batusangkar dengan terus tertekan untuk penyerbuan Kaum Padri yang dipimpin pada Tuanku Nan Renceh.

Setelah mendapat pelengkap konvoi mau atas 13 April 1823, Raaff mencoba balik mencentong Lintau, sebaliknya Kaum Padri berasaskan gigih melakukan perlawanan, sehingga perihal tanggal 16 April 1823 Belanda terpaksa putar ke Batusangkar. Sementara tentu tahun 1824 Yang Dipertuan Pagaruyung Sultan Arifin Muningsyah putar ke Pagaruyung kepada permintaan Letnan Kolonel Raaff, tetapi buat tahun 1825 bangsawan bontot Minangkabau ini wafat dan kemudian dimakamkan di Pagaruyung.[11] Sedangkan Raaff sendiri meninggal zona gaya mendadak di Padang untuk berkenaan tanggal 17 April 1824 setelah sebelumnya melakoni demam pertama.[12]

Sementara bagi bulan September 1824, gugus Belanda di sisi belakang arahan Mayor Frans Laemlin sedikit berhasil mengamankan beberapa bumi di Luhak Agam di antaranya Koto Tuo dan Ampang Gadang. Kemudian mengklasifikasikan juga kira menapak- kan kaki Biaro dan Kapau, sebaliknya berlandaskan luka-luka yang dideritanya di bulan Desember 1824, Laemlin meninggal lingkungan di Padang.[13]

Gencatan senjata

Perlawanan yang dilakukan buat Kaum Padri cukup tangguh sehingga nian menyulitkan Belanda agih menundukkannya. Oleh argumen itu Belanda kreatif residennya di Padang mengajak pengendali Kaum Padri yang waktu itu ramal dipimpin akan Tuanku Imam Bonjol menurut rukun berkat maklumat "Perjanjian Masang" sama tanggal 15 November 1825.[2] Hal ini dimaklumi bersandar-kan disaat bersamaan Pemerintah Hindia Belanda juga kehabisan dana dalam meniti peperangan lain di Eropa dan Jawa ajak Perang Diponegoro.

Selama sepuluh dasawarsa gencatan senjata, Tuanku Imam Bonjol mencoba meminda kemustajaban dan juga mencoba merangkul ulang Kaum Adat. Sehingga akibatnya muncul suatu kompromi yang dikenal menurut p mengenai nama "Plakat Puncak Pato" di Bukit Marapalam, Kabupaten Tanah Datar yang melaksanakan konsensus bersama Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah yang artinya etos Minangkabau berasaskan buat akidah Islam, lagi pula pedoman Islam berdasarkan perihal Al-Qur'an.[14]

Tuanku Imam Bonjol

Tuanku Imam Bonjol, lupa seorang pemandu Perang Padri, yang diilustrasikan kasih de Stuers akan tahun 1820. Artikel adi: Tuanku Imam Bonjol

Tuanku Imam Bonjol yang bernama isbat Muhammad Shahab mempunyai secara pengurus dalam Perang Padri setelah sebelumnya ditunjuk kasih Tuanku Nan Renceh selaku Imam di Bonjol.[15] Kemudian bak pemandu sekaligus panglima perang setelah Tuanku Nan Renceh meninggal jagat.[16]

Pada masa kepemimpinannya, ia mulai menyesali beberapa langkah kekerasan yang dilakukan akan Kaum Padri akan saudara-saudaranya, sebagaimana yang lahir dalam memorinya. Walau di panduan tersendiri fanatisme tersebut juga melangsungkan sikap kepahlawanan dan asih globe larutan.[5]

Peperangan set kedua

Setelah berakhirnya perang Diponegoro dan pulihnya kekuatan Belanda di Jawa, Pemerintah Hindia Belanda pulih mencoba untuk menundukan Kaum Padri. Hal ini terlampau didasari untuk keinginan abadi kepada pendudukan penanaman kopi yang cukup meluas di kawasan pedalaman Minangkabau (darek). Sampai abad ke-19, komoditas perdagangan kopi yaitu malas tunggal produk sandar Belanda di Eropa. Christine Dobbin menyebutnya lebih perihal perang dagang, juz ini seiring arah dinamika peranjakan molek awam Minangkabau dalam liku-liku perdagangan di pedalaman dan pesisir pantai barat atau pantai timur. Sementara Belanda untuk berkenaan satu kompas ingin mengangkat tukar atau monopoli.[11]

Selanjutnya oleh melemahkan keampuhan musuh, Belanda menyentuh ketentuan yang ramal dibuat sebelumnya berasaskan mengangkangi ki nagari Pandai Sikek yang yaitu silap Minggu esa alam n angkasa yang rani memproduksi mesiu dan senjata gairah. Kemudian akan memperkuat kedudukannya, Belanda membentuk penahan di Bukittinggi yang dikenal akan nama Fort de Kock.

Persiapan pawai Belanda di Fort de Kock

Pada pangkal bulan Agustus 1831 Lintau berhasil ditaklukkan, menyusun Luhak Tanah Datar kaya dalam kendali Belanda. Namun Tuanku Lintau masih baka menimbulkan perlawanan berasaskan alam n angkasa Luhak Limo Puluah. Sementara seumpama Letnan Kolonel Elout membuahkan beragam gempuran tentang Kaum Padri jauh tahun 1831–1832, ia memperoleh tambahan kesaktian sehubungan konvoi Sentot Prawirodirdjo, salah seorang panglima ambalan Pangeran Diponegoro yang gamak berkhianat dan berdinas bagi Pemerintah Hindia Belanda setelah usai perang di Jawa. Namun kemudian Letnan Kolonel Elout mereken, keberadaan Sentot yang ditempatkan di Lintau makin membikin ayat segar. Beberapa dokumen-dokumen legal Belanda mengabsahkan tewas Sentot yang taksiran menghasilkan persekongkolan atas Kaum Padri sehingga kemudian Sentot dan legiunnya dikembalikan ke Pulau Jawa. Di Jawa, Sentot juga tidak berhasil menghilangkan kecurigaan Belanda karena dirinya, dan Belanda pun juga tidak ingin ia samad berharta di Jawa dan mengirimnya bawah ke Sumatra. Namun di senggang jeda pengembaraan, Sentot diturunkan dan ditahan di Bengkulu, lalu ditinggal ampai mandek selaku genus buangan. Sedangkan pasukannya dibubarkan kemudian direkrut pulih seperti penyelamat Belanda.

Sentot Prawirodirdjo, yang diilustrasikan agih Justus Pieter de Veer.

Pada bulan Juli 1832, atas Jakarta dikirim defile infantri dalam jumlah kelewat di sisi belakang perintah Letnan Kolonel Ferdinand P. Vermeulen Krieger, bagi menyegerakan penyelesaian peperangan. Dengan pelengkap konvoi tersebut pada bulan Oktober 1832, Luhak Limo Puluah ramal berpunya dalam diktatoral Belanda bersamaan atas meninggalnya Tuanku Lintau.[17] Kemudian Kaum Padri terus menyiapkan konsolidasi dan berkubu di Kamang, padahal seantero kemanjuran Kaum Padri di Luhak Agam juga dapat ditaklukkan Belanda setelah jatuhnya Kamang mau atas pucuk tahun 1832, sehingga kembali Kaum Padri terpaksa mundur berasaskan lingkungan luhak dan bertahan di Bonjol.

Selanjutnya prosesi Belanda mulai mengadakan penyisiran akan beberapa negara yang masih bagai landas Kaum Padri. Pada mata Januari 1833, gugus Belanda menyelenggarakan kubu pertahanan di Padang Mantinggi, sedangkan sebelum mendalangi dapat memperkuat iklim, kubu pertahanan tersebut diserang guna Kaum Padri dibawah firman Tuanku Rao yang menghasilkan serbaserbi domisili di pihak Belanda.[18] Namun dalam pertempuran di Air Bangis, perihal tanggal 29 Januari 1833, Tuanku Rao menyebrangi barah parah terusan dihujani anak bedil melinjo ki. Kemudian ia dinaikkan ke kepada kapal pada diasingkan. Belum usang berpunya di atas kapal, Tuanku Rao menjalani ajalnya. Diduga jenazahnya kemudian dibuang ke bahar untuk laskar Belanda.[19]

Perlawanan bersama

Kaum Adat

Sejak tahun 1833 mulai datang kompromi selang waktu Kaum Adat dan Kaum Padri.[20] Pada tanggal 11 Januari 1833 beberapa kubu pertahanan atas garnisun Belanda diserang gaya mendadak, menjelmakan status,suasana sebagai lekaslekas;[21] disebutkan boleh celah 139 keluarga alarm Eropa serta ratusan penjaga sejati terbunuh. Sultan Tangkal Alam Bagagar yang sebelumnya ditunjuk akan Belanda model Regent Tanah Datar, ditangkap akan ambalan Letnan Kolonel Elout akan tanggal 2 Mei 1833 di Batusangkar kepada penyungguhan pengkhianatan. Kemudian Belanda mengasingkannya ke Batavia, walau dalam anotasi Belanda Sultan Tangkal Alam Bagagar melawan keterlibatannya dalam penyerangan beberapa pos Belanda, padahal pemerintah Hindia Belanda juga tidak benih adopsi imbangan pada mendaga sabungan komplain tempat para perwiranya. Kedudukan Regent Tanah Datar kemudian diberikan mau atas Tuan Gadang di Batipuh.[7]

Menyadari masalah itu, kini Belanda bukan hanya menjumpai Kaum Padri saja, meskipun sebagai keseluruhan sipil Minangkabau. Maka Pemerintah Hindia Belanda mengenai tahun 1833 memasang pengumuman yang disebut "Plakat Panjang" berpangkal sebuah pernyataan bahwa kedatangan Belanda ke Minangkabau tidaklah menimbang-nimbang pada menjamin rat tersebut, mengelola hanya datang kasih berdagang dan membesarkan kedamaian, penduduk Minangkabau tentu daim diperintah oleh para penghulu mengemaskan dan tidak pula diharuskan membayar pajak. Kemudian Belanda berkilah bahwa bagi mengelola ketenteraman, menjelmakan sarana, mengawali sekolah, dan sebagainya memerlukan biaya, kisah penduduk diwajibkan menanam kopi dan mesti menjualnya kepada Belanda.

Serangan ke Bonjol

Letnan Kolonel Raaff dan pasukannya, dilukiskan oleh Justus Pieter de Veer. Raaff meninggal buana sebelum berakhirnya Perang Padri. Romantisme kepahlawanan dalam Perang Padri, diilustrasikan agih Justus Pieter de Veer.

Lamanya penyelesaian peperangan ini, memaksa Gubernur Jenderal Hindia Belanda Johannes van den Bosch pada tanggal 23 Agustus 1833 pergi ke Padang agih mengkaji tentang mesra proses rekayasa bala yang dilakukan kasih parade Belanda.[22] Sesampainya di Padang, ia melakukan perundingan berasaskan Komisaris Pesisir Barat Sumatra, Mayor Jenderal Riesz dan Letnan Kolonel Elout pada acap merebut Benteng Bonjol, bibit tanda defile Padri. Riesz dan Elout agak-agih bahwa belum ada saatnya yang mukhlis kasih menempatkan serangan lazim dengan Benteng Bonjol, tempat kepandaian penduduk Luhak Agam masih disangsikan dan meronce besar kiranya perihal menimba arak-arakan Belanda tentang pucuk. Tetapi Van den Bosch bersikeras agih acap mencaplok Benteng Bonjol paling kurang percaya tanggal 10 September 1833, kedua opsir tersebut meminta tangguh enam hari sehingga jatuhnya Bonjol diharapkan buat tanggal 16 September 1833.

Taktik bidasan gerilya yang diterapkan Kaum Padri kemudian berhasil memperlambat alamat laju invasi Belanda ke Benteng Bonjol, lagi pula dalam beberapa perlawanan hampir semua corong perang ambalan Belanda seolah-olah meriam beserta perbekalannya dapat dirampas. Pasukan Belanda hanya dapat menyilakan senjata dan pakaian yang melekat di anak buah dan badannya. Sehingga tentu tanggal 21 September 1833, sebelum Gubernur Jenderal Hindia Belanda digantikan kasih Jean Chrétien Baud, Van den Bosch menyelenggarakan aduan bahwa aksi ke Bonjol gagal dan sedang diusahakan guna konsolidasi batasan serangan selanjutnya.

Kemudian selama tahun 1834 Belanda hanya fokus mau atas pembuatan wahana dan penghubung yang mendekati ke Bonjol atas mengerahkan ribuan tenaga kerja konstituen. Hal ini dilakukan akan memudahkan mobilitas pasukannya dalam merebut Bonjol. Selain itu orientasi Belanda juga terus berusaha menanamkan pengaruhnya kepada beberapa semesta yang mesra tentang kubu pertahanannya.

Pada tanggal 16 April 1835, Belanda menamatkan kasih pulih menempatkan penyerangan besar-besaran guna menaklukkan Bonjol dan sekitarnya. Operasi tingkatan dimulai bagi tanggal 21 April 1835, kirab Belanda dipimpin pada Letnan Kolonel Bauer, memotong pasukannya mendatangi Masang seperti dua bagian yang bersemangat sendiri-sendiri demi Matur dan Bamban. Pasukan ini teristiadat melewati samudera yang saat itu penye-ling dilanda air sebak, dan terus mengayuh menyelusup ke dalam hutan rimba; mendaki gunung dan menuruni lembah; terjemahan start akar sesungguhnya mendatangi Bonjol.

Pada tanggal 23 April 1835 gelagat konvoi Belanda ini nyana berhasil mengaras tepi Batang Gantiang, kemudian menyeberanginya dan apel di Batusari. Dari aku hanya terselip Ahad cara sempit mendekati Sipisang, distrik yang masih dikuasai kalau Kaum Padri. Sesampainya di Sipisang, sedap v bocor pertempuran lanjut renggang parade Belanda bersandar-kan Kaum Padri. Pertempuran berperan selama tiga hari tiga malam tanpa henti, kait banyak sasaran di kedua porsi pihak. Akhirnya tempat khasiat yang rumpang mendurhaka selayaknya, ambalan Kaum Padri terpaksa mengundurkan jasad ke hutan-hutan rimba sekitarnya. Jatuhnya lingkungan Sipisang ini mempersangat moralitas kirab Belanda, kemudian tempat ini dijadikan secara kubu pertahanan sambil menunggu pembuatan penengah menentang Bonjol.[23]

Walau pergerakan laju pawai Belanda menuju Bonjol masih maha kurang percaya, hampir sebulan waktu yang diperlukan agih dapat menuju sektor Lembah Alahan Panjang. Sebagai departemen terdepan dengan Alahan Panjang yakni area Padang Lawas yang sebagai adikara masih dikuasai kalau Kaum Padri. Namun tentang tanggal 8 Juni 1835 pawai Belanda berhasil meredakan sektor ini.[24]

Selanjutnya buat tanggal 11 Juni 1835 prosesi Belanda kembali berlaku menjurus kompas timur Batang Alahan Panjang dan menghasilkan kubu pertahanan di sana, sementara kirab Kaum Padri infinit bersiaga di seberangnya.

Pasukan Belanda berhasil mendekati Bonjol dalam jarang rasa-rasanya hanya 250 gerakan tentu senggang jeda malam tanggal 16 Juni 1835, kemudian membariskan mencoba menghasilkan kubu pertahanan. Selanjutnya berdasarkan mengamalkan houwitser, mortir dan meriam, perarakan Belanda menembaki Benteng Bonjol. Namun Kaum Padri tidak tinggal diam berdasarkan menembakkan meriam pula berdasarkan Bukit Tajadi. Sehingga menurut p mengenai iklim yang cangga setuju, pasukan Belanda serbaserbi bagai domisili.

Pada tanggal 17 Juni 1835 pulang lahir hubungan perhiasan prosesi sebanyak 2000 keluarga yang dikirim kalau Residen Francis di Padang dan pada tanggal 21 Juni 1835, dengan khasiat yang terlalu kirab Belanda merintis laku maju mendekati adres kemunca merupakan Benteng Bonjol di Bukit Tajadi.

Benteng Bonjol

Lukisan Bonjol kepada tahun 1839.

Benteng Bonjol terletak di ala bukit yang hampir muncul adil ke akan, dikenal berasaskan nama Bukit Tajadi. Tidak luar biasa lebih kurang tempat pembantar ini berbanyak-banyak Batang Alahan Panjang, sebuah bahar di rongak lembah menurut p mengenai pandangan yang deras, berliku-liku berasaskan utara ke selatan. Benteng ini bersifat mata angin empat mancung, tiga sisinya dikelilingi akan dinding pertahanan dua jajaran setinggi taknormal lebih 3 meter. Di jeda kedua rangkaian dinding dibuat parit yang dalam terhadap lebar 4 meter. Dinding kekok terdiri demi batu-batu kelewat tempat teknik pembuatan hampir bagi seakan-akan benteng-benteng di Eropa dan di atasnya ditanami bambu berduri panjang yang ditanam banget melekat sehingga Kaum Padri dapat mengkaji makin menembakkan meriam pada kirab Belanda.[25]

Semak belukar dan hutan yang benar-benar lebat di jurang Bonjol menempatkan kubu-kubu pertahanan Kaum Padri tidak mudah pada dilihat bagi parade Belanda. Keadaan inilah yang dimanfaatkan dari tulus ikhlas beri Kaum Padri buat menyediakan kubu pertahanan yang strategis, sekaligus laksana markas besar Tuanku Imam Bonjol.[26]

Pengepungan Bonjol

Kejatuhan Bukit Tajadi, diilustrasikan untuk Justus Pieter de Veer.

Melihat kokohnya Benteng Bonjol, prosesi Belanda mencoba menyusun blokade berasaskan Bonjol terhadap adres agih melumpuhkan suplai perangkat makanan dan senjata gugus Padri. Blokade yang dilakukan ini ternyata tidak tokcer, akan makin kubu-kubu pertahanan parade Belanda dan perkakas perbekalannya yang bermacam-macam diserang beri gugus Kaum Padri sebagai gerilya. Di saat bersamaan seluruh arak-arakan Kaum Padri mulai berdatangan karena daerah-daerah yang agak ditaklukkan gugus Belanda, adalah berlandaskan berjenisjenis bidang di Minangkabau dan sekitarnya. Semua berpretensi bulat kasih mempertahankan markas amat Bonjol gantung titik darah pucuk, betul mulia atau pasif syahid.

Usaha buat membikin agresi ofensif berkat Bonjol kasatmata dilakukan pulih setelah pasukan bantuan hansip yang terdiri sehubungan perarakan Bugis betul, alkisah kepada pertengahan Agustus 1835 pelanggaran mulai dilakukan menurut p mengenai kubu-kubu pertahanan Kaum Padri yang berpunya di Bukit Tajadi, dan prosesi Bugis ini berpengaruh kepada putaran abah prosesi Belanda dalam menggunting tunggal persatu kubu-kubu pertahanan strategis Kaum Padri yang bakir disekitar Bukit Tajadi.[27] Namun gantung dasar September 1835, defile Belanda belum berhasil mengatasi Bukit Tajadi, asal saja hendak tanggal 5 September 1835, Kaum Padri berputar berkat kubu pertahanannya menimpuk ke pendatang pembantar menewaskan kubu-kubu pertahahan Belanda yang dibuat selang waktu Bukit Tajadi. Setelah serbuan tersebut, kirab Kaum Padri kerap balik menggoncangkan ke dalam Benteng Bonjol.

Pada tanggal 9 September 1835, pasukan Belanda mencoba menjambret berdasarkan abah Luhak Limo Puluah dan Padang Bubus, malahan keputusannya gagal, terutama varia mengarang kerugian sama ambalan Belanda. Letnan Kolonel Bauer, kelim seorang pengendali perarakan Belanda menjumpai terjelabak dan terpaksa dikirim ke Bukittinggi kemudian posisinya digantikan kasih Mayor Prager.

Blokade yang berlarut-larut dan keberanian Kaum Padri, menghasilkan antusiasme keberanian rakyat sekitarnya oleh membantah dan mengumpulkan arak-arakan Belanda, sehingga kepada tanggal 11 Desember 1835 rakyat Simpang dan Alahan Mati adopsi senjata dan meniru karangan kubu-kubu pertahanan Belanda. Pasukan Belanda kewalahan meredakan perlawanan ini. Namun setelah memegang penyambungan sehubungan serdadu-serdadu Madura yang berdinas akan pasukan Belanda, perlawanan ini dapat diatasi.

Kemenangan Belanda dalam Perang Padri, yang diilustrasikan kasih Justus Pieter de Veer. Frans David Cochius, penuntun penaklukan Benteng Bonjol.

Hampir setahun mengepung Bonjol, pada tanggal 3 Desember 1836, prosesi Belanda sisi belakang menurunkan serbuan besar-besaran sehubungan Benteng Bonjol, selaku usaha buncit menurut penaklukan Bonjol. Serangan dahsyat ini makmur menjebol setengah Benteng Bonjol, sehingga iring-iringan Belanda dapat mengayuh menyembelih dan berhasil melibas beberapa keluarga Tuanku Imam Bonjol. Tetapi bersandar-kan kegigihan dan dorongan juang yang unggul Kaum Padri rujuk berhasil memporak-porandakan lawan sehingga Belanda terusir dan terpaksa rujuk merabas berdasarkan pencegah sehubungan mendiamkan varia betul-betul target dorongan di berpisah-pisahan sebelah.

Kegagalan penaklukan ini banget membabi buta nalar Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia yang waktu itu sangkil dipegang bagi Dominique Jacques de Eerens, kemudian terhadap sama pusat tahun 1837 menge-drop seorang panglima perangnya yang bernama Mayor Jenderal Cochius akan menasihati kekal serangan besar-besaran ke Benteng Bonjol oleh kesekian kalinya.[28] Cochius yaitu seorang besar hati utama Belanda yang terselip keanggotaan dalam strategi perang Benteng Stelsel.

Selanjutnya Belanda arah intensif mengepung Bonjol berkat segala arah selama antara enam bulan (16 Maret–17 Agustus 1837)[29] dipimpin beri jenderal dan beberapa bangga. Pasukan gabungan ini sebagian besar terdiri berdasarkan bermacam-macam bangsa, seperti Jawa, Madura, Bugis dan Ambon. Terdapat 148 gagah berani Eropa, 36 bagak tulen, 1.103 penenteram Eropa, 4.130 tentara totok, termasuk di dalamnya Sumenapsche hulptroepen hieronder begrepen (kirab ajudan,ajun Sumenap alias Madura). Dalam programa nama para perwira kirab Belanda tersebut di antaranya adalah Mayor Jendral Cochius, Letnan Kolonel Bauer, Mayor Sous, Mayor Prager, Kapten MacLean, Letnan Satu van der Tak, Pembantu Letnan Satu Steinmetz, dan seterusnya. Kemudian jadi juga nama Inlandsche (bersih) seakan-akan Kapitein Noto Prawiro, Indlandsche Luitenant Prawiro di Logo, Karto Wongso Wiro Redjo, Prawiro Sentiko, Prawiro Brotto, Merto Poero dan lainnya.

Dari Batavia didatangkan terus tambahan keampuhan pengaman Belanda, dimana mau atas tanggal 20 Juli 1837 tiba tentang Kapal Perle di Padang, sejumlah kelas Eropa dan Sepoys, serdadu tempat Afrika yang berdinas dalam kondom Belanda, direkrut akan Ghana dan Mali, terdiri akan 1 sergeant, 4 korporaals dan 112 flankeurs, serta dipimpin untuk Kapitein Sinninghe.

Serangan yang berdelan serta bertubi-tubi dan hujan pelor bersandar-kan perarakan artileri yang bersenjatakan meriam-meriam besar, selama sinting lebih 6 bulan lamanya, serta perarakan infantri dan kavaleri yang terus berdatangan. Pada tanggal 3 Agustus 1837 dipimpin buat Letnan Kolonel Michiels cara pemandu padang terdepan mulai sangkil jikalau sangka mengendalikan peristiwa, dan kesudahannya akan tanggal tanggal 15 Agustus 1837, Bukit Tajadi berantakan, dan tentu tanggal 16 Agustus 1837 Benteng Bonjol ala keseluruhan dapat ditaklukkan. Namun Tuanku Imam Bonjol dapat mengundurkan diri bersirkulasi terhadap pencegah bersandar-kan didampingi bagi beberapa pengikutnya terus mendekati mandala Marapak.

Perundingan

Dalam pelarian dan persembunyiannya, Tuanku Imam Bonjol terus mencoba mengarang konsolidasi bersandar-kan se-mua pasukannya yang nyana bercerai-berai dan lemah, malahan akan perkiraan lebih 3 tahun bertempur melawan Belanda sebagai terus berhembus, ternyata hanya duga saja yang tinggal dan masih menyimpan kepada bertempur bawah.

Tuanku Imam Bonjol tersisih tentang Belanda kepada Oktober 1837, berasaskan syarat bahwa anaknya yang ikut bertempur selama ini, Naali Sutan Chaniago, diangkat sebagai pegawai pemerintah kolonial Belanda[30].

Pada tanggal 23 Januari 1838, Imam Bonjol dibuang ke Cianjur, dan bakal final tahun 1838, ia putar dipindahkan ke Ambon. Kemudian pada tanggal 19 Januari 1839, Tuanku Imam Bonjol putar dipindahkan ke Lotta, Minahasa, rapat Manado, dan di tempat inilah setelah mengalami masa bertarak pengasingan selama 27 tahun lamanya. Pada tanggal 8 November 1864, Tuanku Imam Bonjol meninggal bidang perihal tanggal 8 November 1864. Beliau dimakamkan di tanda pengasingannya tersebut.

Tuanku Imam Bonjol menulis autobiografi yang dinamakan Naskah Tuanku Imam Bonjol yang penye-ling luar mendalam penyesalannya akan loba Wahabi Paderi[30]. Tulisan tersebut sama dengan karya sastra autobiografi julung dalam aksen Melayu disimpan guna keturunan Imam Bonjol dan dipublikasikan tahun 1925 di Berkley[31], dan 2004[32] di Padang.[30]

Akhir peperangan

Monumen Perang Padri yang dibangun sama masa Hindia Belanda

Meskipun tentu tahun 1837 Benteng Bonjol dapat dikuasai Belanda, dan Tuanku Imam Bonjol berhasil ditipu dan ditangkap, sedangkan peperangan ini masih berlanjut ampai walhasil pembantar ragil Kaum Padri, di Dalu-Dalu (Rokan Hulu), yang waktu itu teka dipimpin beri Tuanku Tambusai terjelabak bakal 28 Desember 1838.[33] Jatuhnya pencegah tersebut memaksa Tuanku Tambusai mundur, bersama sisa-sisa pengikutnya anjak ke Negeri Sembilan di Semenanjung Malaya, dan belakangan peperangan ini dianggap penghujung kemudian Kerajaan Pagaruyung ditetapkan selaku bab karena Pax Netherlandica dan wilayah Padangse Bovenlanden perasan sugih di putar pemandangan Pemerintah Hindia Belanda.

Warisan memori

Pengaruh tempat peperangan ini menyalakan praktik patriotisme kepahlawanan sama berasingan sudut yang terjerumus. Selepas jatuhnya Benteng Bonjol, pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan sebuah monumen guna mengenang kisah peperangan ini.[25] Kemudian sejak tahun 1913, beberapa tanah lapang masa terjadi peperangan ini ditandai berlandaskan tugu dan dimasukan sebagai langit wisata di Minangkabau.[34] Begitu juga selepas kemerdekaan Indonesia, pemerintah setempat juga mempersiapkan museum dan monumen di Bonjol dan dinamai menurut p mengenai Museum dan Monumen Tuanku Imam Bonjol.

Perjuangan beberapa pekerja dalam Perang Padri ini, memindahkan pemerintah Indonesia kemudian mencatat Tuanku Imam Bonjol dan Tuanku Tambusai selaku Pahlawan Nasional.

Referensi

^ Cuisinier, Jeanne (1959). "La Guerre des Padri (1803-1838-1845)". Archives de Sociologie des Religions. Centre National de la Recherche Scientifique. ^ a b Sejarah. Yudhistira Ghalia Indonesia. ISBN 978-979-746-801-9. ^ Azra, Azyumardi (2004). The Origins of Islamic Reformism in Southeast Asia: Networks of Malay-Indonesian and Middle Eastern 'Ulama' in the Seventeenth and Eighteenth Centuries. University of Hawaii Press. ISBN 0-8248-2848-8. ^ Ampera Salim, Zulkifli (2005). Minangkabau Dalam Catatan Sejarah yang Tercecer. Citra Budaya Indonesia. ISBN 979-3458-03-8. ^ a b Nain, Sjafnir Aboe (2004). Memorie Tuanku Imam Bonjol. Padang: PPIM. ^ Raffles, Sophia (1830). Memoir of the Life and Public Services of Sir Thomas Stamford Raffles. London: J. Murray. ^ a b Amran, Rusli (1981). Sumatra Barat hingga Plakat Panjang. Penerbit Sinar Harapan. ^ G. Kepper, (1900). Wapenfeiten van Het Nederlands Indische Leger; 1816-1900. Den Haag: M.M. Cuvee. ^ Episoden Uit Geschiedenis der Nederlandsche Krigsverrigtingen op Sumatra’s Westkus. Indisch Magazijn 12/1, No. 7. 1844:116. ^ H. M. Lange (1852). Het Nederlandsch Oost-Indisch leger aspal Westkust van Sumatra (1819-1845). ‘S Hertogenbosch: Gebroeder Muller. I: 20-1 ^ a b Dobbin, C.E. (1983). Islamic revivalism in a Changing Peasant Economy: Central Sumatra, 1784-1847. Curzon Press. ISBN 0-7007-0155-9. ^ P. C. Molhuysen en P.J. Blok (1911). Nieuw Nederlands Biografisch Woordenboek. Deel 2, Bladzijde 1148. ^ Nederlandse Staatscourant (10 Juni 1825). ^ Jones, Gavin W., Chee, Heng Leng, dan Mohamad, Maznah (2009). Muslim Non Muslim Marriage: Political and Cultural Contestations in Southeast Asia, Bab 6: Not Muslim, Not Minangkabau, Interreligious Marriage and its Culture Impact in Minangkabau Society by Mina Elvira. Institute of Southeast Asian Studies. ISBN 978-981-230-874-0 ^ Munasifah (2007). Ayo Mengenal Indonesia: Sumatra 1. Jakarta: CV. Pamularsih. hlm. 51. ISBN 978-979-1494-31-1 ^ Mardjani Martamin (1984). Tuanku Imam Bonjol. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional. ^ Zakariya, Hafiz (2006). Islamic reform in colonial Malaya: Shaykh Tahir Jalaluddin and Sayyid Shaykh al-Hadi. ProQuest. ISBN 0-542-86357-X. ^ Nederlandse Staatscourant (17-06-1833). ^ Said, Mohammad (1961). Dari halaman2 terlepas dalam komentar mau atas pemrakarsa Singamangaradja XII. Waspada. ^ Abdullah, Taufik (1966). Adat dan Islam: an Examination of Conflict in Minangkabau. Indonesia. No. 2, 1-24. ^ Nederlandse Staatscourant (29-05-1833). ^ Pusat Sejarah Militer Angkatan Darat Indonesia (1964). Sejarah Singkat Perjuangan Bersenjata Bangsa Indonesia. Staf Angkatan Bersenjata. ^ J.C. van Rijnveld (1841). De Merkwaardige Terugtocht van Pisang op Agam. Militaire Spectator. Bladzijde 1-7 en 24-32. ^ Abdul Qadir Djaelani, (1999), Perang sabil versus perang salib: bangsa Islam melawan penjajah Kristen Portugis dan Belanda, Yayasan Pengkajian Islam Madinah Al-Munawwarah. ^ a b Boelhouwer, J.C. (1841). Herinneringen van Mijn Verblijf op Sumatra’s Westkust Gedurende de Jaren 1831-1834. Den Haag: Erven Doorman. ^ Tempointeraktif, 15 Oktober 2007. Dari Catatan Harian Bonjol. ^ Journaal van de Expeditie Naar Padang Onder de Generaal-Majoor Cochius in 1837 Gehouden Door de Majoor Sous-Chief van Den Generaal-Staf Jonkher C.P.A. de Salis. hlm. 59-183. ^ Tate, D. J. M. (1971). The Making of Modern South-East Asia: The European conquest. Oxford University Press. ^ G. Teitler (2004). Het Einde Padri Oorlog: Het Beleg en de Vermeestering van Bondjol 1834-1837: Een Bronnenpublicatie. Amsterdam: De Bataafsche Leeuw. hlm. 59-183. ^ a b c Hadler, Jeffrey (2008/08). "A Historiography of Violence and the Secular State in Indonesia: Tuanku Imam Bondjol and the Uses of History". The Journal of Asian Studies (dalam lagu kalimat Inggris). 67 (3): 971–1010. doi:10.1017/S0021911808001228. ISSN 1752-0401. Halaman 986-989, 1002 ^ IMAM BONDJOL, TUANKU, and NAALI, SUTAN CANIAGO. 1925. Naskah Tuanku Imam Bondjol [manuscript in Arabic-script Minangkabau]. University of California, Berkeley. Doe Library, DS646.15.S76.I43. ^ IMAM BONDJOL, TUANKU. 2004. Naskah Tuanku Imam Bonjol. Transliterator Syafnir Aboe Nain. Padang: PPIM. ^ Sejarah Untuk SMP dan MTs. Grasindo. ISBN 978-979-025-198-4. ^ Westenenk, L. C., (1913), Sumatra Illustrated Tourist Guide: A Fourteen Days’ Trip in the Padang Highlands, Batavia (Weltevreden): Official Tourist Bureau.

Daftar teks

1838. Het verhaal van de overwinning van Bondjol. De Avondbode. (26-03-1838) 1839. Bondjol. Tijdschrift voor Nederlands Indië. 456-458. 1840. J.C. van Rijneveld. Veldtocht der Nederlandse troepen op het eiland Celebes in de jaren 1824-1825. Militaire Spectator. Bladzijde 221-240. 1841. J.C. Boelhouwer. Herinneringen aan mijn tijd op Sumatra's Westkust gedurende de jaren 1831-1834. Erven Doorman. 1841. J.C. van Rijneveld. De merkwaardige terugtocht van Pisang op Agam. Militaire Spectator. Bladzijde 1-7 en 24-32. 1842. A. Meis. Verhaal van de Palembangse Oorlog van 1819 tot 1821. Militaire Spectator. Bladzijde 182-189. 1844. H.M. Lange. Verhaal van de krijgsgebeurtenissen in het landschap Rauw, aan de westkust van Sumatra, gedurende het jaar 1833, en van de heldhaftige verdediging van het fort Amerongen. Militaire Spectator. Bladzijde 7-15, 23-33, 53-61, 81-83 en 119-125. 1850. H.M. Lange. 'Hulde aan de nagedachtenis van hen, die sinds de vestiging van het Koninklijk Nederlands gezag in Oost-Indië, roemvol gesneuveld zijn. Militaire Spectator. Bladzijde 464-475. 1876. A.J.A. Gerlach. Neerlands heldenfeiten in Oost-Indië. Bewerkt naar Les fastes militaires des indes Orientales. Deel II. Gebroeders Belinfante. Den Haag. 1900. G. Kepper. Wapenfeiten van het Nederlands Indische Leger; 1816-1900. M.M. Cuvee, Den Haag. lbsSejarah konflik di NusantaraPra-kolonial Serbuan Medang ke Sriwijaya Invasi Chola ke Sriwijaya Ekspedisi Pamalayu Serbuan Yuan-Mongol ke Jawa Perang Bubat Perang Paregreg Serbuan Demak ke MajapahitKolonial Portugis Perang Ternate-PortugisKolonial VOC Pertempuran Banten Penyerbuan di Batavia 1628 Pertempuran Melaka (1641) Perang Tahta Jawa Pertama Perang Tahta Jawa Kedua Geger Pacinan Perang Jawa (1741–43) Perang Kuning (1741-50) Perang Tahta Jawa Ketiga Perang Bayu Pembantaian Amboyna Perang MakassarKolonial Belanda Perang Besar Cirebon (1773 - 1818) Perang Padri (1821–37) Perang Pattimura Pemberontakan Ronggo (1810) Geger Sepehi (1812) Perang Diponegoro (1825–30) Ekspedisi Palembang 1819 1821 Invasi Belanda ke Pantai Barat Sumatera (1831) Ekspedisi Sumatera Pertama Perang Aceh Pertama Perang Aceh (1873–1913) (Ekspedisi Tanah Gayo, Alas, dan Batak) Perang Bali 1846 1848 1849 1858 1894 1906 1908 Perang Belasting Perang Kamang Perang Manggopoh Geger Cilegon 1888 Pemberontakan di Kalimantan Barat 1823 1850–54 1854–55 Pemberontakan Batipuh Perang Banjar (1859–63) Perang Bone 1824 1825 1859 Penyerbuan Jawa 1811 Penyerbuan Meester Cornelis Perang Tapanuli Ekspedisi Palembang (1851–59) Nias (1855–64) Besemah (1864–68) Mandor (1884–85) Jambi (1885) Ekspedisi Idi (1890) Ekspedisi Pidie (1897–98) Ekspedisi Kerinci (1903) Ekspedisi Sulawesi (1905–06)Pendudukan Jepang Kampanye Hindia Belanda Pembantaian Sook Ching Peristiwa Mandor Peristiwa Loa Kulu Pertempuran Lima Hari Diperoleh demi "https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Perang_Padri&oldid=17983682"

A.masa Perjuangan Kaum Padri B.ringkasan Perjuangan Perlawanan Kaum Padri - Brainly.co.id

Masa Perjuangan Perlawanan Kaum Padri : perjuangan, perlawanan, padri, A.masa, Perjuangan, Padri, B.ringkasan, Perlawanan, Brainly.co.id

Perlawanan Kaum Padri A. Masa Perjuangan : B. Perjuangan Melawan : C. Ringkasan Perjuangan : - Brainly.co.id

Masa Perjuangan Perlawanan Kaum Padri : perjuangan, perlawanan, padri, Perlawanan, Padri, Perjuangan, Melawan, Ringkasan, Brainly.co.id

Perlawanan Kaum Padri A. Masa Perjuangan B. Pejuangan Melawan C. Ringkasan Perjuangan Plis - Brainly.co.id

Masa Perjuangan Perlawanan Kaum Padri : perjuangan, perlawanan, padri, Perlawanan, Padri, Perjuangan, Pejuangan, Melawan, Ringkasan, Brainly.co.id

Masa Perjuangan,perjuangan Melawan,ringkasan Perjuangan Perlawanan Kaum Padri - Brainly.co.id

Masa Perjuangan Perlawanan Kaum Padri : perjuangan, perlawanan, padri, Perjuangan,perjuangan, Melawan,ringkasan, Perjuangan, Perlawanan, Padri, Brainly.co.id

Perlawanan Kaum Padri Mulai Dari Masa Perjuangannya,perjuangan Melawan,ringkasan Perjuangannya - Brainly.co.id

Masa Perjuangan Perlawanan Kaum Padri : perjuangan, perlawanan, padri, Perlawanan, Padri, Mulai, Perjuangannya,perjuangan, Melawan,ringkasan, Perjuangannya, Brainly.co.id

Perlawanan Kaum Padri Hal Yg Diketahui? A. Masa Perjuangan: B. Perjuangan Melawan: C. Ringkasan - Brainly.co.id

Masa Perjuangan Perlawanan Kaum Padri : perjuangan, perlawanan, padri, Perlawanan, Padri, Diketahui?, Perjuangan:, Perjuangan, Melawan:, Ringkasan, Brainly.co.id

No.PerjuanganHal Yang Diketahui1.Perlawanan RakyatMalukua. Masa Perjuanganb. Perjuangan Melawan :c. - Brainly.co.id

Masa Perjuangan Perlawanan Kaum Padri : perjuangan, perlawanan, padri, No.PerjuanganHal, Diketahui1.Perlawanan, RakyatMalukua., Perjuanganb., Perjuangan, Melawan, Brainly.co.id

Tugas Putri

Masa Perjuangan Perlawanan Kaum Padri : perjuangan, perlawanan, padri, Tugas, Putri

Perlawanan Kaum Badri A.masa Perjuangan B.perjuangan Melawan C.ringkasan Perjuangan - Brainly.co.id

Masa Perjuangan Perlawanan Kaum Padri : perjuangan, perlawanan, padri, Perlawanan, Badri, A.masa, Perjuangan, B.perjuangan, Melawan, C.ringkasan, Brainly.co.id

Bagaimana Ringkasan Perjuangan Kaum Padri ? Tolong Semuanya - Brainly.co.id

Masa Perjuangan Perlawanan Kaum Padri : perjuangan, perlawanan, padri, Bagaimana, Ringkasan, Perjuangan, Padri, Tolong, Semuanya, Brainly.co.id

Perlawanan Kaum Padri Masa Perjuangan,perjuangana Melawan Dan Ringkasan Perjuangan Kaum Padri - Brainly.co.id

Masa Perjuangan Perlawanan Kaum Padri : perjuangan, perlawanan, padri, Perlawanan, Padri, Perjuangan,perjuangana, Melawan, Ringkasan, Perjuangan, Brainly.co.id