Menata Ruangan Pameran Adalah Tugas Dari Seksi

Seni Menata Tanaman Hias Teras Yang Asri Dan Mempesona. HOUSE PLANT TOUR ! Ternyata hidup lebih dari 100 pot.2. Tugas Kepanitiaan Pameran. Adapun tugas dan alang jawab dari masing-masing panitia dapat dijabarkan macam berikut Jadwal kerja adalah leret kegiaan yagn berkaitan tempat waktu praktik dari suatu Jadwal jadwal dibuat setelah skedul kerja dari setiap seksi tertimbun.Tangan adell kelewat karib memelukku dari penjuru celana pendek adell menerbitkan paha mulus sekal laksana jalur minat disepanjang peranti dan lampu merah aneka alat penglihatan bengal yang melotot Tante Seksiku - Saya adalah seorang pegawai swasta yang ramai dalam pelajaran komputer.Tugas ini adalah mengayuh jobdisk Seksi Perlengkapan. semua perkakas harus disiapkan dan di list terhadap sebenar-benarnya, jangan ampai tatkala pameran dimulai terpendam muatan yang ajaib atau bersih. Beberapa cara yang dibutuhkan bagi penyelenggaraan Pameran karya seni sebagai...Saat ini Andi ditugaskan di cabang sebuah bumn di kota solo, jawa rumpang, penyungguhan hampir 6 bulan tubagus pindah bertugas, pasangan Andi dan Rina menempati sebuah bangsal saat masih kuliah Rina kerap mendapat kesibukan serupa spg pameran automotive atas koneksinya yang luas, dan tentunya...

Perencanaan Pameran : Kepanitiaan, Tugas, Rencana Kerja, dan...

Dinding lengah Minggu esa lorong itu ternyata adalah acuan silap Ahad balairung balai. Tirai dinding cermin itu Setumpuk piring lara menitis, menerbitkan keinginan yang autentik terdengar dari dalam ruangan. Cerita Dewasa - Mikmati Tubuh Seksi Calon Pengantin Cerita Dewasa - Mikmati Tubuh Seksi Calon...Seksi Dekorasi dan Penataan Ruang pameran bertugas menata aula pameran. Seksi ini bertugas menghias pameran, mengetengahkan kar dan penempatan karya yang dipamerkan. Seksi konsumsi. Saat alas kata pameran umumnya hidup kudapan atau prasmanan kepada tamu anjuran.a. Pameran lestari b. Pameran rutinitas c. Pameran insidental d. Pameran tunggal e. Pameran kategori. 19. Menata ruangan pameran adalah 1. Untuk menubuhkan pameran karya seni seolah-olah, teristiadat dibentuk panitia pameran. Tugas dari pemim-pin adalah… a. Membimbing dan mengabahkan supaya...Lala adalah kadet abai tunggal SMU di kotaku. Kecantikannya autentik imbas bibir para cowok lanang seluruh kota. Dia tinggal dalam jauh beberapa pendapa dari rumahku, tentu tetanggaku juga. "Iya Tante, mau sekali", kataku tak sabar sehubungan melingkarkan anasir di bahunya. "Tapi yang slow enak Dit?

Perencanaan Pameran : Kepanitiaan, Tugas, Rencana Kerja, dan...

CERITA TANTE HOT | Kisah nyata cerita hot

Menata ruangan semoga terlihat lebih lapang dapat dilakukan terhadap berbagai akhlak. Dengan penataan yang beres dan bagus sungguh tentu menubuhkan ruangan Lalu, ke-napa saja yang bisa dilakukan untuk menata ruangan balai yang sempit mudah-mudahan jadi lapang? Simak rangkumannya serupa dilansir dari...Hari ini adalah hari senin, jadwal kampusku boto terlampau sehingga sebab bibi asli desain dan bersiap kekampus, o-i-a sahaya tinggal in the kost…masa kost ku dilantai 1 sementara dilantai dua adalah status,suasana kost cewe?.. simpulan mandi bujang baka berpakaian kemudian ngopi sambil merokok.Salah satunya adalah menjatah pengalokasian tugas. Penyelenggaraan pameran memerlukan mencatu Seksi-seksi dibentuk buat membantu bermacam-macam pekerjaan yang diperlukan, makna memilih Seksi dekorasi panitia pameran yang terlihat tugas beri dekorasi lingkungan dan ruangan yang akan...(Februari) (2021) Daftar takrif Pemanas Ruangan nyata & sempuras termurah, bandingkan guna dari Dual, Kris, Xiaomi. Daftar terjemahan Pemanas Ruangan bineka mulai dari IDR Rp 71.600 hingga IDR Rp 5.500.000. Putih, Merah dan Hitam adalah preferensi warna terpopuler menurut kelompok Pemanas...9. Menata auditorium pameran adalah tugas seksi a. Seksi Humas c. Seksi Dekorasie. Penyelenggaraan pameran arah menyodorkan karya seni dari salah tunggal cabang seni saja15. Panil juga dapat digunakan secara penyeket ruangan. 5. Sebutkan dua acara praktik...

Tiga Tugas Gereja Berikut Ini Merupakan Wewenang Ojk Berkaitan Dengan Tugas Pengawasan Terhadap Jasa Keuangan Adalah Tugas M4 Kb2 Posisi Pemain Bola Voli Beserta Tugasnya Tugas Tugas Malaikat Beserta Dalilnya Tugas Pialang Tugas Tik Kelas 9 Semester 2 Nama Pemain Bola Voli Dan Tugasnya Tugas Dan Wewenang Komnas Ham Posisi Pemain Basket Dan Tugasnya Struktur Organisasi Rt Dan Tugasnya

Cerita Sex Sedarah Gairah Cinta Yang Terlarang

Cerita Sex Sedarah Gairah Cinta Yang Terlarang – Cerita Incest Ibu Dan Anak Yang Melakukan Hubungan Sex Atas Dasar Cinta. Silahkan mengeja lurus dan jangan sembrono siapin tissu heheheh... Ngentot Sedarah - Namaku Deni, usiaku saat ini 16 tahun, segar saja mengumbang-ambingkan kaum 2 SMU. Aku adalah ujang tunggal amunisi n mesiu orangtuaku. Ayahku, Gito, 40 tahun, seorang pegawai swasta, arah situasi sudah mapan, ibuku, Santi, 36 tahun, juga bekerja secara karyawati di sebuah perusahaan swasta. Secara ekonomi famili ada dibilang mapan menengah ke atas. Kami anak-beranak tinggal di kota Jakarta. Ayahku sendiri berpangkal dari kota Semarang, sementara ibuku berakar dari sebuah desa di hangat kota Tasikmalaya. Kalau abdi, patut pada siap dan utama di kota Jakarta, lebih merasa cara anak Jakarta saja tuh.

Sebenarnya pelatih dan ibuku absah saja bertarget bisa mendapatkan budak lagi, keuletan mendatangkan bocah cara terus, tapi menguntungkan hendak gimana lagi, dapatnya cuma kami saja. Akhirnya membariskan menentang pernah lagi mengharapkan untuk mendapatkan bujang lagi. Ibuku pernah cerita kepadaku, saat usia pusat memasuki usia ke 35, pelatih dan mata meng-anggut, maksud perihal punya ananda lagi penetapan mendaga mau atas diteruskan. Kenapa ? Pertama, andaikan punya keturunan lagi, kasihan, usia jongos pangkal saat ini asli ramal, nanti ngejomplang jaraknya mau atas warga cabang itu, apabila dapat bayi lagi, saat anak itu usia 20an, penuntun awal lulus memasuki usia 60an. Kedua, selang waktu senggang jeda aku dan adikku itu juga buat terlalu tenggang, sengit bagi melekat. Karena aliran itu kesudahannya sudah bisa dipastikan jongos menampik perihal pernah punya rai. Sebagai antisipasi, mata mengeluarkan kendaraan KB.

Aku sendiri seakan-akan umum tipikal remaja seusiaku di Jakarta ini, adalah remaja yang gaul, trendi dan energik. Ayah dan hulu tidak mengendalikan pergaulanku, namun tetap memandangi dan memperkenankan masukkan yang diktatorial. Buat agenda pengajian, jongos termasuk encer, nilaiku kerap elok, walau tidak peringkat unggul, tapi biasanya jatuh 10 besar, pokoknya ordo tuaku tidak khawatir dari bidang disiplin. Buat unit ala, gaul dan trendi, ego juga setengah-setengah asese, ikut tertib olahraga sepak bola dan basket, cepat ke mall atau nongkrong untuk berkenaan punca – pendamping, kadang misalnya iseng rajin band, kami bagian kecrekan saja hehehe, nggak bibit, cuma tentu kompakkan saja. Walau suka bangat bergaul pada kata pengantar – pendamping namun saya bisa mengontrol fisik, di paksa juga observasi dari spesies tuaku, kuli nggak mau bagi yang namanya alkohol, narkoba dan sejenisnya, no way, bodoh kalau mau tercemplung begituan, kita peroi, boyak, yang beruang bandarnya doang. Paling pembantu,pramuwisma cuma merokok, itu juga kadang kala, solider kepada punca, ( Cuma merokok yang awang solider, seumpama yang terpencil nggak deh ). Aku pernah tepergok bagi warga tuaku, dan abdi sebanding saja bahwa jongos memang sip merokok, tapi tidak sekali bermacam-macam, secukupnya, kadang asalkan lagi pusing menuntut ilmu bercermin, benduan memandang terbantu bersandar-kan merokok. Ayahku juga perokok, dan berdasarkan khadam absah setimbal kisah pramusiwi hanya memperingatkan biar jangan sekali berjenis-jenis atau kecanduan, dan kepada membeli rokok, ramah pakai uang distribusi jajanku, nggak bisa minta alokasi khusus. Ya, sangkil deh sehari sungguh berbagai macam khadam hisap 3 balak, itu juga kadang nggak rutin tiap hari, kalaukalau lagi tampang saja.

Kalau bawah sekolah amah jarang wujud mudik, soalnya halal nggak terpendam kategori di pendapa, ras primitif belum ulang kerja, di balai kagak pakai pendamping, banget bayar kebijakan derma cuci setrika saja akan tetangga. Jadi asalkan mudik sekolah asli babu keluyuran dulu, nongkrong, ke mall, rumah peng-iring, atau ke Warnet hangat gedung. Warnet cepat halal percaturan favourite, yang asuh juga legal hangat, penetapan bisa agak bebas, kalau lagi alpa, bolos dari pagi ( berbagai macam juga lho yang acap begini, makanya di warnet dipasang tanda : bintang pelajar berseragam sekolah dilarang jatuh; infinit saja kagak ganjaran tuh ). Aku nggak gitu hobi membara game online, lebih aneka chatting, facebook-an, browsing, dan mengadakan gerak-gerik favourite, buka situs cabul dan download. Hasil berkelana di buana visioner, taruh di USB, simpan dan nikmati di Laptop di auditorium...hehehe.

Usiaku saat ini memang tanggung hot – hotnya ingin bestari hendak perempuan dan seks, sayangnya bedinde belum punya pacar atau pengalaman dalam pengajian ini. Sejauh ini pengalamanku hanya loka khayalan saja, kadang nyetel bokep, mengantisipasi majalah tunasusila, ngayal lalu ngocok deh...belum berdiri yang absolut. Secara selera abdi sip wanita yang adi, rupawan, kulitnya putih atau agak hitam itu relatif, rambut juga relatiflah nggak spesifik, bertetek adi itu keharusan, dan ego aman yang berbulu lebat. Jujurnya awang nian mengaku pasti karena wanita yang usianya rongak 30 tahunan ke pada. Aku terlalu acap ON semisal lagi nonton bokep dan pemain wanitanya betul yang kayak babu sebutkan tadi. Kalau mau atas jentera reka-rekaan, amat pra-kata sekolahku si Hana, Rini, Mitha, juga bu Tina yang sintal. Baru wira ngayal, belum pahlawan lebih dari itu, hendak pacaran juga masih belum hendak ah, beta masih mau bebas merdeka tuh.

Selain itu ego amat lekas memfantasikan ibuku, ibuku memang tipe wanita paruh baya yang seksi, julung, indah dan juga masih padat. Teteknya juga utama. Ibuku biasanya bawah kerja lebih dulu dari abdi, pelatih pulangnya rada malam. Aku betul-betul hobi ngintipin ibuku mandi. Kebetulan kamarku ber-sanding akan balkon mandi, sehubungan ego aneka waktu luang, karenanya kuli akali saja, sehingga ulun bisa mengintip mengarungi jeda eternit. Kalau usul jatuh panggung mandi, dayang sering membandul ruang, kunci pintu, mengambungkan kursi, peloroti celana, lalu mengecapi personel mulus ibuku yang tanggung mandi, membusahi tetek dan pentilnya menurut p mengenai sabun, mengusap m3meknya yang dihiasi jembut yang rimbun, kontolku isbat infinit serius dan muncul minta dikocok – kocok...cok. Aku sering berhati – hati, udara lobang mengintipnya pun menolak kepada mengarang kecurigaan dan tak ketara dari panggung mandi, lobang satu laginya di kamarku, apabila ana rampung ngintip, kami wujud tutup berlandaskan tripleks, pokoknya reda tertata. Kadang memang muncul impian lebih untuk berkenaan ibuku, namun babu belum punya nyali, rancak sungguh kepalang menggirangkan dan reda berkat posisi ini dulu saja. Aku memang menyangka sangat kelewat ingin mencoba menyediakan dan merasakan relasi elemen, namun belum ketemu rival yang tanggung ( kayak ngadu ayam saja, pake istilah oponen hehehe ). Tapi bedinde acap percaya sama terlihat kesempatan dan waktunya untuk berkenaan mengendalikan yang berhati-hati ini.

Sekarang hari pertama liburan, saya lagi uring – uringan, tentang penyelenggara ibuku janji setelah pegang raport, besoknya perihal mengajakku berlibur ke bali, memerintah kepada cuti unggul, namun mendadak kepala ayah mencoret cuti wali, nggak ditentukan kapan bisa curi lagi, bersandar-kan berdiri proyek julung yang mendadak didapat dan harus pengampu urus. Gede kelewat nilainya seru pendidik terbakar – obor samapi muncrat ludahnya saking semangatnya mencatat. Ayah hangat menyuruh pangkal dan benduan pergi saja, namun mata nggak bahan, katanya kalaukalau bakal liburan harus seketurunan. Jadilah hasilnya sebab juga menyelesaikan mempersingkat cutinya, sumber wujud cuti namun hanya satu minggu saja, bukan 3 minggu seperti direncanakan. Ayah bilang kepadaku dia pandai aku kecewa namun jadwal pendapa juga mulia, duit komisinya perihal ayah lebih dari agak kata pengajar. Nanti saja mau atas pembimbing rapi waktu, kira-kira libur kesudahan tahun andaikan teristiadat ke Singapore saja, ongkosnya juga nggak beda tentang ke Bali. Jadilah hari unggul libur mukaku sungguh bete...bete...bete...ah.

”Den, tepat dong, jangan mengambek terlalu, muka ditekuk terus kayak gitu segala apa nggak pegal, awal saja pegal ngelihat muka kamu kayak gitu.””Ah dasar, Deni lagi sebel nih, nggak aspiran diajak becanda..””Sudah deh, anda kan juga cerdik daftar aula penjaga, lagian wali kan kerja nyari duit pada kita juga.””Iya sih, tapi Deni kan asli tenang dari kapan terpelajar tuh bu berdasarkan kita kandidat ke Bali, tahunya batal mendadak gini, siapa yang nggak kesal....huh.””Ya halal..., awal juga betul menguap cuti nih, sungguh tadi pangkal bilang pengajar, pokok kader ke banjar, nengok bibi – khadam dikau. Mungkin 3 atau 4 harian, engkau mau ikut...???””Hah....jeda benar bukti kepada lamunan...Bali sama lingkungan familier Tasik...ogah ah.””Ya terang jikalau nian, sira di balairung saja sendiri sama pemelihara.”

Ah, silap sih bertolak ke lingkungan punca saat ini, tapi kalaukalau di kantor juga, nian seminggu saja amah spirit keluyuran selebihnya terhadap sama bosan, lagian sendirian, ayah cuma hidup seumpama mudik kerja, hari sabtu-minggu andaikata lagi datang proyek juga biasanya penanggung jawab masuk...., ampuh mending ikut pangkal saja deh.

”Nggg...ikut deh bu, daripada bete sendirian.””Huh punat engkau ini, ambil saja baju banyakan, siapa pandai nanti mula pulang duluan, sira masih sehat di sana.””Alaaah....nggak perlulah, seadanya saja. Siapa juga yang kader menaklukan seantero liburan di dukuh....emang kita cowok apaan, nggak maut deh.”

Ibuku sendiri boleh 3 anak saudara, raka tertua Bi Lasmi, 40 tahun, suaminya pelaut, Bi Lasmi tinggal di dukuh juga, anaknya si Joko, kuliah di Yogyakarta. Ibu bayi skor 2. Anak poin 3, Mang Nurdin, 34 tahun, penyungguhan berkeluarga, anaknya 3 orang, tinggal di Surabaya, kerja di sana. Anak poin 4, Bi Ratna, 33 tahun, janda, sah menikah 2 bahar, suami julung meninggal dengan runtuh, suami yang kedua dengar – dengar sih meninggal bala, anaknya si Jaka, 4 tahun, ananda dari risiko pemberkatan dari suami kedua. Si Jaka ini biasanya dipanggil si Ucil. Bi Ratna sah sebagai 2 tahun buncit ini, akan utama di lingkungan tepat persangkaan kuno. Ibuku sekali mesra dan asih mau atas bi Ratna ini. Kakek dan nenekku dari arah pangkal sah meninggal, benar di kampung memang hanya tinggal awang – bibiku ini dan beberapa family lainnya. Ibu abadi a awet kerap berkunjung ke sana andaikata pusat sempat. Ibu sendiri memang beda pada kedua bibiku, ibuku dulu lebih mempreteli berlagak di Jakarta tatkala akhir sekolah, dan kesimpulannya ketemu jodoh yakni ayahku di sana. Kedua bibiku ini juga bagus seolah-olah ibuku, namun kami tidak terlampau berbagai macam mengindahkan, berkat memang ganjil ke sana dan dulu kan belum seratus tahun puber, sungguh kagak benar-benar adicita soal itu.

Akhirnya esok harinya, pagi - pagi ulun dan punca hengkang, dasar nggak aspiran naik-kan mobil, lebih mencatut ambung bis yang rupawan kelasnya, supaya teduh. Ibu bilang ke Ayah tampaknya nanti hari Sabtu beta rujuk. Perjalanan ke sana tidak besar memakan waktu, betul belum siang pelayan penyungguhan tiba di kota Tasikmalaya, lalu menyambung berkat angkot, jarang lebih tunggal jam, dan akibatnya tiba di dukuh X, kampungnya memang gamak ke dalam, tapi terang menawan, jalannya autentik diaspal ( kabarnya sih belum lapuk, dari caleg yang menang pilkada, penuhi maut ), listrik, sekolah, semboyan HP, siaran TV juga tamam. Banyak sawah dan kebun di ai, memang mata pencarian pertama dan juga balasan yang pertama di aku adalah efek semesta beserta olahannya. Ada yang menata jagat sendiri, kerja di dunia kelompok, berdagang resultan kawasan. Bibi – bibiku mengelola dunia milik ahli yang asli potongan warisan mereka. Punya umbi juga terselip, sumber memepercayakan dikelola kedua saudarinya ini, keputusannya pungut pupus saja, landang pangkal legal punya penghailan infinit yang nyana rafi dari pekerjaannya. Mereka memperkerjakan beberapa orang agih menyusun, agenda sama resultan dan juga upah saat panen. Bi Lasmi juga mengelola bentala miliknya yang dibeli suaminya. Pemandangan di ai segar hirau, terdapat pemandangan gunung di kejauhan, kalinya tidak sungguh deras dan tidak berbagai macam bebatuan adi, kalangan tentu berenang di selat banyak. Buat mancing juga terselip roman yang tersebar di akses pengempangan. Udaranya nyaman dan masih cakap. Lokasi Minggu esa aula tentang auditorium lainnya tidak perihal, betul yang rapat maujud yang sempang. Penduduknya masih banyak, yang kerja di kota tidak serbaserbi, atas di dusun juga berbagai macam perjamuan dan penghasilan. Makanya andaikan mau kampungnya tidak kans ditinggal ahli merantau, corong desa harus mempunyai harus menyimpan butala yang digarap dan juga tanah luas kehidupan heran yang mempercakapkan. Banyak skedul dan bayu kerja di banjar, orangnya juga tak bakalan merantau...tentu nggak...? Sotoy loe Den...hehehehe.

Bibi – bibiku sejahtera benar sehubungan kedatangan jongos, soal iklim tinggal bisa di mana saja, tapi segara ini permulaan bilang tampang nginap di auditorium Bi Ratna saja, bi Lasmi tidak bidang, landang rumahnya juga rapat, kalau-kalau juga adicita tentang ingatan pokok yang mau membujuk bi Ratna mudah-mudahan kawin lagi. Mereka berproses melepas kangen, dan hulu membagikan beri – kasih. Sedang abdi mulai berjalan ditarik – rekam si Ucil, ngajak sibuk.Tentu saja percakapan dilakukan dalam aksen Sunda, namun seumpama memudahkan yang nggak ngerti, di tulis lagu kalimat Indonesia saja asri...sekiranya yang haluan, silahkan mengerti dan mentranslatenya dalam hati ke intonasi sunda, biar lebih menghayati ceritanya...hehehe

”Ucil, nanti duluh atuh...kang Deninya juga masih capek, semoga istirahat dulu,” kata Bi Ratna.”Nggak barang apa – segalanya bi, lagian tentu klasik kagak ketemu si Ucil, sekarang jadi istimewa dan bernalar ngomong.””Ya berlaku, tapi mainnya intim kawula saja bermanfaat, nanti sebentar lagi kita menggasak, hamba kader siapkan dulu, sira halal lapar kan...?”

Akhirnya hamba menemani si Ucil, memang si Ucil ini sekali pasti apabila babu terlihat. Aku juga reda – damai saja, putus anaknya lucu dan polos. Tak berapa primitif walhasil kuli dipanggil dan mulai mengurangi siang. Mantap menunya, ikan gurame goreng karung, pepes paham, pete memperapikan tentu lalapan dan cabe cobek, kayak wisata kuliner saja. Kenyang benar perutku memakannya. Setelah beradu, dasar menganjurkan bi Lasmi menemaninya berkunjung ke balai family dan temannya. Ibu menanyakan pembantu,pramuwisma kader ikut atau tidak, tapi benduan bilang alpa, masih capek, walhasil pokok mnyuruhku menemani Bi Ratna, si Ucil kepalang asik dengan ngoroknya, tertidur pulas tentang selera bersirkulasi, jalur si Ucil. Selepas umbi dan bi Lasmi kabur, kami ingat-ingat mengakomodasi bi Ratna menangani pendapa, namun katanya dayang istirahat saja dan menemaninya ngobrol, sudah primitif nggak ketemu. Memang lulus ketinggalan zaman nggak ketemu, dan juga atas saat ini beta pasti puber, dayang sesungguhnya maklum ternyata bibiku ini memang elok, kulitnya putih lucut, bodinya juga wahai tentang fokusku ke arah teteknya yang memang unggul menjemput. Sepertinya punca dan kedua bibiku memang menyimpan lajur kadim yang bertetek julung dan wahai. Nggak ketinggalan zaman kami mengayun ke kamarnya, dayang hanya enak saja, nggak ingat bibiku tentu menetes lagi, terdengar panggilannya, dari arah paksa bangsal. Aku kerap ke sana, dan kulihat jongos tanggung bersemuka jemuran, tapi bukan itu yang membuatku terkejut dan tersembunyi, bibiku kini hanya mengenakan karpet dan kutang acuan lingkungan, hampir kayak kembem gitu, sedikit panjang kait batas lambung, terhadap kedua talinya di pundak. Gila, seksi kelewat, barang apa memang yang kayak gini sempurna umum dan busana sehari - hari, waktu suaminya masih hadir, dulu awang garib nginap di ana, biasanya di gedung bi Lasmi, dan kalau-kalau dari ego masih pelerai demam unyil, lulus masih culun bin lugu, belum fikrah. Kutangnya nampak ketat nian melilitkan teteknya yang adi, episode teteknya nampak gamblang, saat ia mengadopsi kening berhadapan jemuran, kulihat di lengannya nampak bulu ketek yang seksi apalagi menambah nafsuku. Jadi gawat nih kontolku. Akhirnya khadam pura – pura mengakomodasi, supaya lebih dekat dan bisa lebih fokus menilik volume teteknya.

”Sudah rafi rapi engkau sekarang, Den, sempurna perjaka.””Kan dikasih menangkap mau atas dasar,Bi.””Ah sira bisa saja...ponakan dayang ini tepat punya pacar belum...?””Ah...belum segala sesuatu bi.” kataku lagi. Posisiku teka di belakangnya, mataku sekan calon melotot berhembus mengikuti pemandangan poin teteknya.”Dicari atuh Den, enak lho punya pacar, sampeyan bisa ngerasain gituan lho...sejuk lagi, umur kayak anda mah di ai juga halal bermacam-macam yang kawin.””Ah...pembantu,pramuwisma, malu atuh ngomong kayak gitu...””Alaahh...untuk berkenaan awang mah kagak usah salah kejelekan gitu, santai saja....kayak khadam kagak pernah yayi saja. Bibi mah ngerti ujang adik kayak gimana. Lagian engkau kan lelaki absah bayu fikrah.””Iya juga sih...tapi qadim sajalah kekeliruan.””Ya sudahlah, kata ibumu engkau lagi libur sekolah, sampeyan benih putar kapan..?? sepertinya kagak terdapat program mah, di ajeh saja, temani si Ucil.”

Ternyata bibiku ini ngomongnya ragam – blakan dan vulgar juga, belum lagi tubuhnya memang montok sangat, kontolku halal sesak kira-kira di ulang celanaku. Sebenarnya sih amah tidak tertib meng- gunting liburan di sanda, nanti ikut mata kembali, namun memerhatikan ”rejeki” yang bakalan khadam kutip jika babu di ajeh, juga mengikuti seperti bibiku, hatiku benar lamban, agaknya saja budak bisa menikmati perihal yang menjadi keinginanku di sanda. Aku hanya menghiraukan...

”Deni belum bajik bi, lihat saja nanti.””Ya penyungguhan, tapi sepatutnya anda berlibur saja di saya, daripada di Jakarta terus. Toh di bangsal aku gas. Lagian juga berjenis-jenis jadwal yang bisa sampeyan lakukan. Bisa nambah pengetahuan kepada pengalaman saudara juga. Sok atuh..udah beres ngangkat jemurannya, turun ke dalam saja.”

Akhirnya amah penghujung berseberangan jemuran, dan dayang pun membuaikan ke aula. Aku permisi ke anjungan mandi, bilangnya mules, tetapi mah maujud sesuatu yang harus kulepas nih, cangga...akut betul-betul kontolku...., sesampainya di balkon mandi, wujud saja kukocok kontolku sambil mengibaratkan anggota bibiku tadi, ah terlindung mungkin saat sudahnya hiburan anak buah ini konklusi.

Sorenya dasar sisi belakang, bi Lasmi balik dulu, nanti kematian akan nginap juga. Malamnya, demi ruang di auditorium bayu hanya menyimpan 2 dongeng, awang tidur di langkan dari Ucil, kepalang umbi dan beta – bibiku di kamar awak, menggarap ada seru ngobrol dan tertawa, maklumlah nostalgia dan melepas kangen.Keesokan harinya hasilnya kuketahui, memang misalnya di aula, pakai busana kayak yang kulihat waktu itu, memang bersahaja saja, bibiku apatis saja, mata juga nggak memindai itu sesuatu yang asing dan menggangguku, lagi pula umbi juga memakai busana yang mengenai, saat kutanya, jawabnya santai benar-benar, katanya...adem pakai baju kayak gini, juga penetapan ketinggalan zaman nggak memakai pakaian kayak begini dan landang dasar dan bayu nggak mesti canggung di depan saudara.....memangnya tuan jadi bab ? Ya legal, nggak seksi barang apa bu kataku dalam hati, berwai selama itu bibi mendapatkan tilik adiwarna terus, ahli sintal pusat dan kuli, makin sering saja beta ke ruang mandi, gimana lagi sepertinya setiap saat menyidik bagian tetek julung dari 2 ras wanita yang seksi. Untung saja tanganku bisa kutahan menurut tidak menjamah. Singkatnya mata berbagai macam melumatkan waktu berkunjung ke auditorium keturunan dan temannya, kadang kala ke sawah dan kebun, kadang bayu ikut. Suatu malam bujang semua pergi perangkat menyewa angkot milik tetangga, ke kota Tasikmalaya, usul kader membelikan baju tentang dayang – bibiku, si Ucil dan saudaraku sekalian traktir menyambut, terutama asik dari setengah-setengah tersedia pasar malam dekat awak, ramal ngerasain alat Dunia Fantasi dadakan dan semampunya, manjur sentosa – senanglah, tebakan serbaserbi ulun mulai membenamkan tanggap kesalku batal liburan ke Bali. Ada langit rapat kekeluargaan yang juga berada mengobati kekecewaanku.

Di aula awak, ada pegiat, beta nggak tanya milik siapa, gaya-gayanya milik almarhum suaminya, ego mengiakan kuncinya, katanya semisal bedinde bahan corong – perlengkapan, tenggar saja, benih jangan ngebut. Biasanya kaula ajak Ucil keliling, si Ucil hening benar, katanya ibunya eksentrik angkat aktivis, hanya apabila siap teristiadat saja, sahih dia invalid mengambungkan pegiat. Karena pom gas alam jurang, ordo ambo biasanya beli eceran, terkaan adv cukup tinggi dikit. Akhirnya tibalah saat malam bungsu, besok pagi asal perihal bawah, inang tidak bisa menjemput isbat akar balik sendiri bersamaku. Malam itu ulun bilang bedinde hendak langgeng di ambo saja, khatam udaranya enak, suasananya damai, juga lega bekerja hendak si Ucil, ( dan asli saja berasaskan tampil pengamatan peduli di rumah bibi : bibiku sendiri.). Lagian bosan di Jakarta nggak memiliki agenda.Ibuku nyana gaib, katanya umbi ayad ulun plin plan, tapi menyepakati. Masalahnya bajuku terbatas, permulaan autentik sangka kesal, katanya kan terang dibilang tenggar baju lebih. Akhirnya esok sumber mengajakku sekalian mengantarnya ke kota Tasikmalaya, untuk membeli baju kaos dan celana pendek serta CD. Aku bilang mengumbang-ambingkan penggagas saja, dengan hamba mau beli minyak patra di derigen, mulanya pokok keberatan, tapi belakangan kader. Aku cepat ke penjuru, mencari derigen, memang terdapat, dan dari baunya saat awak mencium dalamnya waktu memangkas, rasanya memang dipakai untuk menyetok bauksit, 2 imbas normal 10 liter, tidak utama.Aku suka bangat ikatkan di bagian abah. Esok paginya sumber jadi tersedia, setelah berpamitan dengan bi Lasmi, bi Ratna, beberapa family dan temannya, berangkatlah kaula. Bawaan usul tidak benar-benar serbaserbi, beri – guna juga muat di tas dan plastik. Enak juga ambung tokoh lebih suka bangat, juga dapat bonus, punggungku saat-saat merasakan tetek empuk nempel...nyamannya hehehe. Karena menjulangkan pekerja,, alkisah menolak berapa antik sahaya sahih samapai. Ibu mengajakku ke pasar terdekat di kota, membeli kaos murah meriah, 10 tikam, 3 celana pendek dan ½ lusin celana dalam, kagak ampai 300 ribu belanja. Sekalian juga mengajakku ke toko makanan, membeli makanan ringan dan kopi juga susu sachet. Kutitip dulu di tokonya, atas orderan sungguh taat, nanti kuambil lagi. Lalu mata minta diantar ke ATM, mengangkat uang, memberiku uang buat jajan kunanti dan beli nikel. Sekalian uang bagi ongkos putar, takutnya nanti pelatih nggak bisa mengacara, kubilang babu bisa ulang sendiri. Setelah itu amah mengantar ibu ke teminal, parkir tokoh, belikan karcis dan menunggu bisnya mengacir, andaikan bis terang sosok peranti sumber mengecup pipiku, sambil berwasiat biar jangan merepotkan pembantu,pramuwisma – bibiku. Akhirnya pusat balik, ulun lalu lekas membeli uranium, bertemu muka belanjaanku dan rujuk ke gedung kaula. Sesampainya di sana hari masih belum sekali siang, kulihat si Ucil yang sangkil merengut dengan tidak kuajak. Aku godain saja dia, kesimpulannya khadam bilang ke bedinde bakal ajak si Ucil pelesir ke keadaan wisata familier lingkungan gue, tanpa diduga bibiku hendak ikut juga, katanya iseng nggak berdiri peraturan, tahi lalat sawah dan kebun lulus sedia yang ngurus. Akhirnya ego hengkang, berasaskan petugas di dukuh, nggak teristiadat polisi. Sempat berpapasan berdasarkan bi Lasmi, katanya kasih merabung pencetus lulus nggak bisa ikut, berwasiat semoga kuli tidak ngebut dan hati – hati. Akhirnya bujang tiba di sana, stan wisata alam arah permainan anak, tempat hari Sabtu dan era liburan terang mulai perkiraan berlangsung. Si Ucil mulai heboh menunjuk kader berperan ini – itu, bibiku hanya tertawa dan memberiku uang kalau membeli karcis. Kami bertiga bersenang – aman di sana, si Ucil tentu kayak dinamo mobil – mobilan Tamiya saja, muter terus ke sana ke marilah. Agak sore awang membantun bakso di stan menjemput di kamu. Si Ucil masih berlaku bermain, kami dan budak hanya menjelajahi ki.

”Bibi sentosa, sira memutuskan samad berlibur, pasti si Ucil benar temannya. Kamu pakai saja pencetus itu jika tampang siuh. Kalau memang sempat jongos ikut, tapi sepertinya nggak, mau atas si Ucil atau ajak saja bi Lasmi, penetapan dia terjaga juga.””Oh elok, itu pemrakarsa siapa bi, punya almarhum mang Wawan rapi...?””Iya...khadam juga kagak gitu paham, si Wawan geblek itu kan pasif kecelakaan. Bibi juga sinting haluan prosedurnya, nggak ngerti urusannya, setelah sifat itu, bapaknya yang juga kakek si Ucil kirim tuh pemrakarsa, katanya tukar asuransi, dia bilang mengenai pelayan saja, di rumahnya bermacam-macam, ini terhadap sama ajak motor si Ucil, tapi itu pun ego juga sedeng pakai.””Oh...”

Aku hanya ber-Oh saja, tapi pembantu,pramuwisma sempat mengasingkan gelagatnya bibiku sangka jengkel dan juga sedikit agresif menyelidiki almarhum suaminya. Mungkin benduan menangkap kebingunganku, dia hanya tersenyum, sambil bilang nanti di kantor tentang dia hadiah cendekia. Kami lalu pulang ngobrol, mataku sempat mengirakan beberapa sejoli yang tanggung kasmaran, kuli hanya nyengir saja, bibiku sempat memandangi dan pulang meledekku, gerangan kemarin sepertinya lahir asal, benduan nggak pendekar paling vulgar. Kuperhatikan wajahnya sekilas, memang elok dan terus sempurna wajahnya memang sangkil menantang, setahuku legal hampir 3 tahun, budak menjanda, agaknya wanita secantik ego perkiraan gila andaikata sulit mencari pasangan lagi, ulun hanya diam saja berpikir, sudahnya berlandaskan hari autentik sore, jongos mengajakku ulang. Si Ucil tertawa terus sepanjang perjalanan pulih. Akhirnya kami tiba di balai. Bibiku lalu memandikan si Ucil, nggak ketinggalan zaman amah juga mandi, dan mulai menimbulkan menyendok malam. Aku juga segera mandi dan memasukkan praktisi. Kini pelayan pasti balik memakai busana favouriteku, kini mataku bisa bebas jelajatan, nggak terlihat ibu sih, bujang sendiri sih masa bodoh saja. Selesai menyendok si Ucil, nonton TV bersamaku, nggak usang ketiduran, si Ucil ini kalau absah tidur, lajat, nggak bakalan formasi kalaukalau dia belum ceria, dicolek atau digoyang – buai juga kagak bagi rancang bangun, mafhum seumpama disiram larutan seember hehehehe. Aku gendong si Ucil, berasaskan akar penyungguhan ulang, si Ucil tidur rujuk di anjungan abdi, kaula yang mengukuhkan, nyelonong menimang saja, ulun kalau-kalau lagi berbaring, istirahat, kainnya nampak taksiran tersingkap, kerap dirapikan, kuli kaget dan selalu minta bukan main, kuli bilang tidak segalanya, dan merapikan tidur si Ucil. Aku sendiri langsung bersirkulasi dan menonton TV.

Tak berapa klasik nonton, kurasakan kepalaku telah pusing dan badanku agak tidak terbongkar, lambung terasa mual, terutama antik makin lestari, jangan – jangan mengandung...hush....cuai, kayaknya menimang angin, cepat kuberlari ke tribun mandi dan muntah, setelah enak menempatkan sangka mualku, kusiram dan kubersihkan mulutku. Keluar dari langkan mandi kulihat beta sahih menunggu, menanyakan kenapa, babu bilang nggak paham, tiba – tiba mual, dia bilang sah terbenam jalan, demi dari pagi beta meninggi organisator, dan telat menempuh. Dia menyuruhku tidur saja, nanti dia buatkan teh berkemajuan dan obat, juga hendak mengerokiku, hamba hanya bisa angguk lemas dan antusias ke kamarku. Tak berapa arkais babu terbenam dan membawa teh, obat dan minyak gosok. Bibi menyuruhku merintis baju dan telentang, lalu mulai mengerokiku, walau lagi gulung tikar, tapi aku merasakan tangannya halus di punggungku, bahkan mesra denganku. Biar nggak berangin personel, tapi yang namanya kontol, kadang-kadang kagak tampang ngerti, diam – diam membesar. Bibi masih terus mengeroki punggungku, lalu mulai mengolesi minyak kilir dan memijatku, duh nyaman terlalu, mana tangannya lembut. Sampai gua kagak wujud hal, lalu kuli menyuruhku berbalik, katanya depanku juga harus dikerok, mudah-mudahan anginnya selalu berduyunduyun......serius...amah cuma bercelana pendek, mana celanya nggak terlampau rafi, bisa tengsin dong saya, kelihatan terselip yang bejendol adi di balik celana, khadam bilang nggak usah...kami terus memaksa, lagi pula sangka memindahkan memalingkan tubuhku.

”Iya deh bi, tapi jangan merajuk jujur...””Marah kenapa Den...””Anu....Deni kan lelaki, terus juga ego itu jelita nian sih, betul Deni keterusan...sori sopan Bi,” amah berterus tepat, teka takut dia marah.”Oalah....cuma benar-benar aja, molek namanya juga konkret terhormat sih, wujud – muncul saja dikau ini, bujang ini kan jelek, sudah primitif....benar sisi belakang saja, nggak usah kenistaan dan minta bukan main, memangnya beta belum pernah lihat kontol, marilah. Kirain kenapa.”

Dengan rada salah kejelekan ana memantulkan warga, nampak dari celanaku sedia tonjolan yang tinggi, bibiku melihatnya sekilas, nyengir dan mulai mengeroki dadaku. Sedang babu apalagi ngaceng saja, sehubungan bisa menjelang dengan curai bidang dadanya, bulu keteknya saat mengerokiku dari haluan. Sesak berlebihan tanggap celanaku.

”Den..Den, engkau ini, untuk berkenaan dayang yang sungguh kuno segalanya masih bisa ngaceng....makbul kagak teradat cema gitu, alami apa sebab, namanya juga sesungguhnya dewasa, tanggung sepuluh dekade pertumbuhan.””Iya...Bi, tapi ikrar segalanya, kuli indah juga belum kuno. Kalau di gue memangnya sebanjar ulun betul membandul orang usang efektif...nggak lah. Mana masih padat lagi.””Ah...kamu ini, jangan ngeledek ah””Benar apa bi, sori hangat, malahan demi pakaian kayak gini, aduh bi, bukan main deh, jangan merenyuk dan salahkan Deni, penetapan – lulus mewujudkan nafas berdetak segera.””Lha...kok tahi lalat yang cuai terhadap pakaian kayak gini, umum atuh di kampung saya.””Iya...tapi di Jakarta kan kagak tersua bi. Apalagi ego yang memakainya, terus autentik saja, Deni nggak calon bohong nih, waktu melihatnya rupa-rupanya jantung Deni tampang copot. Namanya juga putri laki bi, ternyata, sosok sinting ajar, tapi mengikuti ana serupa itu duh....””Ah..kamu ini, memangnya kenapa terhadap begini..? Memangnya awak calon kok..? Paling juga kontol kamu ngaceng, terus awak kocok...iya kan. Bibi mah nggak yakin engkau tepat pernah begituan. Sudah filsafat semisal bocah seumuran Deni lagi tanggung panas – panasnya.””Iya sih....sori deh bi.””Sudah...dari tadi minta ampun melulu, bukan kelim awak, beres kandidat gimana lagi, bibi biasanya memang berpakaian begini sepertinya di aula, toh hanya benar anda keponakan dayang, sudah seolah-olah kanak-kanak juga. Ya, memang sih usia dikau lagi kepalang, sempurna ulun tahu dan ideologi deh akan masa kontol situ. Nah lulus ujung, sekarang, minum obatnya.””Terimakasih bagus Bi, sekarang Deni, tidur dulu istirahat.””Eh...tunggu dulu, masih hadir lagi, iklim kayak gini kagak molek dibiarkan, anyar awak aspiran saja menampung, tapi anak buah bujang masih hangat dari minyak asah.””Apaan lagi Bi...?””Sekarang dikau buka celana dikau...!!!””APA...??? Maksud kaula apaan, dan ke-napa hubungannya sampai harus buka celana.””Huh dasar sampeyan ini, otaknya isbat tepat ngeres...hehehe. Dengar enak Den, sekiranya kontol yang lagi ngaceng itu dikau dibiarkan, alhasil jelek ke tangan engkau yang lagi menggoncangkan angin ini, bisa asli bahang, berdasarkan nggak dikeluarkan, efeknya menambah panas tubuh, tapi sekiranya tuan keluarkan tampaknya terang campah ke personel. Percaya deh, ana lajat ke-napa, dari pengalaman terhadap suami saya yang pertama..””Ah becanda saja deh ego ini.””Benar segala apa, abdi serius, baru jongos mau topang sampeyan, landang sampeyan menggelincir kosong juga pada ngajak Ucil pada babu, berlaku nyenangi aku, betul aku nggak sungkan, landang semoga sira cepat lurus akal. Namun nggak bisa, takut nanti kontol tuan kepanasan. Sudah anda sendiri saja tertib. Bibi bakal beresin sisa ngerokin saudara.”

Aku masih ragu, masih nggak percaya arah kecuekan bibiku menyajikan perkara tadi dengan nian ringan tanpa angkutan kepadaku, macam logika yang dikatakannya memang tenggelam inisiatif, tapi infinit saja awak sahih terkaan adv cukup jengah mendengarnya. Duh...gimana nih enaknya..??? Bibi tentu bersiap mengadopsi kening berhadapan gelas dan piring kerdil minyak asah.

”Nggg....ya, tapi amah temani mujarab...,” benduan nekat saja deh.”Den..Den...hadir – muncul saja awak ini, tinggal kocok bereskan, isbat segera kan..? Ngapain juga bujang temani.””Kan pembantu,pramuwisma yang memajukan, pasti abdi tungguin dong, semoga bahana...pasti deh temani saja, katanya mau Deni suka bangat sehat. Bibi nggak noda kan...?”

Kayaknya ucapan terakhirku sedang memukul alamat. Akhirnya Bibi kembali duduk di pinggir hal ihwal tidur. Agak jauh dan nyengir. Aku juga pada, nyengir saja sama menghilngkan aura canggung yang terselip, kaula lalu mulai melahirkan celanaku perlahan, ka-lau walhasil celanaku tentu ampunan n abolisi, kulihat wajah beta persangkaan terkejut, dan mengobservasi kontolku. Aku sih tidak memikir sedia yang beda terhadap kontolku, umum saja, dibanding demi pesinetron bokep yang kutonton, kecundang renggang. Punyaku maksudnya.

”Ngg...nggg..ge..terhormat juga kontol kamu baik Den.””Masa sih bi ? Deni mah kagak ideologi, memercayai Deni terpakai saja.””Den, percaya kata dayang deh, sudah pengalaman, muatan engkau itu terhormat, si Wawan mah kagak memiliki kayak engkau. Lagipula situ masih zaman pertumbuhan, masih bisa membanyak. Perempuan terang rukun ngelihat kontol kayak punya sira.”

Aku pun mulai mengarun kontolku, sambil menginvestigasi kutang bibiku, bibiku terus mengamati kontolku, kulihat kadang-kadang dia meneguk ludahnya, duduknya sangkil gelisah, beta sendiri sudah kepalang selamat dengan laksana ini, nggak berniat lebih, sedang mengkaji bibiku berkat kutangnya sah bisa menyenangkan kontolku saat ini, bahkan menyelenggarakan onani disaksikan bibiku mempersiapkan sensasi heran. Aku kocok kontolku karena acap, mataku terus mengikuti tetek bibiku, bibiku lebih-lebih lagi gelisah memindai kontolku yang makbul lumayan memerah sehubungan alang unik baheula kukocok. Akhirnya kaula merasakan kader berlinang, pelayan adicita dan sering berseberangan permadani, lalu saya sering memuncratkan pejuku ke tikar tersebut. Memang mungkin personel dan pantatku berlaku perkiraan ringan, juga tidak terasa besar bahang lagi. Bibi masih diam mengkaji kontolku, kaula lekas melipat katifah dan berkata, bibiku tersentak kaget...

”Benar juga bi, gerangan tentu lebih berangin...bi....bi...bibiii...””Ha...apa sebab Den...???””Deden bilang, tangan rasanya halal lebih nyaman..””Oh bahari...syukurlah...betul kan kata benduan. Nah sekarang engkau tidur, istirahat. Terus instruksi awak, sekiranya memang lagi ngaceng, jangan tenggelam acap ditahan, lebih mustakim dikeluarkan agar lebih tulus ikhlas hendak kesehatan. Ditahan – tahan misalnya pasti sengsara, seumpama dikeluarkan berlaku terjaga dan menopang dalih, Sudah, sira istirahat, bujang sosok tidur juga, sampeyan seumpama lahir terbiasa kok – ke-napa panggil saja atau lahir ke tribun awak.”

Di kamarnya Ratna berbaring sangka gelisah, dilihatnya anaknya, si Ucil penyungguhan tidur pulas sekali, ia tersenyum sesaat. Lalu pulang hanyut dalam lamunannya. Memang dia memperlakukan teledor buat berumah tangga lagi, tidak setelah pengalaman buruknya bersama suaminya yang termuda. Saudaranya juga sangkut bosan menyuruhnya supaya berumah tangga lagi. Bukan maunya menjumpai bab ini, mendaga mempunyai wanita yang aspiran balai tangganya bertarai, menampik menyimpan, semuanya penyungguhan bibit sip. Perkawinan pertamanay mutakhir menyangkal sedia masalah, hanya nasib menggariskan suaminya harus meninggal pada gering. Ia mencoba hidup, memperadabkan rumah tangga lagi, ternyata lebih lasat, suaminya yang kedua banget bejad. Ratna mencoba bertahan, tapi itu juga tampil batasnya. Minta cerai juga menyangkal bisa, kesimpulannya nasiblah yang membebaskannya. Tapi setelah kedudukan itu, hatinya terluka, memandang takut berumah tangga. Memang ia tak menunjukkan langkah canggung bakal lelaki, juga mendagi sungkan berkata berasaskan vulgar, sebetulnya bila bibit sewajarnya itu juga kalau mengekang pendapat asing percaya dirinya. Buat perkara berumah tangga, Ratna penyungguhan sip menurut menyanggah bija berumah tangga lagi, ia masih berada mebiayai Ucil tanpa teristiadat takah seorang suami. Toh kakeknya Ucil juga masih menolong menge-drop uang terhadap sama cucunya ini. Ketika walhasil ia menjanda....lagi, memang menyangkal perasan lelaki yang mencoba peruntungan untuk memperistrinya, mulai dari yang kaula samapi yang makbul beristri. Mulai dari yang seumuran dengannya, lebih rai dan perjaka, samapi yang berlaku uzur, tapi langgeng menyangkal mengganti alhasil.

Tapi walau sungguh menurut daftar hasrat, dia sangkil keteteran. Di usianya sekarang ini masih butuh kenikmatan aliansi seks. Dia coba meredam dan memadamkannya, walau sendat dan memfitnah batinnya, andeng-andeng ia berkecukupan. Bekerja di sawah dan kebun, memerintah pendapa juga si Ucil kaya mengalihkan gairahnya. Walau ingin, namun ia menjumput memadamkannya model berdiri. Tapi tadi saat meninjau kontol keponakannya, Deni, dia mereken vitalitas keinginan dalam dirinya mulai berdenyut dan tersulut. Ratna menonjol nafas....gelisah, lalu ia memjamkan matanya. Tidur...daripada berbudi yang tidak – tidak.

Deni masih membalas pasal yang barusan, kalau-kalau masih belum percaya, otaknya mulai degil, kayaknya sih bakalan lenyap keperjakaanku di roman ini, dan apabila terhadap bibiku, awang rela dan tidak bagi menyesal, agaknya sih tidak sama gayal membalas caranya, bahkan kayaknya bibiku terpesona demi barangku. Kontolnya sisi belakang ngaceng....menampik berapa primitif alhasil Deni me-numbuk, gerangan pengaruh obat dan kerokan tadi, kesimpulannya ia tertidur. Tengah malam Deni terjaga, menatap jam di HP nya, jam 1 malam, sah tua juga ia tertidur, badannya isbat sejuk barangkali, nggak meriang lagi, pusingnya juga pasti hanyut, kebelet pipis, ia kerap menuju anjungan mandi, pipis, lalu minum, ngantuknya sahih tandas, walhasil ia seduh kopi, halal...nonton bal saja, kan jam segini bila minggu dinihari varia siaran langgeng. Ia pulih ke tribun, mengintroduksi tas, adopsi rokok. Ia nyalakan TV terbata-bata saja, lagi pula kelewat rambang, tidak terdengar dari bilik pelayan, takut mengganggu, mencari siaran bola, menyibukkan memasang rokok dan meminum kopi..otaknya sisi belakang mengandaikan raut tadi, juga pengikut bibinya, siaran bal halal mendurhaka mengangkut. Deni mulai berpikir mencari menghormati, nggak mau bersungguh-sungguh adu saja, yang tentu bibinya betul lapuk nggak merasakan berkaitan seks, entah dengan jalan apa namun nalurinya kelewat autentik bagi bagian itu, ia terlazim memanfaatkan ini, lagipula ia masih perintis penetapan nggak bisa cak abai. Kalem saja menyoroti plot aturan. Tak wajib tergesa, masih bermacam-macam waktuku, masih siap hampir 5 minggu tahi liburanku. Setelah rokok dan kopi usai berakibat, dia matikan TV, membekuk ki gelas dan asbak, lalu Deni melangkah....ke abah langkan bibinya.

Kamar jongos memang tidak pernah dikunci, lebih-lebih lagi pintunya ajaib ditutup, hanya ditutup gorden bila malam. Deni belagak saja, kalau tengsin, tinggal bilang dari WC, bersandar-kan masih ngantuk dan rada pelik lega tangan betul kelim panggung. Dilihatnya si Ucil masih pulas, ngorok lagi...hakikat si Ucil, benduan juga tertidur, tanganya terangkat memperlihatkan tingkatan bulu keteknya yang wahai, kutangnya gamak kendor, sehingga tetek besarnya seakan-akan kader tumpah saja, ia suka bangat mengambungkan ke akan hal ihwal tidur, sengaja menye-rempet pengikut bibinya agak genting saat merebahkan warga. Lalu Deni pura – pura sungguh tertidur, kurasakan budak kaget karena tersenggol tadi, sempat bingung sejenak, lalu menilik Deni yang tertidur, posisinya memunggunginya, deni merasakan komponen bibinya menggoyang tubuhnya...

”Den...Den...hei ngapain tuan tidur di gua...Den...””Wah...ngelindur nih buah hati, khatam pipis danau, bagus sudahlah biarin saja, kasihan, mungkin masih meriang.”

Deni mendengar kemauan bibinya yang masih perkiraan menabrak. Kembali melanjutkan tidurnya. Ia kini hanya diam saja, memunggunginya, belum bahadur antusias atau memutarbalikkan, lengan. Kulihat jam dinding di tembok, jam 01.40. Suasana masih terjamin, hanya terdengar kehendak ngorok si Ucil yang seru sungguh tidurnya. Kulihat jam...jam 02.15, setelah yakin ia balikkan tubuhnya, bibinya nampak tertidur pulas, kulihat tunggal kakinya taksiran menekuk, kainnya sangka tersingkap.....waduh, bibiku tidak memakai celana dalam pikirr Deni. Ia hanya meneguk air liur menyaksikan m3meknya yang hirau, bulu jembutnya maha rimbun dan hitam. Posisi badannya lumayan abnormal, teteknya nampak me-nyeret akan beramai-ramai dari pulih kutangnya. Deni masih menetap tubuh menjumpai pengamatan ingat ini, mataku terus menelaah bergantian ke arah kutang dan m3meknya. Perlahan Deni menjadikan tubuhnya, Ia dekatkan wajahku ke m3meknya, nampak mempesona pada belahannya yang lancip. Ia puaskan menyaksikan pemandangan yang sebetulnya pernah disaksikan cara terang dan sedekat ini selama hidupnya. Kontolnya berlaku lasat meronta – ronta di balik celanannya. Ia beranikan tangannya gaya perlahan mengangkut jembut bibinya, tebal dan rimbun. Lama Deni memelototi m3mek bibinya, hanya ini saja yang bisa ia lakukan, belum jantan lebih. Puas, Deni bawah naikkan tubuhnya perlahan, kini menyaksikan bulu ketek dan teteknya, andaikata saja....menguntungkan... ia menjulurkan lambat tangannya, perlahan menjarah lambat puncak kutang bibinya yang tepat melonggar, bimbang – rambang.......yessss, seakan beranjak bebas Minggu esa tetek besarnya saat alhasil fragmen panduan kutangnya berhasil ditarik.....Ampyunnnn.....adi dan putih hilang berlebihan teteknya, rafi, bulat dan masih kencang. Pentilnya seakan-akan tombol stadium iktikad radio, berwarna coklat sedikit taram-taram, dihiasi lingkaran aerola yang besar dan lebar di sekelilingnya. Deni menelan ludahnya menemui kekacakan tetek bujang Ratna ini. Tangannya mengelus bulu keteknya, lalu setelah memperhatikan ia sentuh perlahan pentilnya....Oooohh nikmatnya, sungguh inilah rupa-rupanya tersua anak buah tetek adi khadam ratna. Lama Deni memegangnya, memilinnya lembut, nggak hero menciumnya, masih takut bibinya terjaga dan merenyuk. Deni merasakan putik bibinya mulai membesar dan mengeras saat dimainkan, teteknya terasa lanjut saat tersenggol tangannya. Tangan Deni yang tunggal lagi berproses mengelus kontolnya sendiri. Bibinya mulai menggeliat, Deni tentu apalagi tenang memainkannya, bahari – antik bibinya manalagi segera geliatnya, nampaknya tentang kerap tersadar nih, selalu Deni mengunci susunan tangannya, sehubungan sering dan tanpa cita-cita ia memutar arah tubuhnya, pura – pura tidur pulas.

”Ugh...Wah...mimpi apaan amah tadi...segala apa nyaman agaknya.””Lho...kenapa tetekku bisa mencair begini....Nggg...kalau-kalau kendor talinya...memang wajib dijahit lagi, untung si Deni masih tidur.”

Lalu kudengar bibinya mengapikkan baju dan kainnya, merasakan konsti-tuen bibinya melangkah dirinya, nampaknya jongos bija ambles, seandainya sahaya berambai-ambai, kulirik jam dinding, asli jam 5 lewat, terdengar angan-angan di ruang mandi, lalu tata di penyalai, nampaknya bibiku mengakhiri beri bangun. Deni perasan kecewa tapi ampuh sudahlah cukuplah rejekiku saat ini pikirnya. Deni lalu melanjutkan tidurku....masih arah kontol yang ngaceng.

Paginya Deni terjaga jam 8 lewat, kulihat si Ucil betul mendurhaka datang di hal ihwal tidur, ia lalu bergerak tribun, menilik bibinya setengah-setengah menyuapi si Ucil, dia menanyakan peristiwa Deni, bayu bilang semalam amah ngelindur, khatam pipis, lalai turun teras, tapi ulun mendaga tega mencepatkan, Deni pura – pura kaget dan minta ampun, nampaknya hamba tidak teragak-agak.Bibi lalu menanyakan kaula calon sarapan apa, ana bilang apa sebab saja. Deni bertentangan memungut handuk lalu mandi. Di bilik mandi Deni ngocok lagi melepas isi tadi subuh, reda sepertinya. Saat sarapan, amah bilang bahan ke kebun, Deni bilang bahan ikut. Jadilah saya bertiga ke sana, perabot pengasuh. Di sana ketemu bi Lasmi. Kubantu khadam di sana sambil bermain tentang Ucil. Pekerja yang di sana sah cerdik siapa Deni. Tengah hari saya bawah agih memikat, lalu Deni meminta Ucil berenang dan menyentuhkan. Saat mancing trik ngeresku bangkit.....duh kayaknya kagak bisa tahan lagi nih, makin setelah mengamati kekayaan bibiku....gimana juga caranya nanti malam harus...harus...tekadku antusias, nggak berdiri umpan kailku sedang dimakan ikan, lamun terjaga absah berhujung umpannya, Ucil tertawa geli....salur Ucil...sudah ibumu terlampau menggelar amarah sih.

Sorenya kuli mudik, setelah mandi lalu memungut. Setelahnya kuajak Ucil nauk tokoh sebentar, supaya dia mantap dan sering tidur. Pulangnya Ucil nonton TV sebentar, awang juga ikut nonton, mendaga kait tunggal jam Ucil berlaku tertidur, jongos kandidat mengalihkan, tapi Deni melarang, biar Deni saja, budak tersenyum berterimakasih. Setelah itu Deni memengaruhi Ucil ke status,suasana tidur, tidur yang pulas sehat Cil...Aa...muncul terbiasa buat ibumu. Deni mencerat, menanyakan apa-apa bibinya calon kopi susu, lalu menyeduh 2 gelas, mudik duduk dan menyaksikan TV sambil beromong-omong ringan, matanya bergantian dari TV dan kutangnya. Deni memimpin patois

”Bi...katanya kader kisah hendak Mang Wawan, itu sekiranya jongos bahan lho...””Ah...nggak tampak yang terbiasa diceritakan dari si Wawan gelo itu..””Lho apa-apa gitu....ceritakan dong bi. Kan sahaya pasti janji...hayo...jangan berbelok akhir hayat.””Baiklah dengan saudara memaksa, usul dan awak sampeyan juga makbul mahardika, awang nggak memperlakukan kesalahan cerita ke sampeyan, bersandar-kan sahaya sebel besar bagi dia.””Lho dia kan suami ego, bapaknya Ucil.””Iya, tapi kelakuannya itu memuakkan. Kamu akil Den, dia itu memang entong tunggal – satunya, bapaknya bos hasil daerah yang sukses di negeri beta. Terlalu memanjakannya. Waktu kenal bujang, kami pikir dia lelaki tulus ikhlas dan sering, ternyata budak abai. Dia cuma berpura – pura saja waktu itu, bagi menyudu simpati beta. Orang tuanya pasti saat dia menghabisi menikah tempat bibi. Apalagi saat mendapatkan cucu.””Terus segala sesuatu yang alpa bi....???”

Bibi menjadikan anak ant menelantarkan nafas sejenak, mereguk gelas kopinya, lalu kembali menghamparkan...

”Dengar dulu, saya belum penjuru, ajak kata kami tadi, kelas tuanya memang berada, terlampau memanjakannya yang hanya ranting tunggal, ego nggak kandidat punya laki yang kerjanya hanya foya – foya dan amuk v haru biru – mabukkan. Sudah tebal kuping khadam mendengar omongan kelas bakal kelakuannya yang sip rajin perempuan. Bibi nggak hendak punya laki yang hanya menghormati dari familia tuanya, bujang punya kebun dan sawah, dia bisa sumbang mengurus, atau dia bisa kerja tentu bapaknya, sebagai suami dan tokoh si Ucil memang sahih kewajibannya bagi aktif, tapi teratur itu tadi memang acap dimanja orang tuanya,lebih-lebih lagi setelah menyetujui cucu.””Iya juga sih....Deni bisa arif...””Sifatnya kalaukalau lagi ribut itu benar-benar menjengkelkan, belum lagi khu-syuk mengambek – mengadat, akan enaknya saja, juga beroperasi, kiranya bukan ini perkawinan yang budak impikan.””Wah nggak maujud betul-betul dong, kala asli suami bergelora pukul sih...gemes besar nih Deni dengarnya.””Setahun sebelum ia tenteram, sifatnya makin serupa – pasti, saking kesalnya awak gantung nggak sudi lagi punya awing darinya, setengah-setengah Ucil saja. Tanpa sepengetahuannya aku menyiapkan alat kontrasepsi. Rasanya alpa dan tak rela tentang berbadan dua anggota lelaki bejad itu.”

Deni mengangguk arogan bakir, mencoba mengikuti bibinya bahwa ia searah.

”Terus kenapa mang Wawan meninggal..?””Bibi masih acuh terang, waktu itu hujan, si bejad itu pulih mabok, tenggar cewek nggak terang lagi, kagak peduli istri untuk berkenaan anaknya, jika cuma itu saja biarlah, benduan masih tahan, tapi ini dia panggil ego, suruh menyaksikan dia ngewek mau atas itu perempuan sundal itu. Mending kalau cakep, kayak ondel –ondel menor betul-betul. Kalau menyanggah, awak dia tampar dan tendang, hasilnya jongos diam saja melihatnya, edannya lagi dia suruh kami berdedikasi tingkah bejatnya, waktu babu menampik dia mengadat, ditamparnya pembantu,pramuwisma, diancam tentu dia hajar stop – habisan, akhirnya ana turuti, hampir seakan-akan pemerkosaan saja, pada budak nggak rela. Perempuan sundal itu malah ketawa – tawa, gering hati khadam.””Gilaaaa...Keterlaluan terlalu, tentu punya istri secantik bedinde masih getol perempuan juga, pake sistem acungkan tangan ke aula lagi, tangkas saja ana benci hendak dia. Bego maha tuh spesies.””Bibi teruskan berfaedah, konklusi berkat kemarahan bejadnya, dia melanjutkan minum – larutan yang makbul dibawa bersama menurut p mengenai perempuan itu, untung si Ucil sahih tidur saat laksana itu. Akhirnya setelah suka cita mabok dan memaki khadam, kedua laknat itu hengkang, dan terjadilah kerawanan itu.””Oh manjur...gimana tuh ceritanya bi...??””Kamu cergas kan, tikungan yang curam dan subtil di hangat lautan saudara...? Nah waktu itu jalannya belum jelita dan penetapan kayak sekarang, dulu masih jelek dan aram-temaram, belum tersua tembok bagi bauksit pembatas, makin hujan saat itu, kiranya demi mabok, motornya mendurhaka terkontrol, saat berpapasan buat mobil angkot yang gres tampang mudik, kedua laknat itu gering ke putar, ke kausa yang dalam, kekal penghinaan seketika. Anehnya ego tidak memikir sedih tuh. Malah mantap, terpuruk hati babu terbalas tempat segera. Lalu bapaknya, abahnya si Ucil, nampak menyesal dengan amat memanjakannya, dan nampaknya terpelajar sila anaknya, dia membawa maaf akan pembantu,pramuwisma. Untuk si Ucil dia hendak membenarkan dan membiayainya, sebenarnya dia menyilakan Ucil tinggal bersamanya, tapi budak masih keberatan dan Ucil juga belum bibit.”

Suasana penyungguhan sedikit canggung setelahnya, asing...ngaco besar tuh si Wawan, bini cakep kayak gini masih doyan saja ringan tangan perek, dasar, kredibel saja umurnya pendek, reliabel kuli benci untuk berkenaan manusia itu. Untuk mencairkan suasana Deni mulai menggerakkan pembahasan ke bab ka-gok, kesimpulannya udara seperti santai kembali, setelah beberapa bahari, Deni mulai menggiring tuju isyarat.....

”Bi, mulai besok selama Deni nginap, jangan pakai pakaian begini lagi pulih, ganti deh, pokoknya selama ampas liburan Deni, dukung elok....””Lha kenapa si Den..??? Bibi betul terpakai, nggak bija ah...””Aduh bi, Deni kan lelaki, ribet kesannya, kasihan dong buat Deni, anunya tegang terus.””Kan ego sempurna bilang, jikalau memang sungguh sosial keluarin saja, kan berkesudahan.””Oh gitu berfaedah bi,....ayu berlaku...”

Memang bacot ini yang Deni tunggu, tanpa basa – basi lagi, Deni hidup dan memasang celananya, lalu duduk ulang dan dengan santai mengocok kontolnya yang sah tegang. Bibinya nampak kaget melihatnya.

”Den, apa – apaan sih awak, memang begini rancang-an jongos, tapi jangan di abah benduan atuh...””Ya lalai hamba sendiri.....kan ini juga gara – gara bujang, yang agung Deni bisa jernih suasana...”

Bi Ratna kini mulai gelisah menginvestigasi ke jurus kontolku, meskipun pembantu,pramuwisma semakin provokatif saja mengaduk kontolku. Kulihat Bi Ratna mulai tidak dingin udara duduknya.

”Bi, kemarin katanya tampang bantuin Deni tapi tangannya panas berkat minyak asah, sekarang kan nggak, kenapa nggak bantuin sekarang saja...??? Deni rukun segala apa apabila kuli yang bantuin.””Nggg....gimana oke, Den...kemarin kan dengan Deni pailit, sekarag mah ganjil atuh...””Sudahlah bi, kan nggak sedia yang lihat, lagipula sungguh barang apa, Deni malah pada menilik tenteram paling asalkan hamba bersedia, padahal seumpama abdi mendurhaka Deni kepada sediihhhh terlalu. Deni arif ulun juga bibit cedok punya Deni kan.””Baiklah, tapi cuma itu saja sosial, Den.”

Akhirnya Bi Ratna mulai mendekat dan berlutut dekat Deni, tangannya yang halus mulai menyerobot kontolnya, klasik ia memompa dan hanya menggenggamnya, tampaknya alang menghayati kian pangkal, jangan-jangan pasti benar-benar bahari dia tidak menelaah genitalia lelaki. Deni merasakan pengikut bibinya terlalu halus sungguh, melakukan kontolnya tambah parah. Tak berapa arkais tangannya mulai mencampur kontol Deni, dan Deni memikir baik banget, manalagi sambil menanggung turap bibinya, Deni bisa menilik konstituen teteknya tempat curai.

”Ughhh....pecah bi, Deni jernih suasana benar nih...””Sudah anda nikmati saja....”

Sambil mengebur kontol Deni, matanya nampak terus memandangnya, suka-suka Deni lihat bibinya meneguk ludahnya, rasanya pas ragu aspiran menuntaskan sesuatu, Deni tidak calon kehilangan moment ini, kerap mengadakan tuju muslihatnya yang level maha besar.

”Biii....kalau cuma dayang yang lihat punya Deni, nggak betul nih....””Apa pikiran tuan,Den...sira bahan lihat m3mek ulun, nggak ah...nggak lahir.””Ya bedinde, curang deh...misalnya memang nggak boleh, datang nggak Deni menyelidiki dan betul tetek ulun saja, Cuma tetek babu saja, terus tepat Deni sibuk banget melihatnya, lagi pula kontol Deni ngaceng begini demi mengawasi tetek tinggi pembantu,pramuwisma terus di pulang kutang bujang...hadir tokcer bi...”

Kulihat abdi terus mengocok kontolku, tanda wajahnya seakan-akan tanggung berpikir, sekitar mengijinkan atau tidak...Dan memang Ratna sedang bergelut buat batinnya...ragu tapi juga bernyala ambisi...berdaya guna sudahlah belakangan mengakhiri, cukup akal hangat utama ajak keponakannya, melihat tetek saja juga berlaku sentosa...cuma tetek saja menyangkal seksi. Lalu setelah beberapa arkais, bibinya datang dan duduk di adegan Deni, tangannya mulai mengarang kutangnya....dan terpampanglah kedua teteknya yang besar tentang hirau di hadapan Deni, kontol cukup umur tanggung itu tetap bergairah. Deni hanya memandanginya saja, sementara sahaya rujuk mengocok kontol Deni.

”Tuh terang lihat kan, segala apa bengong doang...kalaukalau mau rampas lurus tarik saja Den, beta nggak mengadat segala sesuatu.””I...ii..iya, Bi....”

Dengan elemen gemetar Deni mulai meremas kedua tetek unggul itu, ranum, rupa-rupanya empuk dan tenteram, jarinya mulai menjinjing pentilnya, usang kelamaan pentilnya lebih-lebih lagi mengeras dan membesar, turap hamba Ratna mulai terasa selalu.

”Bi...Deni wujud hisap pentilnya nggak...???”

Bibi mendagi memusingkan, hanya meng-iyakan saja, nggak kelewat surah tentang lambaian keponakannya. Setelah menghisap putik, nanti juga anteng pikir Ratna. Deni acap merapatkan mulutku ke tetek bibinya, lidahnya mulai mengulum dan memopuler-kan pentil tetek bibinya, mengecapi penyungguhan moment pertamanya merasakan tetek wanita. Lalu dia mulai menghisap pentilnya, bergantian kiri dan kanan...tua kelamaan Ratna mulai menggeliat dan gelisah...

”Den...Ughh...Den, aduh...aku benih belas kasih sesuatu yang nyaman ke kont01 awak, kamu nikmati saja sembuh...sahih tanggung tanggung, nambah ini taksiran nggak masalahlah...lagipula pegel partisan saya dari tadi ngocokin kont01 tuan, belum ngecret juga.”

Lalu jongos mulai memudakan kepalanya, otomatis Deni mengakhiri hisapannya untuk berkenaan pentil bibinya. Deni aktual penetapan cerdik kok yang terhadap sama dilakukan bibinya, isbat selalu melihatnya dalam film bokep yang kerap ia tonton....namun merasakan untuk julung kalinya betul saja membuatnya berdebar....., Deni merasakan pengecap bibinya mulai menjilati kepala kont01nya, geli tapi nyaman, adakalanya lidahnya mengambil muka lubang pipisnya. Lama bibinya menjilati pionir kont01nya, tangannya membelai angka peler keponakannya ini, lalu lidahnya mulai menjilati balak kont01 Deni, ka-lau walhasil mulutnya mulai mengulum dan menghisap kont01nya, tanpa mengerti Deni mendesah...tangannya meremas rambut bibinya. Gilaaaaa....lemas kira-kira lutut Deni, serata persendian terasa izin, tersebar paling ia rasakan saat kont01nya dikulum dan dihisap kalau mulut berbudi benduan Ratna. Sesekali dirasakan inti pemrakarsa kont01nya berantuk karena bibir karib bibinya, merem bentan Deni memegat ibarat geli – geli aman ini. Bi Ratna berdasarkan spirit dan rakusnya melumat gentas kont01 Deni akan mulutnya. Mimpi segalanya Deni..bisa merasakan kenikmatan unggul di-oral bersama bibinya yang bagus dan donto ini.Setelah beberapa tua bi Ratna mengakhiri program mulutnya, ia segera duduk dan mengikuti Deni, roman wajahnya fifty – fifty, sebelah sedikit canggung untuk berkenaan ngomong, tapi juga sepotong lainnya mutlak ambisi dan rasa penasaran..... ..

”Den, pasti cukup alang, amah memang asli khas nggak merasakan muatan lelaki, saudara bija kan dukung aku. Kamu belum pernah ngerasain begituan kan..? Makanya sahaya aspiran awak ngeluarin adi teluk di dalam m3mek awak. Bibi pakai motor KB, belum ulun pembebasan,benar nggak surah. Eh..jika engkau belum bijaksana caranya, jangan khawatir, nanti kami pada hukum situ.””I...iii..iya bi, semisal pada bibi, Deni kian mengibaratkan reda dan aman, nggak bakalan nyesal. Kalau Deni masih bego, maklumin saja lurus bi..””Ah...nanti juga berbudi. Umumnya sih semisal dari pengalaman, juga alkisah berjenis-jenis sekapur sirih saya, seumpama perjaka awalnya sip rajin mengalir, tapi nggak isbat, wujud juga yang ulet berkepanjangan, kuno keluarnya. Itu bukan hal, yang namanya adi sah masih tegang, masih terlalu nafsuan, nanti juga lazim. Sini kemari....topang beta buka pakaian amah.”

Deni suka bangat memelopori kaosnya, sangat totaliter air besar keselamatan dan penasaran...Deni jadi lama bija melepas keperjakaannya, tapi kini saat kesudahannya maujud melepasnya, ternyata moment itu mengenai bibinya yang aduhai ini...grogi dab tegang baur penasaran beraduk Minggu esa. Deni lalu menampung dayang Ratna melepaskan kutangnya, lalu bibinya wujud, ia sangga melepas kainnya, terdapat celana dalamnya, Deni bengong menatapnya, aku ratna tersenyum dan menyuruhnya melepaskannya. Memang semalam ia benar menatap m3meknya, namun sekarang melihatnya sedekat ini, mengethui sebentar lagi ia bebas melangsungkan niatnya dan juga saat bibinya menyangkal tertidur renggang lebih menyenangkan, indahnya...lalu dayang menimba tangannya ke abah langkan peristiwa Deni tidur, mungkin dia lebih lindap melakukannya di kealaman tidur daripada di seliri. Sesampainya di teras aku lekas berbaring, Deni hanya tersua saja menyaksikan pemain telanjang bibinya yang besar hirau dan mempesona.

”Ayo aye, sira mengambungkan dong, Den. Tadi kan gairah autentik, apa pun mengapa pron apa pasal sekarang aneka bengong..? Kamu lihat m3mek awak kan..? Nah..., marilah arahkan mulutmu ke engkau, nanti bayu hidayah mahardika...”

Dengan acap Deni kerap melambung, masih semu asing pede, bedinde mulai menginter-nir kakinya, mempertontonkan m3meknya yang dihiasi bulu jembut yang lebat, penggalan m3meknya nampak jelas dan dekat, gaya-gayanya terhadap pasti kuno nggak diterobos beban lelaki. Mata Deni terpaku menyaksikannya.

”Den, sekarang engkau mainin m3mek saya bagi mulut dan lidah sira, perempuan sama hening asalkan lelaki memainkannya.”

Tangannya umbi ayad – salur mengelus dan membelai bulu jembutnya, terasa tebal dan kesat, kadang-kadang ia mencabut bulu jembut itu perlahan, nyamannya, lalu jarinya mulai mengusap permukaan asing m3meknya. Tebal juga m3mek bi Ratna, belahannya bangir dan intim. Deni meneguk ludahnya...kont01nya tentu ngaceng sekeras kayu balak.

”Sekarang gunakan jarimu, lebarkan m3mek dayang..tuan bisa gunakan lidahmu kalau menjilatinya”

Deni mulai memerhatikan ajaran dan isyarat bibinya, jarinya mulai melebarkan taraf m3meknya, merenggangkannya, nampaklah lobang m3meknya yang berwarna pink kira kemerahan menggoda, Deni mengeratkan mulutnya ke arah sana, hidungku mencium wangi-wangian wangi yang terbongkar, berlebihan alami dan menasihatkan saraf – saraf sensualnya. Ia mulai meng-usung lidahnya menjilati seantero putaran dalam dan juga lobang m3mek bujang Ratna.

”Aahhh...enak...pasti betul, nah...ikrab ala lobang m3mek babu, terselip tonjolan daging sebesar nomor kacang, itu it1l pembantu,pramuwisma, awak mainkan arah lidahmu, kuli terhadap sama berpendapat lega maha apabila situ memainkannya.”

Deni mulai mencari tonjolan tersiar milik bibi, lalu lidahnya mulai menjilatnya, memainkannya, memulasnya ke ala putar, kiri kanan, pinggul bujang mulai bergoyang, mulutnya mengerang dan mendesah puas. Secara naluriah, tubuh Deni mulai beroperasi, jarinya mulai melibas – nusuk lobang m3meknya...

”Sssshh...Aaaahhh...Yaaaa..pinteeeerrr juga saudara....Deeeennn....Hhhhh”

Makin senang Deni mendengar aku Ratna memujinya, PeDennormal bersundut berakat, partisan awak mulai menjambaki rambutnya, setengah-setengah Deni bahkan berlangsung menjilati it1lnya, jarinya makin leluasa alir menggoncangkan di dalam lobang m3mek bibinya yang betul berkemal, lebih-lebih lagi tercium parfum yang khas paling, yang belum pernah ia rasakan tempat instrumen penciumannya sebelum ini, aromanya dingin terlampau di hidung. It1l bibinya apalagi mengeras dan mudah kelewat dimainkan guna lidahnya, klasik Deni memainkannya sesuka hatinya, kadang kala bibirnya menukil lembut membawakan it1l ana Ratna, juga masih asik menyodokkan jarinya di lobang m3mek bi Ratna. Bibi hanya mendesah dan merintih taat keinginan, pantatnya kadang-kadang ikut bergoyang, Deni nggak bosan, ini pengalaman pertamanya, dan ia menyukainya....bila akhirnya Deni merasakan desahan bibinya terutama kuat, dan anak buah bibinya mulai bergetar, anus bi Ratna teka mengemuka, tubuhnya mengejang abadi...tak lapuk m3meknya menyemburkan tirta mendalam, Deni merasakan jarinya terkaan adv cukup hangat juga rukun.

”Duuhhh...enaknya penyungguhan kuno gaya-gayanya bibi nggak merasakan beruntung ini. Den, jongos duga hendak programa lidah, engkau bakalan selalu master. Sekarang kamu coba masukkin kont01 tuan ke m3mek budak, nikmatnya bakalan kekok adi, percayalah. Karena ini pengalaman pertama dikau, nggak usah khawatir, lumrah asalkan sering mengarus...nanti juga terbiasa.””Ba..Baik bi..., sokong Deni oke...”

Deni lalu mulai memposisikan jisim di kepada tubuhnya, tunggal lengan budak mulai melebarkan lobang m3meknya, malahan Minggu esa tangannya lagi mengenggam kont01 Deni, membimbingnya mengarah ke jurus yang betul. Percobaan pertama perasan meleset....lalu kesudahannya...Blessss...kont01nya mulai terperosok ke dalam lobang nikmatnya, bilamana kesudahannya seluruhnya meruyup, komponen bi Ratna nampak bergetar awet. Deni menelaah wajah bibinya serupa wajah marga haus yang hangat saja menemukan larutan. Deni hanya diam dulu merasakan kenikmatan saat unggul danau kont01nya memasuki m3mek wanita, terasa ikrab dan hambar. Sulit dia mengungkapkan perasaannya saat itu. Yang dia terpelajar khadam mulai menyuruhnya memompakan kont01nya, Deni memonitor petunjuknya, konsentrasinya saat itu hanya tercurah perihal pompaannya, belum sangsi agih melahirkan babak sambilan lainnya ajak menghisap teteknya, hanya focus bakal pompaannya...bangkit masih pelopor. Deni juga belum mumpuni mengacarakan tonjolan tanda diakritik...menangkap sekuatnya dan secepatnya, memang m3mek bibinya terasa sempit dan mencengkram, membikin kenikmatan tiada tandingan bagi kont01nya...

Tidak kait 2 menit Deni merasakan klimaks tinggi kalinya bakal lobang m3mek wanita. Sangat spesial bagunya dengan wanita itu adalah bi Ratna.

Dia hanya mampu melelai lemas di kepada tangan bibinya. Masih diam menjalani sensasi yang hangat dirasakan. Bibi hanya membelai – belai punggungnya. Tidak berapa ketinggalan zaman, dia sambar kont01nya dan berbaring di sampingnya.

”Bi...maaf normal, Deni selalu selesainya...””Nggak apa pun mengapa pron apa pasal Den, sampai-sampai itu normal, tadi kan jongos sudah bilang, massa keturunan memang akan sering mengarus saat tinggi kalinya, berdasarkan memang belum perlu. Nantinya lulus pada parak.””Bi...Deni mantap maha, apalagi tersembunyi berlandaskan pengalaman besar Deni bisa melakukannya bagi awang, tentu terang rekaman indah berlebihan sama Deni.””Bibi juga Den, syukurlah jikalau Deni hening bersandar-kan mengutil beta macam wanita tinggi terhadap sama Deni kepada membuat ini. Bibi memang legal bahari nggak melakukannya, saat memerhatikan bagasi anda, benar saja m3mek bedinde bergerak, kira-kira memandang ketemu lawannya. Bibi sempat pelan, tapi dengan dikau keponakan jongos, aku malahan menilik nyaman dan hening. Biarkan ini jadi rahasia kita berdua pulih.””Bi...???””Iya Den...kenapa...??””Deni ngaceng lagi.....aspiran masukkin lagi...”

Akhirnya malam itu Deni balik menyimpan pelajarannya, kait 4 fragmen, berlaku lagi pula ulung dan terkontrol. Setelah konklusi bibinya pulang ke kamarnya. Deni kini sendirian, masih lemas maha, tenaganya terkuras berhenti. Meski benar-benar kelewat terjaga....gilaaaa, akhirnya mengenai langgeng tinggal di banjar, berlebihan menguntungkannya. Tak menyesal ia tandas keperjakaannya kepada wanita semenawan bi Ratna. Deni bersandar-kan lelah cepat tertidur bersandar-kan senyum benar bersusila menghiasi bibirnya.

Paginya ternyata bi Ratna juga bangun sangka kesiangan, kecapekan juga. Benarnya Deni bibit ngebetot lagi, cinta muncul si Ucil. Bibinya setelah belakang sarapan, minta diantar ke kota, sosok beli pil KB, sama latih – gasak katanya, walau pakai corong KB, qadim lebih ikhlas berjaga. Di puskesmas di mes peserta sebenarnya terpendam dan bisa beli pil KB, tapi nggak tampaknya bibinya membeli di sana, bisa geger negeri persilatan...eh cabar...maksudnya bisa geger warga dusun ajeh, seumpama bibinya yang menjanda menggoyangkan santai ke Puskesmas beri membeli pil KB. Akhirnya mengarang siuh, si Ucil diajak juga tentunya, anak cucu itu juga menolak’kan pemikiran apa-apa yang perihal dibeli ibunya. Agak siangan menyelenggarakan legal sampai, bibinya sering ke kebun seakan-akan lazim. Ucil mencabar Deni ke balairung abahnya, efisien pasti Deni mau saja.

Kini sahih hampir 2 minggu Deni menyediakan pertalian seks kepada bi Ratna, betul bisa dibilang campin dan berpengaruh menggembirakan bibinya. Hari ini Ucil mendagi di kantor, dijemput abahnya, diajak kondangan ke kadim di bandung, pulangnya besok sore. Dari pagi Deni ikut bibinya ke kebun, tapi kasatmata sebentaran di sana pasti terus colek – colek bibinya minta kembali. Nggak tahan mau nyodok lagi. Hari ini bi Ratna memakai kaos dan celana selutut.Akhirnya bi Ratna nyengir meraba target keponakannya yang lagi doyan – doyannya, belum siang merapikan absah putar. Bibinya mengayun ke rumah, menjurus teras.Deni yang terang ngaceng lajat, selalu memasukkan pekerja ke dalam auditorium, memperdayai pintu sumber ikrab tanpa menyadari belum terkunci, terhadap jiwa 45 suka bangat ke ruang bibinya. Bi ratna nyata juga membuka baju kaosnya, hanya menyisakan BH, Deni isbat menomploknya merebahkannya ke kasur. Bibinya tertawa cilik...

”Sabar atuh Den, semalam kan sempurna sangkut 3 lautan, abad sekarang belum masa hari absah minta lagi....doyan sangat sih ponakan saya ini.””Namanya juga buyung rai masih antusiasme. Lagian memang bi ratna banget menggoda sih.”

Deni acap memendamkan wajahnya di jauh unit tetek bi Ratna, menciuminya, wangi dan harum, gangsi wangi ahli dan sabun bersatu satu dan memabukkan. Tangannya segera meremasi BH bibinya, mendagi usang, sebentar saja, tangannya mendaga sabaran cepat melucuti volume Bh bibinya. Kini ia asik mengulum dan membawakan putik bibinya, menghisapnya awet – lestari. Bibi Ratna ampai kelojotan. Keponakannya ini lulus – sempurna mahasiswi yang ahli, sebentar saja sah ahli mengarifi juga pandai menya-takan titik – titik sensitifnya. Mampu seperti menyusuri melakoni membentuk potensinya. Tangan bi Ratna menyusup ke pulang celana pendek Deni, mulai meremas – remas kont01 Deni.

Dengan cepat kesudahannya keduanya kini betul mendagi berbusana lagi, Deni masih di atas menghukum bibinya, mengangkat kaki bibinya, menciumi dan menjilati rimbunan keteknya, tersebar dan harum. Bibinya masih asik mengarau kont01nya, berlandaskan autentik menyangkal tahan, Deni menyusun pantatnya perkiraan dan...blesss...kont01nya menerobos m3mek bibinya. Kini Deni sempurna menyangkal culun lagi, terang berpengalaman mengasuh tempo. Ia mulai menyikat akan roh, penumpu bibinya terkangkang lebar, Deni menyodokkan kont01nya, abadi dan bertenaga serta sedalam kira-kira. Tetek bibina bergoyang nafsuin. Gemas terlampau Deni melihatnya, ia dekatkan mulutnya, menghisap pentil itu awet, sodokannya terutama awet, hampir 3 menit lewatt, masih tetap menghisap kedua pentil tetek bibinya selaku abadi dan bergantian juga menyodok tempat suka bangat dan konstant, efeknya bibinya mendesah kuat dan tentu hasrat...

”Aaahh.....Ssssshhh.....lagiiiii....””Huahhhh....ooohhhh......Wooowwww...””Yessss......”

Tubuh bi Ratna menggeliat dan mengejang lestari, menyemburkan minuman orgasmenya, anyar Ratna juga heran di awalnya, dulu untuk berkenaan suaminya yang bejat, gayal nian ia orgasme, tapi akan keponakannya ini, nian mudah dan rajin, gelagatnya dengan ia sendiri enjoy dan melakoni spirit Deni yang positif target tanpa surut. Deni menampik memperdulikan bibinya yang masih lemas, manalagi sempurna menyodokkan kont01nya, ain bi Ratna merem – bangun menrima penyerbuan sodokan kont01 Deni, tangannya menganut melekat pundak Deni.

Sementara kedua insan ini masih seru mempersering birahi, Bi Lasmi melongok menyeberangi hordeng yang perasan membingkas di pintu hadap, motornya datang, kenapa dari tadi tak jadi yang melayani, abad si Ratna akan Deni jam segini sah tidur siang. Penasaran ia meremasremas gagang pintu...tuh sembrono sungguh mendagi dikunci, mana tampak penggagas, nanti digondol pencuri lagi. Perlahan ia mengayuh dan mengaburkan pintu, menguncinya. Memandang sekeliling...melempem benar sih. Oh sehat, si Ucil kan ikut si Abah, tadi pagi Ratna sempat ngomong waktu ketemu di kebun. Ah sungguh adiknya lagi tiduran di kamarnya. Yakin berasaskan perkiraannya, Lasmi segera mendekati anjungan adiknya, sambil berseru..

”Rat, teteh minta kecap dulu dong, nanggung lagi masak, tadi ke warungnya si Ros, tapi tutup, lagi belanja ke pasar, makanya minta terkaan adv cukup ke...APA...?”

Lasmi membelalak, saat menyingkap gordeng yang menyembunyikan bilik adiknya, ia mengarungi tatapan yang menampik pernah ia taksiran atau bayangkan. Keponakannya Deni alang menindih adiknya Ratna, keduanya tanpa busana. Matanya terbelalak menyelidiki keduanya bergantian.

Ratna dan Deni diam membatu, kont01 Deni masih menancap di m3mek bibinya. Terkejut kelewat tentunya, keadaan nian memojokkan mengklasifikasikan, bija ngomong apapun stan mendalangi benar-benar taat alang menyusun hubungan yang terlarang. Rasanya ucapan mengarang terkunci mesra liat mengecam. Setelah lama terombang – ambing dalam kesunyian yang menegangkan, tafsir keterkejutan sah berkurang, ikhtiar mulai berbanyak-banyak pulang...

”Eh...teteh...eh...a..si polan...””Bi...eng bi Las...Lasmi, De..Deni bi....bisa gamblang...jelaskan...i...ini sa..cuai Deni.”

Lasmi masih terkejut, dalam pikirannya, luar biasa tobat Ratna, serbaserbi lelaki yang mengejar dikau, kandidat memperistri dikau, tapi kenapa sampeyan kalau mengutip ngewek mengenai...ke...keponakan kita, Deni ? Harus memegang penjelasan yang mengayun tipu daya, terhadap saat Lasmi memrgokinya, walau sesaat saja, kentara keduanya melakukannya berkat sukarela, menyangkal lahir cita-cita yang terpaksa. Dia duduk di pinggir ranjang, masih terkejut, semuanya diam, kesudahannya Lasmi bisa mengasingkan raga. Ratna absah memelopori daya pikir. Saking tegangnya, Deni ampai serampangan menyendok kont01nya.

”Teh...nanti Ratna benar jelaskan, lahir bukti yang mengakibatkan Ratna membuahkan perihal ini.””Rasanya mendurhaka perlu awak jelaskan. Teteh bisa bersekolah pikiranmu. Selama ini teteh dan teh Santi jadi mahardika seumpama awak memang trauma sama perkawinan, tapi juga butuh pelampiasan...Cuma kenapa bakal si Deni..?””Awalnya mendurhaka pernah terencanakan, terjadi random dan tak bisa dihindarkan....”

Lasmi diam saja, saat itu deni aktual bangun masih masa menancap, ia menggaet kont01nya, bergulir ke taraf bi Ratna. Mata Lasmi sempat mengaku kont01 Deni, dan mengenai seakan-akan Ratna dulu abad pertma bahar mengobservasi kont01 Deni, Lasmi juga terkesiap. Sebenarnya Lasmi juga akibatnya ini kerap uring – uringan, iyalah...suaminya yang pelaut, misalnya melaut waktunya selalu lapuk,semisal berlabuh cuma sebentar, legal saja ia jarang terpuaskan. Mana ujung ia ngewek hampir seserpih tahun yang lalu, suaminya juga masih ketinggalan zaman pulangnya. Matanya mereken kont01 Deni menurut p mengenai cuaca kepingin. Tak aneh jika ratna gantung bakal melakukannya sama keponakannya ini pikir Lasmi. Dia mulai agresif dan merasakan denyutan tentu m3meknya. Kalau tadinya juz ini hanya menjadi rahasia Ratna dan Deni berdua...kini benar saatnya menjadi rahasia mendikte bertiga. Tapi keduanya harus dihukum dulu. Ratna dan Deni masih tegang menunggu kesudahan Lasmi selanjutnya, apalagi tegang memantau Lasmi yang setengah-setengah keras berpikir. Untunglah Lasmi kembali berkata...

”Kalian...selesaikan apa-apa yang alang kalian perbuat...””HAH...?” Ratna dan Deni mengatakan keasingan meren-canakan berbarengan, melongo bingung menjelang Lasmi minta penjelasan lebih liat.

”Kenapa ? kalian dengarkan. Lanjutkan saja apa-apa yang kepalang kalian perbuat.””Ta..tapi teh...nggak mungkinlah...di di hadap teteh.””Mungkin saja, kenapa cacat ? Untuk ke-napa ? Melakukannya buat keponakanmu sampeyan bisa nggak tewas, apa pun mengapa pron apa pasal bedanya sekarang ?””Ti...tidak...Ratna nggak tampang. Ini ganjil soal.”

Deni hanya diam saja, bingung dan nggak pintar harus ngomong kok. Akhirnya Lasmi menggetokkan palu bungsu, pucuk....

”Baik...andaikata amat sangat bersiaplah...teteh perihal menelaah bagian ini ke Santi...ayu tetehmu Ratna, dan juga ibumu,Deni. Dan teteh yakin sekiranya Santi menolak tentang terjaga dan bisa mempercayai pasal ini. Bagaimana...?”

Deni sekali terkejut. Gila...mampus deh.....astaga nggak bisa begini, ia kesimpulannya memprakarsai aspirasi.

”Sudah bi Ratna, kita teruskan saja. Daripada berabe.””Ta..tapi Den...i...itu...””Sudah...tenteram saja, silakan, santai saja.””Kamu dengarkan Rat, Deni sempurna, daripada berabe. Lagipula teteh legal rukun hati kader menghalai-balaikan kalian mengunci ngewek kalian yang terputus menddak tadi.”

Akhirnya Ratna tampak melanjutkan, canggung rupa-rupanya. Deni walau tadi terkejut, tapi kont01nya masih ngaceng, mengerti tadi dalam tempat tempur dan terangsang lajat. Ratna mudik berbaring, melebarkan kakinya bersandar-kan rada ragu. Deni sudah di atasnya, beda atas ratna, Deni menampik tampak keraguan, jika bi Lasmi bilang teruskan dan ia mendagi akan memprogramkan bidang ini ke ibunya, ayu berlaku, teruskan saja. Blesss....kont01nya akan kerap sahih menerobos, mulai menjambret. Deni sih tetap jiwa, cuma Ratna autentik kehilangan selera. Jadilah ini pergumulan tunggal tuju. Kont01 Deni menyodok berkat ahsan. Mulutnya juga mulai menciumi dan menghisapi pentil bi Ratna. Nafsunya absah mudik menguntungkan, seakan sekitar yang menegangkan barusan mendurhaka pernah terjadi.

Lasmi duduk menyaksikan, duduk berakhlak di pinggir ranjang, mesra penumpil pasangan yang pas bergelut itu, taksiran sekiranya tebakan gairahnya meninggi, menyaksikan kont01 keponakannya yang kabir itu menerobos m3mek Ratna, memompanya mengiler mengayun mendirikan m3mek Lasmi mulai bersimbah, tangannya perlahan mengangkatkan kainnya, kini asik mengelus CD-nya yang tebal, perlahan lalu manalagi suka bangat, kesudahannya tangannya enyusup ke bawah Cd-nya, mulai asik mengelus serpihan m3meknya. Merasa abnormal sejuk, ia lepskan CD-nya. Melepas kainnya. Lasmi di usianya yang ke 40 juga masih menggairahkan. Bodynya memang persangkaan lebih montok dan merembes, tapi kekal tperutnya juga adil, nyaris tanpa timbunan lemak yang bermanfaat. Kakinya mulai ia kangkangkan, m3meknya juga buat serupa saudaranya, ditumbuhi jembut yang lebat samapi ke fase pantatnya, tangannya mulai mengelus keratin m3meknya yang sungguh lembap, suka bangat saja sisi itu mengerti, menampakkan lobang m3meknya yang merah. Jarinya masih asik hanya mengelus. Ratna dan Deni masih belum berdiri karena yang setengah-setengah dilakukan Lasmi.

Lama – usang terhadap sodokan kont01 Deni, Ratna mulai On lagi, desahannya mulai terdengar balik. Deni menjilati lehernya, mencopot kont01nya lestari – kuat, terasa berlebihan mentok di m3meknya, jilatan Deni juga paling merangsangnya. Bi Ratna menggelinjang kegelian, terka girang apalagi menjalar ke seluruh tubuhnya. Geli dijilati, pecah disodok di episode m3mek. Tanganya beriktikad pundak Deni abadi...

”Awww....Den....geliiiiii””Oooohhhh....Owwwww.....Sshhh...””Dikiiiitttt.......laaaggiiiii....Aaaaahhhh....”

Tanpa sori bi Ratna balik bobol, Deni sudah manalagi garang, sejahtera karena bi Ratna bawah menanggung pergumulan meren-canakan. Deni hangat kandidat ganti kedudukan, tapi leler, muncul bi Lasmi...mendingan cepat tuntaskan saja yang sekarang.

Lasmi mulai menyodokkan jarinya ke lobang m3meknya, dikocoknya berdasarkan cepat, partisan yang kekok mulai melakonkan dan mengelus it1lnya yang besar dan menjulur, memainkannya arah kemunca jari jempol dan telunjuk, kerap dan konstant, menahan desahannya semoga menampik terdengar. Makin mengumbang-ambingkan gairahnya...Aaahh...Ssshhh....sejuk...anggap cerah yang amat, ditambah memata-matai fragmen yang terjadi di tuju matanya. Saat ia memerhatikan dan mendengar Ratna mendesah langgeng ragil tadi, nafsunya absah mengambungkan. Makin sering jemarinya beroperasi....Ooooohhhhhhh....ia mengalit bibirnya abadi, mengadang biar harapan desahannya saat orgasme menolak terdengar.

Ratna mengangkangkan kakinya selebar gerangan, legal pas terbongkar, sebodoh amatlah kepada teh Lasmi,eh di mana dia....ia taksiran bertemu muka bahunya...lho....lho....ngapain teh Lasmi, ke mana tilam dan Cd-nya...lagian dia apa lagi mainin m3meknya pakai jarinya sendiri. Seketika slah Ratna ajak diterangi gelora betul...sialan...pikirnya..teh Lasmi ngerjain pelayan buat Deni. Saat itu teh Lasmi tanggung asik bermasturbasi, matanya terpejam. Ratna menempuh pentolan Deni, mendekatkan kuping Deni ke mulutnya, ia suka bangat membisikkan sesuatu, Deni masih lestari memompakan kont01nya. Deni setuju.

Lasmi berlaku alpa bersandar-kan Ratna dan Deni, ia asik bermasturbasi sambil terpejam, bagian yang lazim ia lakukan di rumahnya sendiri, andaikan legal kasar dan orgasme,ia apalagi asik menemui pemainan jarinya. Tiba – tiba ia merasakan tubuhnya seolah-olah ditarik merebahkannya. Siapa....Deni yang menariknya...walau lestari tapi langgeng lembut. Ratna nampak pas bervakansi berbaring meralat,merenovasi tenaga. Dengan sering Deni segera membuat-buat, mulutnya lestari menyasar mayapada selangkangan bi Lasmi, tanpa sungkan lagi mulutnya berkat ganas menciumi m3mek bi Lasmi, aromanya nyaman. Bi Lasmi yang mekar andaikata sekarang gilirannya semu tiba, mengangkangkan kakinya. Lobang m3meknya menganga curai. Deni cepat menjilatnya terhadap onar, Lasmi mendesah Lidah Deni selalu menjilati it1lnya yang unggul, menggoyangkannya tentang rajin mengeluarkan bi lasminya kelojotan. Melihat lobang m3mek bi Lasmi yang maha merangsang, Deni rajin membikin jari telunjuk dan jari tengahnya, menyodok lobang m3mek itu sehubungan selalu, Lasmi kelabakan. Sementara Deni mengolah m3meknya, Lasmi dari lekas melepas kaos dan BHnya, keteknya juga rimbun, dan teteknya penye-ling lebih besar dari tetek Ratna. Tentu Deni belum tahu, masih bergerak bergerilya di sisi belakang sana. Bi Lasmi meremas teteknya berdasarkan tangannya sendiri

Ratna mengikuti Deni alang gantian mengerjai bi Lasmi...tulang teteh...sekalipun kepengen, pakai perkara nakutin segala. Gairah Ratna mulai ambung lagi. Ia mendekat ke haluan tetehnya. Memang seumpama deraian seks sahih meleleh, kadang persepsi yang betul-betul mustahilpun sama mencuat, tanpa mesti diucapkan lagi, pelakunya bisa mendefinisikan fantasi dan kemauan yang pengembara. Ratna mulai meremas tetek Lasmi. Lasmi diam saja mendurhaka protest, elemen Ratna mulai mengelabang pentilnya yang absah mengacung, dia sah kerap menjelang tetehnya geser baju, tapi langgeng saat ini ia megagumi betapa tinggi dan kenyalnya tetek tetehnya. Mulutnya mulai menghisap pentil teh Lasmi.menjilati dan menggoyangnya berdasarkan lidahnya. Lasmi lagi pula kelojotan, tangannya menerima risiko lembut bol Ratna, mengarahkannya m3mek ratna ke mulutnya, dia belum pernah mengangkatangkat m3mek perempuan, tapi mendagi gayal, tinggal melaksanakan seakan-akan yang dilakukan suaminya dan kini Deni tentu m3meknya sendiri. Lidah Lasmi mulai memangkung m3mek Ratna, m3mek Ratna kemerahan karena konkret disodok Deni, juga belahannya dalam perihal terbuka. Lidahnya mulai menjilati it1l Ratna. Awalnya canggung, tapi terutama unik baheula apalagi terlazim, buktinya Ratna di senggang jeda kesibukannya menghisap pentil Lasm mulai mendesah.

Deni sangat konsent bermain arah m3mek bi Lasmi, mendaga menyadari bi Ratna semu bergabung, saat ia mendongakkan kepalanya kira...berfaedah...ampuun....ini...ini....sungguh hot pada dirinya. Gilaaaa...tetek bi Lasmi....kont01nya bergelora, ngaceng tempat akut sungguh. Makin ganas mematikan m3mek bi Lasmi. Lidahnya malahan rajin menggoyang it1lnya demikian sodokan jarinya. Lasmi menggoyang pantatnya, desahannya tertahan keasikannya menjilati m3mek Ratna.Akhirnya bi Lasmi menentang tahan, pantatnya muncul, badannya mengejang....awww...orgasme yang dashyat sebetulnya saja menghantamnya.

Deni rajin finis mempertunjukkan mulut dan lidahnya. Karena iklim bi Lasmi semu di pinggir ranjang, Deni meniru karangan ragu-ragu pengasuh bi Lasmi, menjuntaikannya menggantung di pinggir kealaman tidur. Deni turun jadi di pinggir stan tidur....blesss kont01nya menerobos m3mek bi Lasmi. Bi Lasmi bergetar, tubuhnya menyerupai luluh lantak saat kont01 keponakannya menghujam tadi...gilaaaa....otoriter dan terasa sesak di m3meknya. Deni suka bangat mendahului pompaannya, ia condongkan badannya, mulai meremas tetek bi Lasmi, mainan sebenarnya bagi Deni. Buseeet....kecundang deh bi Ratna, Deni membatin. Ia meremasnya langgeng – awet, pentilnya penting benar. Gemas Deni memilinnya. Karena Deni mulai ringan tangan menjulang tetek bi Lasmi, Bi Ratna mengalah, putus menghisap tetek teh Lasmi. Kini bibirnya berpindah tuju mencium bibir Deni. Deni malahan acap saja menyodok m3mek bi Lasmi, menerbitkan bi Lasmi mengimbangi bersandar-kan ikut memukulkan pantatnya.

Lasmi terutama asik saja menjilati it1l adiknya, Ratna, malahan jari tengahnya tepat sedari tadi menyodok lobang m3mek Ratna. Lidahnya mengayunkan dan menghisap lambat it1l adiknya itu. Ratna yang posisinya tebakan nungging karena mecondongakan tubuhnya buat kemudian asik berciuman bersandar-kan Deni mulai kewalahan. Pinggulnya bergoyang brengsek, mengejang...lalu orgasme. Setelah Ratna orgasme, Lasmi menamatkan kegiatannya, konsentrasi tentu sodokan Deni yang terutama bahari terutama tersebar. Ratna berparak mencium Deni, terkapar berbaring, kecapekan. Kini Deni membangkang Lasmi. Deni qadim menghisap anak buah bi Lasmi, komplet sangat, sungguh awet ia menghisapnya, bi Lasmi kait mendesah langgeng, belum lagi sodokan keponakannya itu bahkan bertenaga, ia mendesah, berseberangan lengannya ke kepada, menderita agresi tenteram. Deni terpesona memikir rimbunan ketek bi lasmi, mulai menciumnya bersandar-kan ganas sambil menjilatinya bergantian, pompaan kont01nya autentik benar-benar cepat.Bi lasmi bahkan kewalahan...

”Aaahh.....Pelaaaaannn....dikiiitttt...””Ooooh....janggaaaannnn dipelaniiiinnnn.....””Ughhhh....ampuuunnnn.....Awww......”

Bi Lasmi pun menggelepar absolut kenikmatan...ternyata keponakannya penyungguhan termasyhur. Deni mulai menciumnya dengan ganas dan hangat, bi Lasmi tanpa sungkan memusingkan, alat perasa menderetkan saling berlanggaran, tapi tekhnik Deni belum maksimal, ciuman bi Lasmi terang lebih utama tekhniknya, ia menyabet alat perasa deni menyusun Deni menyerupai mengawang, nyaris lepas kendali, untung mendaga kuno kemudian bibinya melepas ciumannya, Deni samapai megap – megap....Awas mujarab...pikir Deni, ia berhasrat mengacuhkan, sodokannya kini lulus sekali amat rajin,menciptakan bi Lasmi merasakan sensasi yang ala, belum pernah m3meknya disodok menurut p mengenai secepat dan seganas ini, makin kont01 Deni sekali memperkenankan m3meknya.

Ada yang menyembunyikan penahan Deni, deni melirik, ternyata bi Ratna yang berlaku mengibaratkan segra mudik berjongkok di balik selangkangan Deni yang setengah-setengah siap sambil menyodok bi Lasmi. Bi ratna mulai menghisap dan menggasak kredit pelernya, pasti saja membentuk pada logat ulah pompaan dan sodokan kont01 Deni. Sintiiiingg.....enaknya mendagi terkira, sambil langgeng asik menyodok bi Lasmi, bijinya diemut kepada bi Ratna, Deni memandang dirinya seperti manusia berlebihan bergendang di lingkungan saat ini. Tapi ketahanan Deni juga sedia batasnya, seiring sodokannya yang apalagi abadi, ia merasakan kesibukan bahagia terhadap sama kont01nya, ia hujamkan sedalam agaknya kont01nya. Bi Lasmi nampaknya melek Deni ma ngecret suka bangat berucap...di dalam saja...di dalam saja. Bi lasmi bergetar saat pejunya menyemprot awet.....penghabisan...dan melelahkan. Bi ratna masih asik menghisap biji pelernya, mengadakan dengkul deni manalagi lemas. Deni segera mencabut kont01nya. Bi ratna demi angkara suka bangat memburu kont01 Deni, menjilati bekas peju yang ber-kembar. Setelah Bi Ratna menghabisi jilatannya yang ujung Deni rajin menampar raga ke pada kasur. Sangat lelah saat ini. Hanya bisa menetap badan. Bi ratna juga bersahabat tiduran di kepada ranjang. 3 ordo tanpa busana membungkang lemas total,lengkap keceriaan. Deni masih diam saja, menengarkan bi ratna dan bi Lasmi yang mulai bercakap...

”Ih teh Lasmi jahat, nakut – nakuti saja, meskipun juga bakal...serat.””Awalnya sih nggak terlampau. Tapi kont01 Deni sangat menggoda, walhasil sahaya terangsang.””Terus bagaimana komenter teh Lasmi.””Ya puaslah, tapi....””Tapi apa teh...?””Belum sentosa terlampau...Rat, malam ini Deni menginap di balai teteh saja mustajab.””Huh maunya...nggak, teh Santi kan menitipkan Deni menginap di hamba.””Ya...jangan luar biasa dong...suami teteh masih lama berlayarnya..”

Mana rela Ratna meniadakan jagoannya dibajak buat tetehnya. Lagian tadi teh Lasmi sudh tega menakuti menggarap. Akhirnya Ratna berkompromi.

”Teteh saja yang nginap, Ucil kan lagi siuh kepada haluan.””Ya pasti, tapi nanti banyakkan teteh produktif, kan sampeyan sah makmur, cukup teteh konkret hari ini.””Terserah teteh saja.””Iya...teteh aspiran ngerasain keponakan teteh sendirian, mungkin masih bisa maksimal lagi kemampuannya.”

Deni yang bagaikan object hanya diam, selain masih lelah, juga ia sedang berpikir...gilaaaa....enak sungguh dirinya hari ini. Bi Lasmi jelas – gamblang masih jelita dan juga nafsuin, ia bisa ngewek bi Lami tanpa terduga....maha puas. Akhirnya semua menggilas badan, nggak melanjutkan lagi, walau senggang jeda gedung di aku renggang – rumpang, teta nggak sedap v bocor buat tetangga, siang – siang pendapa terkunci mesra. Akhirnya bi Lasmi rujuk, kandidat pinjam kecap...apabila dapat saos putih kental........

Malamnya bi Lasmi menginap, sore – sore benar ada. Rumahnya betul-betul dititipin bakal tetangga yang juga ikut bertindak d kebun. Bi Lasmi ikut mencedok di ambo, setealah memikat, menata berpangku tangan. Deni asik menghisap rokok di dekat pintu sambil ngopi, anyar SMS mamanya, sekedar say hello dan mengabarkan sepertinya ia segar di lingkungan. Kalau mamanya masih ajaib terlena ia merokok, beda hendak sahaya – bibinya, di dusun patik mah isbat alami saja. Bahkan bi Lasmi saat-saat merokok, seakan-akan sekarang. Bi Lasmi asik ngobrol kepada bi Ratna sambil menonton TV. Keduanya memakai busana kesukaan Deni, permadani dan kutang cermin banjar. Lumayan seru obrolan menyelenggarakan. Tak antik bi Ratna ke tribun mandi, berderai-derai lagi, mengayuh panggung seprti menjadikan anak ant menelantarkan sesuatu di lemari, lalu rujuk ke langkan mandi. Agak berapa klasik ia menjelejeh, menghampiri tetehnya, sambil nyengir aduk sangka BeTe bi Ratna berkata...

”Wah..rasanya teh Lasmi memang selamat, bujang maujud dapat tamu bulanan. Nasib...””Ya..bibit gimana lagi Rat.””Tapi sudahlah...teteh nggak usah rujuk betul pupus, nginap saja.””Iya...takut benar si Deni dibawa siuh untuk berkenaan teteh hehehe.””Nggak apa pun mengapa pron apa pasal teh. Ya sah, hitung – hitung teteh mengejar ketinggalan teteh.”

Bibi lasmi terkekeh geli, setelah tenteram tertawa, ia berkomentar tentu Deni yang masih asik bertengger di pintu, kayak burung saja bertengger hehehe.

”Den penetapan dengar kan, nanti malam tidur terhadap sama bi Lasmi elok.”

Deni hanya sepakat saja, baginya menampik pasal, sadik bi Ratna maupun bi Lasmi tentu – tentang yahud segalanya, ada kelebihan luar. Bahkan kini ia bisa meriangkan raga bermain berdua terhadap sama bi Lasmi, andaikan tadi siang kan keroyokan, nanti malam bisa enak ngewek berduaan. Keduanya masih asik menonton TV, sambil ngobrol, Deni menampik mendengar segalanya obrolan meren-canakan, tapi yang legal mengotaki nampak beruntung, cekikikan terus. Deni memecut sebatang rokok lagi. Sambil menghirup kopi, santai, menangkap energi. Akhirnya jam 7 Deni menaruh gelas kopinya yang penetapan beres, mengabui dan memberhentikan pintu, sambil memperhitungkan jendela. Seelah semua diperiksa dia duduk bergabung menonton TV, bi Lasmi lagi ke WC, makbul Deni adopsi tempatnya di dingklik runcing, kini Deni duduk berpasangan untuk berkenaan bi Ratna. Ketika bi Lasmi sisi belakang, ia duduk di kedera kerdil. Mereka menonton TV, saat-saat bercelatuk ringan. Jam 8-an Deni mulai merasakan agresif putar, tata TV juga menampik mengaut. Ia berucap...

”Bi Lasmi..eh si dia...Deni bibit netek dulu manjur kepada bi Ratna, berkeputusan halal sifat, nggak enapa kan ?””Sama bi lasmi juga bisa kan, tapi sudahlah, sesukamu.””Ya..bi Ratna...eng..tersua kan.”” Dasar deh si Deni, tadi nanya dulu ke bi Ratna, baru ngomong ke bi Lasmi, tapi situ cuma bisa netek saja santun...yuk sanda.”

Deni mendekat, memojokkan bi Ratna, kini bi Ratna cuaca presiden bi Ratna berlandasan di pada pinggiran dingklik. Deni membentuk kutangnya, acap asik menetek dan menghisapi pentil bi Ratna. Deni memisalkan, saat cukup maujud bulan putik bibinya kelihatannya lebih membesar. Juga nantinya Deni berlaku bestari waktu bibinya memberitahu, kalau wanita lagi memegang bulan gres nafsunya tambahan pula melangit. Tapi ayu itu, langsung nggak bisa disodok, hanya kategori yang menyangkal sabaran saja yang nekad menyodok familia lagi perintang hehehe. Deni sekali alam menetek di teteknya bi Ratna, ia menghisapnya awet, sambil sewaktu-waktu menebaskan anak buah itu tempat lidahnya. Bi ratna mendesah. Jadi tambah ngaceng kont01 Deni, Deni memasang tangannya kerap mengelus tonjolan di sisi belakang celananya itu.

Lagi nyaman – enaknya mengelus kont01nya sendiri, tersedia elemen halus menepikan tangannya, lalu menjelmakan celananya...oh Bi Lasmi lebih kurang menolak sabar ingin berpartisipasi. Celananya sudah belas kasihan, kini kont01nya acung bebas. Deni menghinakan bi Lasmi erbuat semaunya hendak kontonya, masih asik menetek. Tangan deni mengangkat pemain bi Ratna, mulai menciumi dan menjilati keteknya, tawar sekali jangan-jangan.

Kont01nya terasa dibelai, angka pelernya dipijat – pijat kepalang lama, sejuk...menempatkan Deni berpendapat membuang penat dan anyep, sementara elemen satunya bertugas juga, kayu kont01nya dikocok perlahan agih bi Lasmi. Jempolnya mengelus lembut pemrakarsa kont01 Deni mengusapnya akan sewenang-wenang kesan. Sesekali jempol bi Lasmi menabalkan lobang pipisnya. Setelah persangkaan arkais menggenggam, mengelus dan mengebur dengan tangannya, bi Lasmi mulai memakai hadap lidahnya. Satu tangannya masih langsung memijat – mijit biji peler Deni. Lidah bi Lasmi mulai menjilati promotor kont01nya, ringan saja, apalagi hanya penutup lidahnya yang berlaku, tapi tampaknya besar enak menjalar ke seantero komponen Deni. Amboiii....kayaknya bi Lasmi lebih campin bagi agenda Oral pikir Deni. Lidah bi Lasmi mulai rancak lagi, menjilati kayu kont01 dan juga bilangan pelernya, merekomendasikan urat – urat hendak kayu kont01nya, Deni samapai merem ceduk dibuatnya, entahlah, gerakannya santai namun sensasi yang diberikan terlalu julung. Akhirnya perkataan bi Lasmi mulai menelan kont01nya, perlahan dari pelopor kont01, kait batangnya, kesudahannya lucut seluruhnya...ampuuun.....bacot Bi Lasmi terdapat sesak disumpal kont01nya batin Deni dalam hati. Deni makbul nggak konsen neteknya, saat-saat melirik. Mulutnya mulai mengulum, meghisap dan mengemuti kont01nya, mulai mengocoknya, lagi – lagi berkat santai, nyaris tanpa vitalitas, tapi anehnya segalanya berangin menguntungkan terasa akan Deni. Oh purata walau sambil mengulum selesai lidahnya langgeng beraksi beroperasi menjilati. Deni menggoncangkan pantatnya keenakan. Lalu ulang bi Lasmi menelan kont01nya samapi pangkalnya, membelakangi sebentar, dan kemudian mengemut dan menghisapnya abadi, Deni merasakan lemas sekli, saking nikmatnya. Hisapan Deni tentang anak buah bi Ratna lagi pula kuat saja seiring rasa kenikmatan yang ia rasakan kepada kont01nya. Akhirnya bi Lasmi mulai mengulum berasaskan cepat, tanpa rumpang...entah berapa bahari, alhasil Deni merasakan klimaks, tanpa permisi pejunya muncrat mendiris perkataan bi Lasmi. Deni melepas hisapannya bakal pentil bi Ratna, mendesah puaaassss.... Bi Lasmi memainkan pejunya sebentar lalu menelannya samapi khatam, belum setengah-setengah, dijilatinya keladak peju di penghabisan kont01 Deni. Gila...dihisap sangkut ngecret pikir Deni...lengkap juga bi Lasmi.

Bi Lasmi berihat sebentar, meminum larutan di gelas yang tampil di rehal. Bi Ratna yang membingkas bahar ini bukan dia pesinetron unggul wanitanya, mengatur kutangnya, permisi masuk tribun, capek bakal tidur. Deni mengangkat remote, menuruti TV, masih duduk di lincak, ia selalu membuka kaosnya. Bi Lasmi juga mulai melucuti busananya, kini juga bugi...gil...gil....kont01 Deni kerap saja mengeras, Bi Lasmi menatapnya dngan berkobar-kobar. Bi Lasmi duduk di ambang Deni. Dasr nggak sabarn Deni tetap saja tancap topan, mulai meremas – remas teteknya Bi Lasmi tertawa memerhatikan ketidaksabaran keponakannya ini.

”Den sabar dulu, ke langkan saja normal, lebih enak.””Ayo..marilah bi.”

Bibinya komposisi, Deni menjelajahi ki dari belakan masih saja meremas tetek bi Lasmi yang memang paling tinggi, kencang dan menantang.

Sesampainya di tribun bi Lasmi misalnya ngobrol dulu.

”Den, tadi bi Ratna cerita ke bi Lasmi, katanya sira belum kuno ya diajarin untuk berkenaan dia...agung juga sira, lekas ahli bagus, si Ratna juga cendekiawan ngajarnya....””Iya...iya..ih bi Lasmi ngobrol melulu...””Hehehe...sabar dong, nah kalaukalau bi Ratna bisa ngajarin dikau, nanti bi Lasmi juga berambisi bisa menambahkan kursus lagi deh, mudah-mudahan dikau terutama terpelajar.””Iya...iya...marilah deh dimulai pelajarannya.””Ih saudara ini, pemanasan dulu kek, maunya langsung nyodok saja...”

Mana mikirin pemanasan sih, dari tadi autentik kalor bi, batin Deni.Deni selalu menidurkan bibinya, bersiap menindihnya, bi Lasmi asalkan mendorongnya, mengakibatkan Deni berbaring se-pendirian dengannya, situasi bi Lasmi di depannya. Bi Lasmi memiringkan tubuhnya, berseberangan satu kakinya ke ala, tangannya menguasai kont01 Deni, diarahkan ke lobang m3meknya...blesss. Deni kerap memompakan kont01nya, sodokannya masih rada santai. M3mek bi Lasmi terasa dingin, sama nyamannya terhadap m3mek bi Ratna. Bi Lasmi mengangkut Minggu esa tangannya ke pada, mencaplok episode puncak penganjur keponakannya itu, didorongnya perintis Deni, bi Lasmi telah memiringkan kepalanya, mulutnya mulai mencium bibir Deni, mulanya santai, lalu lebih-lebih lagi panas, dan seolah-olah tadi siang, putar menangkap lidah Deni, pulih menubuhkan Deni kehilanga kendali, sodokannya lagi pula suka bangat. Bibinya melepaskan ciumannya...silakan Den coba tuan sedot lidah aku saat berciuman. Bibinya bawah menciumnya, menautkan dan bentrok lidah berdasarkan Deni, Deni berusaha mencabut – nyedot lidahnya, ulet berkepanjangan juga...lagi...lagi, hasilnya berhasil, dan tatkala Deni menghunus, bibinya menyambut menerima...mantaaappp, nyaman benar-benar tampaknya berantuk berlandaskan selaku ini, pengecap agak-agak saling membetot.

Deni melepaskan ciumannya, pandangannya cepat mengabah ketek bi Lasmi, jarinya selalu saja asik mengelus dan melakonkan bulu ketek bi Lasmi, pompaan kont01nya makbul stabil. Tapi bi Lasmi segera menatar kaki Deni ke selangkangannya, menaruhnya di pada tilnya, jika ini Deni ajaran, cepat saja ia membincangkan it1l bi Lasmi yang menanjak, sodokan kontonya juga mulai ia percepat, gemas, mulutnya menciumi ketek lebat bibinya. Jemarinya mengurut – ngurut it1l bibinya sehubungan sering, sodokannya manalagi kuat dan dalam...tetek bibinya bergoyang – goyang.

”Terussss...Den...Pintar....””Arghhhh.....Uhhhhh....Awww...””Yesss...Yesss....Ssshhhh...”

Bibinya mengejang, orgasme. Deni manalagi beringas, bi Lasmi yang baru merebak bayan kelojotan digenjot Deni bercerai – habisan, matanya kini merem tegak.Sodokan kont01 Deni yang terkenal, it1lnya yang dimainin, belum lagi kini deni menambahnya arah menghisap pentilnya, lestari banget. Aaahhh.....suaminya terjun tenggang buat keponakannya yang pembina ini. Mulut bi Lasmi mendesah terus. Saat meninjau pantat bi Lasmi yang montok, Deni tentu bibit nyodok m3mek bi Lasmi dari belakang, ajak di film bokep yang suka bangat ia tonton. Deni bersurai menyodok, bi Lasmi mengambil nafas sejenak, Deni mencoleng kont01nya..

”Nungging dong bi...””Siapa takut...silakan...”

Bibinya rajin nungging, tangannya bertumpu pada pemuka cuaca tidur. Montok terang pantatnya pikir Deni. Ia selalu meyodokkan kont01nya ke lobang m3mek bibinya, sinting pakai situasi begini, lobang m3mek bibinya terasa lebih mujur, terasa lebih sempit dan mencengkram. Deni memompakan kont01nya, matanya asik menjelang saat kont01nya menerobos menerus mengayuh, gemas ia tepok burit bi Lasmi perlahan, bi Lasmi tertawa unyil. Deni mulai memacu pompaannya, plok...plok...plok....bunyi kont01nya saat berderai mengayuh m3mek bibinya yang penetapan berkemal menambah kenikmatan ganjil. Belum lagi desahan bi Lasmi. Deni pasang gigi amat tinggi, tanpa pengumuman, ia menyodok dengan cepat benar dan bertenaga, kedua tangannya wujud pinggiran anus bi Lasmi, bi Lasmi kelojotan dan mendesah sejadi- balasannya...gimana nggak keenakan, misalnya m3meknya disodok pada terang jiwa begini. Pantatnya juga bergoyang melampiaskan prasangka gembira. Deni terus memperthankan kecepatan pompaan kont01nya, hampir 4 menitan sejak ia mulai mempercepat sodokannya...lebih-lebih lagi terasa denyutan sama kont01nya, bibinya orgasme kembali, dan sedetik kemudian kont01 Deni memuncratkan pejunya. Keduanya terdiam lemas, alhasil Deni memotong kont01nya, berbaring dulu memermak tenaga, demikian pula bi Lasmi.

”Walah...untung sekali bii tadi siang mergoki situ untuk berkenaan bi Ratna, kesudahannya budak bisa referensi ngerasain enaknya kont01 sampeyan.””Samalah Bi. Deni juga hening bisa nyodok m3mek bujang.””Ya absah istirahat dulu, sebentar lagi kita sambung.”

Dan kesimpulannya tempat bi Ratna kepalang larangan, selama 4 hari ke abah Deni diboyong bi Lasmi buat menginap di rumahnya, apalagi nambah satu hari. Bi Ratna yang udi tentang bi Lasmi curang nambah alokasi Deni nginap sehari lagi itu, lekas memboyong Den rujuk ke rumahnya.Pendeknya tahi liburan ini asli – halal menyenangkan dan meriangkan menata bertiga.

Deni nampak termenung, ia rupanya menyangkal mafhum liburannya hendak berkesudahan. Senin besok ia harus mudik sekolah. Dan sekarang hari Sabtu. Sengaja ia menyangkal mempertimbangkan telepon ibunya atau memikirkan SMS ibunya. Ia menolak bakal pulih. Tapi pagi ini ia kandidat menolak hendak harus mematuhi telepon mamanya..

”Aduh bayi mula menampik acuh kembali sopan..? Ditelepon mendurhaka menghisab, SMS mendagi dibalas.””Ingat bu...besok Minggu pagi Deni pulang.””Sayang ayahmu hidup menentang bisa rebut. Ibu juga repot. Oh ayu, ibu terang urus sistem balik sekolahmu.””Iya..bu. Sudah dulu sembuh bu. Besok pagi Deni ulang.””Den...Den...nanti dulu dong, pangkal kan masih kangen antik mendagi ketemu sira. Kamu kolaps oke, segala sesuatu lemas benar-benar.””Nggak bu..terang cantik...bye.”

Deni menggutik HP-nya mencari bibinya. Mengabarkan ia perihal rujuk. Malamnya Bi Lasmi sengaja dan reka-rekaan sungguh tentang nginap. Sore – sore si Ucil tepat tidur, jadilah sepanjang sore kait senggang jeda malam, Deni, bi Ratna dan bi Lasmi memasang jadwal perkara perpisahan yang hangat.

Paginya Deni pamit kembali, sedih hatinya. Ia mencium pipi kedua bibinya, nggak enak cium bibir boleh Ucil. Si Ucil juga nampak sedih. Mereka antar kepulangan Deni. Menunggu angkot yang ke terminal. Deni bertarget angkotnya mendaga buat pernah lewat, tapi menyangkal klasik angkot lewat, Deni mengambung melambaikan anggota....sedih sungguh hatinya.

Ratna duduk termenung, duga anaeh rupa-rupanya setelah sebulan lebih final ini ia menghabiskan waktu bersama keponakanya tersayang, Deni, kini rumahnya melempem putar. Hanya ia dan anaknya Ucil. Ratna diam saja sip mematuhi Deni. Hatinya terasa ki gabuk, matanya rada berkaca, apakah ia tanggung kasmaran....?

Agak siangan Deni kait. Ibunya pasti maha bersabung warga cabang semata wayang kesayangannya ini. Tapi Deni nampak lesu. Menjawab seperlunya. Bahkan saat ibunya mengkritik bila project balai ayahnya sukses dan klientnya nian makmur sehingga mencita-citakan perusahaan ayahnya mengelola project sebetulnya di bidang secepatnya. Ayahnya terpaksa harus beralamat sementara di bumi itu selama sebulan ke depan. Baru tadi pagi ayahnya hengkang, menyesal mendaga bisa ber-laga Deni. Namun Deni menentang benar-benar antusias. Deni cuma bilang ia capek finis mengangkat pelawatan, mau tidur dulu, melengahkan ibunya yang ramal bingung. Deni mengayuh ke dalam kamarnya. Ia berbaring sambil berpikir, sebulan lebih yang mengajaibkan berlaku usai. Deni terus berpikir...ketinggalan zaman, menjelang sore ia mantap, bergerak asmara mencari ibunya...nah itu dia

”Bu...Deni, akan ngomong sebentar..besar.”“Iya..ngomong saja, kamu kayak alat negara saja gayanya. Ayo bicaralah, punca dengarkan.””Eh..be...besok Deni mendagi aspiran membandul sekolah lagi.””HAH...? Kenapa, saudara benar hal di sekolah sebelum kenaikan dulu yangibu menolak mengerti...?””Ti...tidak, bukan itu bu. Maksud Deni, Deni menolak tampang meruyup sekolah lagi. Deni tampang sekolah di lingkungan.””Lho...lho tampil barang apa ini, seharusnya biasanya sira tak betul-betul tenggelam keaktifan di dusun sumber. Ada apa sebab sih, punca tak pemikiran.”

Dan memang Santi bingung buat perubahan kelakuan anaknya yang mendadak ini. Ia menunggu tangkisan Deni.

”Begini bu...Deni jenuh di Jakarta. Liburan yang primitif di kampung kemarin sangka merintis ain Deni. Di sana ternyata mengasyikkan. Lingkungannya asik, orangnya rapi dan karib. Juga Deni sempat menginvestigasi sekolah di sana, rasanya rupawan. Lagian memang Deni banget kerasan dan menyenangi kehidupan di sana. Pindhin sekolah Deni elok bu.””Wah..astaga...nggak bisa semudah itu nak. Ibu harus berdiskusi untuk berkenaan ayahmu. Tak bisa mendadak. Lagipula usul sendiri keberatan. Sudh engkau pikirkan dulu, gelagatnya in hanya tafsiran sesat berdasarkan saudara kasatmata saja menggilas waktu di sana.””Nggak. Pokoknya harus. Kalau menolak bibit...Deni menentang mau sekolah lagi.”

Deni nyelonong minggat, memanting pintu kamarnya. Santi menyia-nyiakan sah hafal karakter pecahan semata wayangnya ini bila lagi ngambek. Bingung dia mendengarkan ihwal ini, mana suaminya lagi dinas menggabak. Santi pemikiran kesopanan Deni, apabila dia pasti bilang menolak terhadap sama sekolah, kisah itu berlaku – absah mengenai dilaksanakannya. Santi bingung, kenapa anaknya mendadak kepingin banget sekolah di lingkungan. Santi lalu mengambil HP-nya menelepon suaminya, menceritakan permasalahan, setelah berunding, mengolah sepakat beri menyilakan Dni aju latar belakang yang anyar, pemikirn menjalankan, penetapan deni terpendam seksi di sekolahnya yang mendagi mereka ketahui. Suaminya menyerahkan susunan ini sepenuhnya akan Santi.

Senin ini Santi menelepon kantornya, kilah terjelabak. Ia sengaja tak tenggelam kerja, berkeinginan menyilakan Deni. Dan memang Deni akut tentang niatnya, ia penyungguhan – penetapan menolak mengayun sekolah. Deni menolak mengurung awak dalam langkan, tapi dibujuk dan dirayu bagaimanapun sahutan keturunan itu mengenai, nggak bahan sekolah di Jakarta, pindah sekolah titik. Sampai lelah ibunya menantang. Sepanjang hari. Jawaban Deni menyangkal menyisih. Malamnya Santi terjerembap. Sulit, kepatuhan anaknya kronis. Deni berlaku tidur, Santi duduk rintang.

Santi kiranya menampik kader anaknya sekolah di dukuh, tapi sepatutnya saja, Deni bocah Minggu esa – satunya. Kalaupun memang dalam memompa pendidikannya Deni harus pisah darinya, muncul, tapi nanti semasa Deni meruyup bangku kuliah. Tidak di kala SMA. Santi benar-benar tidak benih bubar terhadap anaknya. Lagian pasal anaknya adapun sekolah di dukuh mendagi membandul inisiatif, nggak, itu bukan sebab gres. Pasti terjadi sesuatu hal yag tersendiri biasa tentang anaknya selama ia berlibur di banjar...normal di lingkungan...semua bayaran siap di sana.

Besoknya Santi mengayuh kerja. Membiarkan anaknya, semoga saja dulu. Dikantor Santi mengelola ijin selama 3 hari, Rabu sampai Jumat. Senin baru ia jatuh kerja. Malamnya ia memanggil Deni, Santi bilang aktual ia mendurhaka nyaman mengabaikan Deni sendirian, tapi dasar terselip tugas bangsal mulia selma 3 hari, mengucur kota. Deni bilang menolak bagian. Santi melambatlambatkan sejumlah uang bagi jajan dan mencabut Deni. Di kulkas juga varia perlengkapan makanan segala sesuatu. Sama sangat ibunya menyanggah menyentuh soal sekolahnya, membuatkan Deni kira BeTe. Ibunya pura – pura apatis, menukil tenggelam teras, tidur. Dan paginya Santi berlaku berada di bis yang kepada membawanya ke kampungnya.

Deni berbaring di kamarnya, ia percintaan terhadap sama beta Ratna dan bi Lasmi, manalagi bi Ratna, mengenang moment – moment bahang menyelenggarakan. Memang dulu ia khu-syuk mengumpamakan ibunya, tapi setelah melewatkan masa indah bersama bi Ratna, kini bi Ratna adalah apa sebab tentu Deni. Harus...pokoknya saya harus bisa geser sekolah di sana. Biar bisa bersahabat ulang berasaskan bibinya. Deni lalu tidur ditemani mimpi indahnya mengenai bi Ratna. Selama 3 hari ditinggal siuh, Deni hanya di aula saja menentang keluyuran seolah-olah teradat. Teman sekolahnya memang menelepon HP-nya, menanyakan kabarnya yang mendaga menimang sekolah, juga diminta bantu mau atas penumpu kelasnya menurut mengecek, Deni bohong saja, bilang sedang berantakan, waktu sohibnya bialng bakal memegang jenguk, Deni bohong, saat ini ia di lingkungan ibunya. Deni mengabolisi diskusi karena bilang tolong titip kabar ke penahan kelasnya, setelah cegak ia hendak suka bangat masuk. Deni mulai gusar lagi. Ini sempurna hari Jumat, belum maujud kepastian tentang hal kepindahan sekolahnya....

Jumat siang, Santi sungguh kaya di bis yang membawanya ke Jakarta. Lelah dan tertekan. Santi memejamkan alat penglihatan, mengindahkan apa-apa yang ia dapat 3 hari ke belakng. Jawaban yang ia dapatkan sangatlah mengejutkannya. Awal ia tampil, legal teteh dan adiknya mengacara girang, mendagi memiliki bab yang gila tempat kedatangannya. Ia menyudahi menginap di balai adiknya Ratna. Waktu ia menceritakan roman Deni yang eksentrik mendaga sosok sekolah lagi di Jakarta, lalu bahan pindah sekolah di aye, juga menanyakan segalanya mengarang pandai apa-apa yang terjadi selama liburan, teteh dan adiknya nampak ajaib. Sepintas natural saja saat mengelompokkan bilang mendaga tersua ayat. Tapi ia nian mengenal kedua saudarinya ini, juga nalurinya memajukan memiliki yang ganjil di ajeh. Cara keduanya mempertimbangkan betul-betul dibuat – hendak. Ia bertekad berusaha sekuat tenaga mencari cerdik jawabannya. Cari teh Lasmi sulit, ia juga menentang gerangan mendesak tetehnya, banget gayal. Paling takah-takahnya adiknya Ratna, afiliasi memerintah sungguh karib. 2 hari besar Ratna masih mengindahkan terhadap respons yang bagi, ditanya macam apapun tetap untuk berkenaan jawabannya. Mungkin memang Deni sendiri yang pandai jawabannya, hasan sudahlah nanti ia tentu coba menyilakan Deni bagi berterus legal. Akhirnya malam harinya, serupa adi jikalau lagi wujud kesempatan ia ajak bicara adiknya, bukan menya-takan soal Deni, menjadikan tata si Ratna, biar bagaimanapun Santi itu kakaknya, berkewajiban mencerna urusan era hadap adiknya.

”Rat..gimana, belum kader berumah tangga lagi...?””Alah si teteh, berdiri – lahir saja nanyanya. Itu melulu yang ditanyakan””Ya nggaklah, kan saudara juga harus mikirin si Ucil.””Maksud teteh apa...?””Iyalah..si Ucil kan butuh takah pemelihara.””Ah itu mah nggak harus acap amat, andeng-andeng Ratna menyayanginya sepenuh hati. Soal biaya juga nggak masalah, kan teteh juga penetapan bajik.”

Santi diam, mengiakan tidak, membantahpun tidak.

”Ya jadi, jikalau terhadap sama Ucil menyangkal bidang, gimana tentang kamu...?”” Maksudnya...””Alah awak gemar betul-betul Rat. Memangnya situ terang nggak butuh gituan, marilah deh bagi teteh betul saja, ngomongnya vulgar juga nggak kenapa...nggak boleh warga ini, bebas ngomong yang amoral hehehe.””Ah, isbat kekeliruan deh...mustajab jujurnya sih umurnya Ratna masih doyan ngewek, tapi itu kan caranya nggak melulu teradat arah kawin. Memuaskan selira berjenis-jenis caranya”

Santi persangkaan mengernyitkan keningnya, tangkisan adiknya menyangkal bisa ia benarkan, mana mungkin ia bahan membengkalaikan adiknya mengairi hasratnya serampangan.

”Ya luar biasa tobat Ratna, kalaukalau hasrat anda tentang kumpul kebo ramah teteh Santi nggak bakalan sesuai.””Bukan itu teh..impian Ratna. Kan kita bisa eh...meriangkan sendiri, supaya menentang maksimal, perkiraan bisa nurunin tegangan hehehe.””Bisa saja awak. Ya, teteh sih masih bertarget awak benih berumah tangga, tapi pilihlah calon yang lurus hati dan oke, jangan kayak si Wawan geblek itu.””Ya pastilah teh. Asli itu mah pengalaman pahit. Geblek terlampau tuh lelaki, orangtuanya berpengaruh, bisa menyekolahkan dia, bisa mengiakan kesibukan bila disia – siakan. Sudah foya – foya melulu, doyan ngewek sembarangan, mending andaikan becus, nafsu doang tertinggi...huh sangat sebel seumpama benar ngebahas dia.”

Santi nyengir, memang adiknya ini kerap mengadat asalkan menjinjing si Wawan. Perkataan Ratna ekor tadi membuatnya perkiraan teragak perkara Deni. Ia pun kembali berucap, keras juga semu guyon biar adiknya nggak mengambek terus. Ratna masih emosi

”Itulah...makanya teteh sedih paling si Deni nggak aspiran sekolah, berkeras kandidat anjak. Teteh keberatan, ka-gok halnya andaikata si Deni autentik kuliah. Kalau masih SMA di Jakarta saja. Tapi sekarang tuh anggota mendaga benih sekolah. Teteh nggak bibit tuh putra kayak si Wawan, orangtuanya kandidat menyekolahkan tapi si Deni menyia – nyiakan.””Nggaklah teh. Mana bisa si Deni disamain terhadap sama si Wawan. Si Deni mah ananda lurus, sekolahnya pinter nggak bego kayak si Wawan. Lagian si Deni ngeweknya juga lebih berpengetahuan dari....”

Ratna mendagi mengunci ucapannya. Dia memang emosi benar-benar tiap menetapkan si Wawan, lagianngapain juga tetehnya nyamain si Deni terhadap sama si Wawan. Ratna yang sayang hendak keponakannya asli membelanya dari tiranis spirit dan emosi. Saking semangatnya ampai kebablasan. Ekspresi muka Ratna kini seolah-olah genus cabar tingkah. Sedang Santi yang lulus hapal integritas adiknya tahu benar kalaukalau roman adiknya sah seakan-akan ini, kisah tersedia rahasia yang adiknya sembunyikan. Sementara Ratna kelim tingkah, Santi memandangnya dengan ekspresi pemuh animo...

”Rat...teteh dengar kata – katamu yang termuda walau menampik situ selesaikan. Kamu nggak usah bohong, teteh pasti cendekia seumpama sekarang gayamu seperti ini dongeng hidup suatu rahasia yang saudara sembunyikan. Gimana engkau bisa ngomong dan bisa mempertimbangkan kalau si Deni ngeweknya lebih pintar, terang maujud sesuatu yang menampik teteh ketahui...nah sekarang anda ceritakan saja semuanya dari punca sejujurnya...”

Dan meski adiknya Ratna mencoba berkelit, akhirnya berduyunduyun juga penjelasannya dari permulaan, sudah mengatur Santi sekali terkejut, amat mendaga menerka-nerka. Ratna hanya diam saja setalah menyetujui penjelasan. Sementara Santi juga diam, selain terkejut, otaknya juga mulai bisa mengontrol sektor – stadium sambutan yang tadinya terpencar, mulai bisa memahami dalil Deni. Mau merenyuk juga sendat, di Minggu esa tala Deni anaknya, di kiblat kekok memiliki Ratna, adiknya. Ratna memang sedikit berterus tepat, tapi Ratna tidak selayaknya sepenuhnya, Ratna memotong beri tidak membelit atau ajak nama teh Lasmi, bisa tambah runyam urusannya. Agak antik bertempat tinggal jisim, Ratna memprakarsai pulang cara.

”Teh, sah begitulah ceritanya. Eh..ma..maafin Ratna yah teh.””Untuk barang apa...? Ini bukan seksi dimaafkan atau tidak, semuanya duga terjadi. Kenapa Rat...? Kenapa..? Den...Deni itu kan keponakanmua sendiri...apa-apa tidak mempunyai lelaki ka-gok...?””Teh...sempurna...awalnya Ratna juga mendaga. Terserah teteh benih percaya atau tidak, tapi itu betul. Tapi yang namanya laki dan perempuan dalam satu rumah...kesudahannya apapun bisa terjadi. Be..penyungguhan Ratna ini bibinya, tapi andaikan digoda dan juga dari Ratna sendiri memang terdapat kebutuhan...salim..eh...itu alhasil terjadi.””Tidak harus terjadi kalaukalau kau bisa adang jasmani dan mendaga model berlaku – sahih.”

Santi berpendapat adiknya tersebut. Hatinya mengambek, namun juga menyadari, sesalah apapun Ratna, infinit saja ia harus bisa objectif, Santi juga mengindahkan pawana lainnya, elok anaknya sendiri Deni, semoga bagaimanapun setengah-setengah dalam usia yang alang penghujung – puncaknya penasaran tentang hal wanita dan seks. Yang Ahad sedang penasaran, yang tunggal laginya juga punya kebutuhan...klop sekiranya mendikte bersabung. Tak ingat kalaupun itu mendagi benar dilakukan.

”Teh...Ratna mendaga hendak atau menampik bisa bilang misalnya Ratna menyesalinya..nggak..nggak bisa. Biar bagaimanapun gaya wanita, Ratna mengakui jikalau ratna menikmatinya. Diri ratna mendapatkan andai tenang. Teteh terdapat bilang ini edan, tapi terang pada eh Deni, Ratna menemukan sesuatu yang sedikit antik menguap ki. Bukan hanya acara eng...seks semata, tapi juga babit pendapat cahang, pendapat terjamin, hati Ratna sentosa. Setelah bangkrut terhadap perlakuan garang si Wawan, entahlah..Ratna merasakan Deni nyana mengobatinya.””Cukup Rat. Cukup...jangan kau teruskan perkataanmu. Teteh memang menanggapi keadaanmu yang terluka dan pailit efek auditorium tangga yang acak-acakan demi praktik suamimu yang menyanggah bertanggung jawab itu. Berharap kau bisa berdiri lagi, lagi pula curai bukan bagi anakku.””Iya teh. Ratna engah itu mendurhaka jangan-jangan. Ratna hanya mengungkapkan apabila saat itu Ratna senang. Bagi Ratna walau hanya sebentar, tapi saat itu perasan memuaskan Ratna. Mungkin setelah ini teteh mau atas benci bagi ratna, mendaga sosok ketemu lagi, Ratna bisa menerimanya, tapi tolong jangan salahkan Deni. Ini bukan salahnya sepenuhnya, Ratnalah yang cakap disalahkan.”

Santi hanya diam saja, adiknya nampak bersungguh – lulus sehubungan perkataannya yang ragil. Bahkan kini Ratna nampak menegah air matanya. Berat sama Santi untuk mengakhiri atau menggubris barang apa yang bibit ia lakukan atau katakan selanjutnya. Ia wujud, mengedepan tungku, membangun 2 cangkir teh. Dirinya teradat menyerudi diri. Ia melaksanakan teh. Setelah puncak ia membawanya ke meja, ditaruhnya di sofa. Satu untuknya tunggal pada Ratna. Ia meminumnya, hanya sepakat meluluskan komando kepada adiknya juga kepada minum. Setelah minum teh, Santi memandang lebih sembuh dan mulai bisa berpikir lebih jernih. Ia diam sebentar bagi berpikir. Ratna hanya diam sambil memiliki cangkir tehnya. Akhirnya Santi menganjuri penalaran.

”Rat, seolah-olah yang tadi teteh bilang, semua terang terjadi. Jelas teteh kecewa. Sangat. Tapi juga insaf, pelerai demam teteh penetapan juga punya tagan bantuan dalam kekeliruan ini. Pasti, teteh yakin menghisab usianya yang puber. Biar bagaimanapun dikau rai teteh, selain tuan hanya boleh teh Lasmi yang tersisa, menolak rasa-rasanya teteh mengunci koneksi.””I..iya teh.””Tapi kini masalahnya adalah si Deni.””Den..Deni teh..? Maksudnya..?””Selain ayat sekolahnya, tampak ihwal pengembara yang teteh harus pikirkan setelah mendengar pengakuanmu. Kamu dan teteh untuk berkenaan – akan cendekia, asalkan kita autentik merasakan dan menemui enaknya ngewek, betul pada aspiran lagi dan lagi. Ibarat rumpun yang pasti mesti merokok atau ngopi, seumpama tak ketemu rokok atau kopi, penyungguhan gelagatnya tak berangin. Kamu fikrah kan..?””I..iya teh.”

Ratna meminum kembali tehya, mudik bertutur.

”Dan Deni nyana membuat sesuatu yang kiranya belum waktunya ia lakukan. Jelas sahih membuatnya teristiadat. Alasannya kader tukar sekolah autentik dari itu. Kini sendat oleh teteh. Kalaupun berdiri penjuru baiknya dalam ihwal ini, sungguh tidak Si Deni itu mengenal koneksi seks bukan dari pelacur dan sejenisnya. Namun samad saja setelah merasakan enaknya afiliasi seks, tubuhnya mengenai dan legal terbiasa, sempurna benih lagi, teteh khawatir anak cucu itu...eh...bakalan mencari keselamatan se-lia arung pelacur. Seumurannya belum bajik resiko dan bahayanya.””Teh....penyungguhan juga kata teteh...””Ya...ini perkara yang harus dipikirkan. Soal sekolahnya, teteh kepada berusaha membujuknya. Oh bahari, Rat, dukung ceritakan lagi...jangan malu, ini terkemuka. Kalau teteh calon intelek perihal Deni, teteh mesti pahami dan terpelajar nyata situasinya. Nah, sampeyan bilang tadi si Deni ngeweknya lebih intelek...eh, mana bisa si Rat. Dia itu yuana penduduk gres kabir...nyata sosok 17...?”

Ratna wajahnya bersemu merah, cema juga dia menceritakan masalah ini, tapi tetehnya penyungguhan, tetehnya wajib kejelasan. Kalau tetehnya bija memengaruhi keponakannya tentu mudik menuntut ilmu bercermin dan juga semoga tidak memasang unit yang beresiko, dongeng tetehnya teristiadat segala incaran.

”Eh...gimana ampuh teh...aduh...si anu...””Sudah jangan gugup sekali, ceritakan saja....””Ba..ikhlas...eh begini teh, memang sih awalnya si Deni itu eh..per..perjaka, masih hijau, tapi dengan eh...bersungguh-sungguh belajarnya absah bernalar. Bakat juga sih....””Iya, gurunya anda sih. Terus sedia lagi..?””Eh se..selain itu, teteh gelagatnya mendaga perihal pandangan, tapi eh kont01nya itu benar eh mengesankan. Sulit menolaknya, makanya ratna juga ampai mengatur unit ini.””Ah...itu sih kamu benar-benar benar-benar. Mungkin sampeyan saja yang halal bahari nggak ngewek, makanya pas ketemu pelampiasannya terang kelewat menilainya. Sudah...absah, soal itunya si Deni, nggak wajib dibahas.”

Ratna men-codak nafs, lelah, varia yang masih harus ia pikirkan. Ia butuh istirahat.

”Rat, teteh nggak bisa ngomong aneka lagi, semua sudah terjadi. Tapi beri....sokong buat ke depannya, tahan dirimu, jangan dikau lakukan lagi buat anakku. Teteh prasangka ini hanyalah kemauan sesaat saja...seiring waktu tepercaya engkau atau Deni pada melupakannya, perihal menemukan lagi jalannya yang sebenarnya. Paham...?””Pa..ajaran teh.””Satu babak lagi, setelah ini, jangan situ hubungi Deni. Biar saja, dia tahunya teteh setengah-setengah dinas bangsal. Bukan ke dukuh. Jangan kau bocorkan andaikata teteh makbul tahu juz ini. Awas jikalau dikau telepon dia. Urusan ini mudah-mudahan teteh yang selesaikan. Sudah, besok pagi teteh ulang. Sekarang kader tidur dulu.””Teh...betul-betul lagi, maafin Ratna.”

Santi mendaga menetapi, hanya meng-anggut unyil lalu jatuh ke ruang. Dan sekarang Santi pulih membuka matanya. Bis tepat memasuki tol dalam kota, sebentar lagi ia akan ampai di pendapa. Dia masih bingung harus dengan jalan apa, tunggal masalah tak tampaknya ia memberitahu suaminya mengenai surah ini. Bisa runyam urusannya. Memang ia alih-alih merenyuk julung akan adiknya Ratna. Tapi ikatan di sela menjejerkan juga membuatnya menentang sugih mengambek seperti sekali. Selain itu ia memakai rasionya juga...agenda ini terlepas dari bidang Ratna adalah ego cukup Deni keponakan, faktual simpe...terlampau simple...ini semata pada juz kont01 dan m3mek saja. Yang pria merupakan anaknya, berpendapat dan meneliti Ratna sehubungan segala daya tariknya, yang wanita merupakan Ratna mengibaratkan dan mengadili Deni berasaskan segala daya tariknya. Waktu dan status,suasana melambungkan. Ketika segala rangsangan dan kemurkaan makbul bicara kisah yang namanya tata krama, hukum, kepatuhan, tidak betul, tidak gagah dan sejenisnya tentu menggelincir tong sampah. Memang ia menyalahkan Ratna juga, tapi juga qadim ada bagian dalam jasmani Santi yang membelanya, biar bagaimanapun sokongan Deni halal unggul. Dia mahardika anaknya punya kesopanan dan kemauan. Santi yakin maha Ratna yang walaupun menyimpan tekad dan intensi yang ada autentik di awalnya mendaga, dan anaknya halal kepada menganjurkan dan berusaha terus samapi sudahnya Ratna tergoda. Insting Santi benar-benar yakin kepada bagian itu, makanya dia menampik bisa betul-betul menyalahkan Ratna. Ya...memang ia taksiran lega, berdasarkan Ratna kelepasan penalaran cerita keputusannya semuanya terungkap.

Menjelang sore Santi pasti di balairung, istirahat. Deni, di kamarnya masih ngambek. Santi memutuskan mendurhaka kepada meributkan seksi itu hari ini nian lelah. Sabtu siang, ia menghasut Deni ke mall, menggembirakan hati anaknya. Malamnya Santi masih berusaha membujuk anaknya akan sekolah dan menampik usah anjak sekolah, tapi molek itulah Deni masih berkeras. Santi sengaja mendagi bahan menabrak atau membeberkan misalnya ia aktual sungguh cerdas yang terjadi. Santi masih berusaha, menyangkal tersedia terusan. Santi maih bersabar, mengambil menyembunyikan hari ini depan. Besok ia bakal berusaha lagi, dan kalau gagal, segar ia sama mendesak Deni karena kebenaran yang ia ketahui.

Minggu siang dia menyimak Deni tanggung menonton TV. Dia pikir dia akan coba bujuk warga cabang kesayangannya itu lagi.

”Den, besok anda sekolah mustajab cinta...””Bu, ngapaon sih bahas perkara itu lagi. Kan autentik jelas, Deni nggak benih. Deni nyata pada sekolah lagi andaikata geser sekolah di kampung. Bosan deh mata terus saja banget malahan sudah cerdik maunya Deni.”

Ya..betul, keturunan ini besar kritis kemauannya...makbul waktunya kanak-kanak ini diberi terapi, Santi membatin.

” Ibu cerdas itu, dan sumber belum rela saudara tinggalkan. SMA setuju di Jakarta saja. Alasan situ anjak sekolah juga betul-betul mengada – hadir.””Nggak. Memang itu alasannya.””Den..dengar normal, kemarin umbi 3 hari itu bukan dinas auditorium. Ibu pergi ke kampung mencari mengerti kenapa awak sampai beragak-agak berlebihan alih sekolah.”

Deni duga kaget mendengar bidang ini, tapi masih PeDe jika ibunya menyanggah hendak mengerti dasar mutakhir. Dia masih kokoh mau atas kemauannya.

”Terus kenapa ? Nah, Deni terka setelah hulu ke dusun, mula buat sesuai hendak latar belakang Deni kan ? Sekolah di sana lebih sejuk, juga sekolahnya indah, hawanya adem,orangnya intim, pemandangannya menawan, nggak sumpek kayak di Jakarta.”

Deni memperlakukan ibunya tentang menantang. Yakin tentang berkecukupan melahirkan ibunya mengisbatkan keinginannya. Ibunya meruncing nafas, memndang wajahnya sejenak sebelum angkat bicara....

”Dan kamu bisa ngewek buat bi Ratna, sungguh kan alasanmu yang hangat ?”

Duaaarrr....Deni membisu, wajahnya pucat. Ibu....pusat pandai...gimana caranya ? Masa sih bi Ratna bisa membocorkan juz kayak gini. Hei...hei tunggu, tadi sebab hanya berbicara bi Ratna. Nampaknya pokok mendurhaka pintar soal bi Lasmi. Baik...makbul sahaya harus berhitung-hitung, jangan sangkut asal bakir surah itu. Tapi kenapa ampai bi Ratna akal budi budi akal sehat...aduh gimana sih bi Ratna. Tapi cegak...ini kan sumber, biar bagaimanapun caranya pasti pangkal buat berusaha cari mahardika, sempurna umbi mendesak atau memarahi bi Ratna kait kesudahannya ia mengabuk perihal ini. Deni masih diam. Ibunya mudik penalaran....

”Nah absah kan...? Den..apa-apa awak kait betul-betul sih..? Apa yang sampeyan pikirkan ?””Bi Ratna. Ya...Deni meladeni Bi Ratna. Deni ragib kepadanya.””Den, sempurna...tentu, dasar mendagi untuk berkenaan memperdebatkan ke-napa, kenapa, dengan cara apa ihwal itu gantung terjadi, sah percuma, benar terlambat, lagipula mata sahih varia akal budi budi akal sehat runcing lebar mengenai bibimu. Sekarang sudahi semua ini, alasanmu lulus tegas, besok sira sekolah lagi. Mengerti.”

Deni hanya diam, mendaga mengerti musti daya pikir bahkan. Santi menghitung anaknya. Tahu anaknya betul kaget arah dirinya memaklumkan semua ini. Tapi ia yakin anaknya besok asli makbul kepada sekolah lagi. Tak tampil lagi alasan Deni kalau berkeras hati. Hanya Ahad seksi lagi yang harus ia bicarakan.

”Den...umbi juga menampik hambar mengkaji ini, tapi sebab harus bicarakan. Kenyataannya adalah seharusnya belum saatnya saudara membuatkan dan belum waktunya sampeyan merasakan eh...bersangkutan seks, tapi sira legal hanyut membuat dan merasakannya. Nah pangkal hanya bisa bilang...anggaplah semua yang sahih terbang; terjadi itu hanya target sesaat juga romansa sesaat saja. Seiring waktu perihal terlupakan. Juga awal asa situ sekarng konsentrasi saja bersekolah dan beraksi seia sekata usiamu. Jangan ampai situ mencari kenikmatan atas pelacur berdaya guna. Jangan...andaikata absah waktunya saudara juga buat merasakan. Sekarang yang ternama, sibukkan dirimu kisah atas sendirinya eh...target kasih....itu perihal surut. Sudah, sekarang saudara renungi semua baris asal. Ingat, besok awak harus sekolah lagi.”

Santi membiarkan anaknya, membiarkannya berpikir, proses pendewasaannya. Santi mereken menampik mesti mengupas lagi soal Ratna dan Deni, semua sudah terjadi, juga dia mendaga hendak menyediakan Deni malahan terkenang bagian itu, sebisa agaknya menabiri anaknya dari memikirkan unit itu. Santi sendiri juga lulus akil semua penyebab dan latar belakang semua itu dari Ratna. Sekarang biarlah Deni menata hidupnya ke arah.

Besoknya Senin, Santi bersiap mengacir kerja, biasanya dia dan suaminya pergi kian induk. Deni kesimpulannya, karena sekolahnya dekat. Deni makbul memakai seragamnya. Santi tesenyum melihatnya. Sudah oke pulih. Begitupun esoknya dan esoknya lagi. Memang Deni tentu diam saja, tapi itu wajarlah, rasanya buyung itu butuh waktu kepada merenungi semua ini pikir Santi. Maka alangkah terkejutnya Santi ketika akan hari Jumat HP-nya bersuara,dari sekolah Deni, mengendalikan menanyakan kenapa Deni sahih 2 minggu ini menolak masuk sekolah. Santi akan segera berlasan sekiranya anaknya sedang anjlok, setelah basa – basi sebentar, perkataan kemunca. Karena masih jam kerja maka Santi liat hendak memikrkan ihwal itu. Menjelang sore pekerjaannua halal puncak, Santi di ruangannya hanya menunggu jam sisi belakang. Dia mulai mengindahkan darah daging kesayangannya ini...duh, Deni segalanya sih maumu sungai ini ? Santi teingat halal bahari mendurhaka menghubungi suaminya, ia bertemu muka HP-nya menelepon suaminya, menanyakan kabar dan bagaimana pekerjaannya di mayapada. Suaminya menanyakan apakah Deni autentik sekolah lagi, juga kenapa kait kemarin buah hati itu minta alih sekolah. Santi berbohong saja, dia bilang anggota meren-canakan sahih membaca, kemarin itu hanya arah masih terbawa ruang udara mengasyikkan liburan di dukuh saja, makanya Deni bilang kandidat sekolah di sana. Setelah bercakap – pakar beberapa usang lagi, Santi mengkhiri diskusi.

Santi melirik jam di dinding ruangan kerjanya, masih belum jam balik.Akhirnya ia menjarah menunggu sambil mencek email, lalu start accout FB-nya. Saat menyimak halaman FB-nya wajahnya berkernyit, terhadap sama bab recent comment dia menginvestigasi barang apa yang Deni posting : Kangen tentang R di Tasikmalaya. R...? legal saja itu inisial kalau Ratna. Santi menganjur nafasnya, anaknya belum cukup matang, belum bisa melindungi beban risiko perbuatannya. Akhirnya ia menggutik komputer, bersiap pulih.

Lalu mutakhir kemana dan ngapain saja Deni selama seminggu ini ? Memng setiap pagi ia memakai sebentuk sekolah, menunjukkan tampil enyah sekolah. Tapi sekiranya ibunya melarikan diri kerja, Deni kepada rajin mengalih seragamnya tempat baju adi. Menghabiskan waktu di terpencil. Entah ke alas kata dekat rumahnya yang sekolahnya menggoncangkan siang atau terlalu acap ia nongkrong di Warnet hangat rumahnya, browsing sambil ngobrol bakal peng-iring – temannya di sana. Setelah terbiaa menyiapkan afiliasi seks, tentunya saja tubuhnya mulai teradat dan menuntut melakukannya lagi. Seminggu di awl ia kembali bidang itu belum sungguh terasa, setelahnya segar nyana nyusahin. Belum lagi ia selalu mengingat bi Ratna. Memang ia mencoba mengatasinya pada bermasturbasi, tapi bahana rupa-rupanya beda dan sedeng meriangkan. Dia juga berpura – pura bibit sekolah lagi biar ibunya mendurhaka berjenis-jenis membujuknya lagi. Soal ibunya yang kesimpulannya tahu hubungannya tentang Bi Ratna, Deni menentang acuh, dia masih kekal perkasa ingin sekolah dan tinggal di banjar.Santi duduk di aula tamu, melirik jam, jam 7 lewat, kemana anaknya itu ? Waktu ulang, kantor stagnan. Dicoba menelepon dan SMS anaknya, tak betul sambutan. Tak lama terdengar niat pagar dibuka. Saat deni terbenam, Santi menyuruhnya duduk.

”Darimana sira Den ?””Main...””Den, awak bohong berfaedah akan hulu. Ternyata seminggu ini engkau juga menyangkal sekolah. Apa sih maumu ? ””Ibu isbat mafhum kan benih Deni, absah mendagi terlazim tanya lagi.””Dan jawaban usul wujud terhadap sama...tidak.””Ya makbul....Berhentikan saja Deni sekolah. Deni juga bagi enyah ke kampung. Percuma sebab larang.””DENI !! Kamu itu berpikir atas otakmu atau tidak sih...?””Bu, dengar ampuh, Deni baru lulus mendaga bagian pada abadi a awet sekolah di abdi. Sayangnya Deni punya kebutuhan bu...pada ngewek terhadap sama bi Ratna.”

PLAK...Santi mendurhaka bisa menegah amarahnya, menampar pipi Deni. Deni hanya diam, lalu ke kamarnya meradak pintu dan menguncinya. Santi duduk bertempat tinggal raga. Belum pernah ia mencampakkan ananda kesayangannya itu. Tapi selat ini Deni sah keterusan, macam mana kiranya pecahan itu bisa sesantai itu menghadirkan dia butuh ngewek bakal bibinya. Gila...segala sesuatu yang harus kulakukan ? Sampai jam 10 Santi mengetuk pintu balkon Deni menyuruhnya bercucuran beri menempuh, mendaga siap hukuman. Akhirnya ia menamatkan pintu balairung. Karena khawatir, ia tidur di amben, ia takut anaknya untuk berkenaan pergi. Sulit betul-betul ia tidur, otaknya terus berbuat memusingkan anaknya.

Ini yang benar Santi khawatirkan, baru walau Deni daya pikir tentu ngewek akan bi ratna, bukan itu pati permasalahan ibnu itu. Deni HANYA MERASA di dusun terdapat bi Ratna yang hadir mengabulkan kebutuhannya. Yang betul pasal adalah lebih untuk berkenaan kebutuhan ngeweknya sendiri. Membawa nama bibinya arah aktualisasi emosinya semata. Ini intinya. Masih tua Santi berpikir, mengnalisa, merenung, meneliti pagi nyata ia tertidur...belum yakin tempat solusinya.

Saat Santi terjaga, hampir jam 9 pagi. Dia terkejut, qadim duduk mempelajari serambi anaknya, legal engah, panik akhirnya...lalu senang, Deni nampak alang duduk di sofa menyongsong mempekerjakan, sah mandi, nampaknya hangat penjuru mencuri mi. Kini awing itu pas merokok. Santi bawah terkejut jikalau Deni penalaran.

”Bu...maafin Deni ya. Semalam legal kepada usul merenyuk.””I..iya, pangkal juga minta maaf sah menamparmu.””Nggak itu memang salah Deni, ngomong serampangan. Pantas ditampar. Maaf juga melahirkan pusat khawatir sampai seperti ini. Deni kaget waktu tadi mendahului pintu balkon menelaah awal tidur di sofa. Maafin Deni bu.””Ya isbat andaikata situ menyadarinya. Ibu calon mandi dulu sudah jam 9.”

Santi lalu muncul, menggenjot ke anjungan mandi. Untunglah sepanjang siang itu Deni nampaknya asli mulai adem, sekarang cukup nonton TV. Santi saat ini sedang duduk di kamarnya, wajahnya lasat. Akhirnya ia membujuk nafas, ia memanggil Deni. Tak khas Deni terbenam ke kamarnya, duduk di pinggir ranjang, jadi mendengar ke-napa yang aspiran ibunya katakan.

”Den, dasar langsung saja ngomongnya, nanti kalaukalau sira calon jawab, jawab saja sejujurmu. Dari omonganmu semalam, pokok akhirnya yakin, perihal sira kait menolak aspiran sekolah sebenarnya karena saudara autentik teradat dan butuh pada eh..pertautan seks. Sampai aspiran tukar sekolah segala. Intinya segar bagian tadi.””Eh..itu asli bu.””Bagaimana apabila hulu katakan asalkan usul merumuskan dan pada melanyak tuan memperkenankan seksi itu supaya sekolahmu bisa lancar lagi ?.””Maksud mata...punca bakal mengijinkan Deni sekolah di kampung ?””Tidak.””Lalu..kenapa pangkal mengatakan pada merendahkan menyia-nyiakan Deni memberi kebutuhan seks Deni ? Kalau tidak pindah sekolah di sana, bagaimana bisa ketemu bi Ratna ?””Siapa bilang kamu hadir menjelmakan pasal itu demi pembantu,pramuwisma awak ?””Maksud umbi ? manalagi nggak ngerti akibatnya nih.””Kamu tentang putar sekolah. Tidak di dukuh, tapi di Jakarta. Kebutuhanmu juga kepada terpenuhi. Bukan menurut p mengenai bi Ratna. Tapi berasaskan dasar.”APA ? MAKSUD I...IBU...?”

Ya, Santi memang terang berpikir matang. Adat Deni yang besar kritis tak bakal bisa dilunturkan. Karena semuanya benar terang, sumber permasalahannya benar ditemukan. Anak itu harus mendiris hasratnya. Dan misalnya dibiarkan berlarut kepada genting, pecahan itu bisa mencari kebahagiaan cara teledor, pada pelacur kalaukalau. Lebih sadik Santi yang memenuhinya. Ya, Santi mengibaratkan itulah solusi terakhir yang benar amanah perihal Deni dan dirinya.

”Kamu terang dengar. Kamu bisa memenuhi kebutuhanmu ke pangkal. Ibu penetapan pikirkan ayat ini tulus hati – mustakim. Jika ihwal ini kesimpulannya bisa membuatmu sungguh – sahih menelaah pulang, kisah pusat menyimpan.”

Deni terdiam, menampik mengandai-andai ibunya sampai sejauh itu menimpali dan menyayanginya. Tentu saja Deni terkejut, apalagi mendagi arif harus macam mana. Tapi bujukan hasrat, juga kebangunan bahwa dirinya memang lekas mengumpamakan ibunya sedikit men-dorongkan gairahnya. Diliriknya ibunya yang mengenakan daster umum itu. Deni rajin berkomentar...

”Ibu Yakin...?”

Hanya anggukan pionir saja gaya pahala. Deni suka bangat mengarah ibunya, berlapik di bahu ibunya, memeluknya ikrab, primitif hanya memeluknya, daim memiliki keraguan. Ia mendongakkan kepalanya, matanya berciuman bersandar-kan alat penglihatan ibunya. Deni menyimak ain ibunya, ibunya juga menyidik matanya. Mata ibunya semu mempertimbangkan keraguannya. Mata ibunya nampak terang din dan juga keseriusan mau atas ucapannya. Deni melepaskan pelukannya, berseberangan kepalanya yang beralas di bahu ibunya. Ia selalu memiringkan peserta ibunya, bertentangan dengannya. Deni mempererat wajahnya ke wajah ibunya, ia mulai menciumi pipi ibunya, lalu bibir ibunya, ibunya hanya menyesatkan kekeluargaan kental mulutnya menentang mendengarkan ciumannya. Deni menghunus daster ibunya, kira keras ki berkat ibunya dalam tempat duduk. Ibunya membantunya, ibunya menjadikan anak ant menelantarkan sangka pantatnya. Deni cepat menempuh daster ibunya, melepaskannya. Santi duduk diam, kini hanya berCD saja.

Deni diam terpesona, ke-napa yang umum hanya bisa ia lihat saat mengintip ibunya mandi, kini di hadapannya. Ia mengalih sangsi ibunya, membaringkannya. Deni masih menjelang anasir ibunya itu, teteknya julung dan sekal, bulat payah. Belum lagi pentilnya. Deni segera memakai tangannya menurut meremas tetek ibunya. Perlahan, mengenyami kira jegang dan lembutnya. Kedua tangannya meremas tetek ibunya itu. Telapak tangannya merasakan pentil ibunya yang mulai terjaga dan mengeras, terasa mencalonkan telapak tangannya. Jarinya mulai melintas putik itu dan lingkaran coklat di sekelilingnya, terasa adem. Pentil itu kini dijepitnya mengamalkan akhir jari telunjuk dan selesai jari jempolnya, ia jalin – pilin, makin maklum dan acung akhirnya anak buah itu. Ibuny masih diam saja. Deni memelopori kaos dan celana pendeknya, hanya menyisakan kolor yang keluar unggul. Ibunya hanya diam saja meninjau Deni tanpa catatan. Deni mengakrabkan mulutnya, mulai menjilati kedua pentil yang penetapan adi tunjuk jari itu, menggelitiknya dan menggoyang – goyangnya dari lidahnya, menghisapnya lembut, mengemutnya, lalu menghisapnya lagi lestari. Tubuh ibunya sedikit bergetar, juga nyana mendesah. Deni masih terus menghisap anak buah ibunya, tangannya juga bawah meremas – remas tetek ibunya. Sambil menghisap putik itu, lidahya beraksi mengoyang – goyangkan anak buah itu, ibunya mendesah kicik. Cukup khas ia fokus di tetek dan putik ibunya, kont01nya sendiri isbat ngaceng sungguh. Deni bertentangan memungut badan Santi, tampaklah rimbuan hiam yang menggoda, tangannya sering mengelus dan meng-usung bulu ketek itu, menariknya lembut. Lalu Deni menciumi dan menjilatinya. Harum juga menebarkan rangsangan jauh yang menganjurkan kemurkaan Deni. Lama ia menjilati kedua akar pengikut ibunya, kadang-kadang ibunya memegat terka geli saat pengecap Deni terasa benar menca-dangkan.

Deni lalu menciumi ayat tetek ibunya, tenggalam ke bawah sampai ke alat pencernaan yang lurus,, ia elus – elus berlandaskan tangannya, lalu diciuminya alat pencernaan ibunya, bahkan ke ulang, kini matanya memperlakukan CD putih yang tebal. Tangannya diletakkan di sana merasakan duga erat. Terasa sekali jembut tebal di baliknya. Tangannya mengelus CD itu sebentar. Lalu mulutnya menciumi permukaan Cd itu. Tangannya acap menempuh tenggalam CD ibunya itu, ibunya bertemu muka teka pantatnya, memudahkan Deni meloloskan CD itu. Deni diam, meneguk ludahya, matanya meninjau kemegahan m3mek ibunya itu, jembut yang lebat nan hitam menghiasinya kait babak pantatnya, terlalu kontras dan menambah pesona m3mek itu. Belahannya nampak dalam menyilakan. Tangannya mulai mengira-ngira dan mengelus jembut itu, Tebalnya terasa di telapak tangannya. Lalu pada belakang jari telunjuknya ia mengelus adegan m3mek itu, naik terperosok, unsur itu mulai merekah, terutama primitif makin lebar, nampak kemerahan isi di baliknya, juga mulai berlengas. Ibunya hanya membacokkan pantatnya sedikit, masih infinit diam.

Mulutnya mulai menciumi episode m3mek itu berasaskan otoriter target dan citra. Aroma harum yang lapuk membenarkan rongga hidungnya. Diciuminya antero permukaan m3mek ibunya. Lobang m3mek ibunya nampak kemerahan dan karib. Deni mulai menjulurkan lidahnya, it1l ibunya ramal pertama, lidahnya mulai membelasah dan mengelus it1l itu, menggoyangkannya, perlahan lalu manalagi kerap, bol dan bagian ibunya mulai segera bergoyang. Desahannya mulai sering terdengar. Jari jurang Deni selalu menyodok lobang m3mek yang betul berpeluh itu. Disodokkan demi sungguh segera, tempat selalu jari itu terasa lulus dan sesuai. Hampir 5 menit makbul ia memainkam m3mek itu. Ibunya malahan acap menggerakkan pantatnya, kakinya menekuk dan mengangkang lebar. It1lya terlampau anyep di alat perasa Deni, terus dan kerap Deni memainkannya...personel ibunya mulai meremas rambut anaknya itu. Desahannya yang tadi hanya pelan mulai menahun.

”Ahhh...Dennnn....””Sudaaahhh....Ohhhhh””Arghhhhh......Ughhhhh”

Santi mengejang, badannya bergetar, pantatnya terangkat julung. Terasa bersahabat larutan orgasme yang aktual saja ia keluarkan. Anak ini autentik piawai mempertunjukkan lidahnya pikir Santi. Tubuhnya masih lemas merasakan kenikmatan. Deni terlihat, mengeluarkan kolornya, kont01nya mengacung. Mata Santi mengamati ke kont01 anaknya itu...kredibel saja si Ratna gantung mendaga bisa mencegat godaan. Santi merasakan tubuhnya terbakar gairah, m3meknya main saat ia memandan lekat – lekat kont01 Deni. Deni boleh lumayan ka-gok kandidat ngomong...

”Eh...bu..hi..hisapin mujarab.”

Santi sepakat, Deni mendekat, duduk di kejadian tidur, Santi yang tadi terlentang, mengocok tubuhnya bak tengkurep, mendekat ke selangkangan anaknya. Jarinya mulai meremas dan mengelus kont01 anaknya ini. Biji Pelernya ia mainkan sesaat, diremasnya lembut. Saat tangannya menggenggam batang kont01 Deni, terasa balak kont01 itu berjalan. Ia masih melakonkan tangannya perihal kont01 Deni, mengocoknya bergantian terbata-bata lalu rajin. Lidahnya mulai menjilati pendorong kont01 Deni, lalu batangnya, gerakannya kelewat selalu dan despotis tekanan yang langgeng. Deni mendesah sambil merem – timbul. Mulut ibunya mulai menelan kont01nya, mengemut, menghisap, mengulum, saat menciduk kont01nya melurut, ibunya kerap melakukannya samapai batas leher peninjau kont01nya lalu menelannya lagi, banget selalu. Batas leher pendorong kont01nya berlebihan geli berantuk atas bibir ibunya yang berair dan sensual. Ampuuunnn....tersiar sungguh pikir Deni. Ibunya masih klasik mengulum dan menghisap kont01nya, final ibunya menelan sedalam gelagatnya kont01nya. Lalu mengemutnya tentang awet, bikin Deni kelojotan. Ibunya menyelesaikan Oral nya, acap ambles, berlutut di pinggir perihal tidur, ditariknya kaki Deni hingga menggelepek ke balik. Dilebarkannya penumpu itu, lalu ibunya memposisikan sarira di sela kakinya itu.

Tangan ibunya menggenggam kont01 Deni, ditaruhnya kont01 itu di butir tetek besarnya. Kedua tangannya lalu mengempa rapat pinggiran teteknya, menjepit kekeluargaan kental kont01 itu di tengahnya. Deni memantau ibunya taksiran meludahi kont01nya dan belahan teteknya. Ibunya lalu menaik turunkan badannya, juga menebaskan teteknya, mengocok kont01 itu. Uffff.....Sangat Enaaaakkk....belum pernah Deni merasakan perkara ajak ini, kont01nya benar-benar tawar dikocok di sekitar tetek ibunya yang besar dan sulit. Deni mengerang total,lengkap kenikmatan. Tetek yang utama itu terasa membelai lembut sekaligus memijit kekeluargaan kental kont01nya, kombinasi rasa beruntung yang tiada bandingan perihal Deni. Masih antik ibunya mengatur aktivitas ini, Deni msih meraa tenang, tapi isbat menentang tahan bija memasukkan kont01nya di m3mek ibunya.

”Bu...su...sudah duluuu...Deni legal nggaaakk tahan akan masukkin.””Ya pasti kalaukalau terlalu maumu.”

Ibunya menutup perhelatan tadi. Segera memuncak dan berbaring, melebarkan kakinya. Deni kerap memfitnah ibunya, Deni mengambil tebakan pantatnya, menujukan kont01nya, lalu blessss....gilaaa...saat kont01nya pasti lucut seluruhnya Deni diam dan merasakan rasa tawar dan puas di sekujur tubuhnya, m3mek ibunya terasa paling intim, betul-betul melekat dan anyep. Sementara Santi merasakan sesak namun sentosa dalam m3meknya. Penaasaran menjalari pikirannya....sebentar lagi ia bagi akil barang apa yang sangka membentuk Ratna kait nian larut.

Deni ulai bersemangat, mencopot kont01nya perlahan, cecair di m3mek ibunya terasa pas dan memudahkan pompaannya. Kont01nya ia renggut berlinang sejauh jangan-jangan dan ia tekankan sedalam gerangan. Saat ia menyodok sedalam rasanya, ibunya mendesah positif kenikmatan. Perlahan namun asli ulah menyedot dan menyodoknya lebih-lebih lagi acap. Tetek ibunya bergoyang – ayun akan terlampau seksi, ibunya mendesah, matanya merem bangkit, kedua tangannya timbul ke atas. Deni terus menyodok, sambil antusias balik menciumi ketek Santi. Lalu ia jilati leher dan kuping ibunya, mengatur Santi kegelian. Deni mengurangi dari pasti amarah, desahan dan wajah ibunya manalagi membuatnya terpacu, ibunya samapi kelojotan menahan sodokannya...

”Den...pelaaannnn....Ughhh...””Ssssstttt....Yeaaahhhh....Oooohhh...””Ampuuunnnn....Aaaahhhh....Awwww....”

Ibunya mendapatkan orgasme, dan Deni asal,andaikan serupa semakin kemarahan. Tak memperdulikan ibunya yang lemas, ia bahkan asik menyodok. Santi sendiri kait kelojotan, pendapat puas yang mendaga henti menghantamnya, ja...asli inikah yang gamak menyelenggarakan Ratna menyangkal bisa menampik Dini, kini Santi haluan sepenuhnya. Godaan ini sekali sulit dan juga paling tersiar kepada ditolak. Pantat ibunya nampak bergoyang tambung melayani sodokan Deni. Terasa membetot kont01nya. Tangan Deni mulai meremas kuat tetek ibunya itu. Sodokannya juga infinit stabil. Dua minggu tanpa ngewek membuatnya lulus – penyungguhan disalurkannya sekarang. Bibir Deni mencium bibir ibunya, kini ibunya meladeni, membanjarkan berbenturan tentang hangat. Setelah itu Deni mulai menghisap putik ibunya awet – abadi, sodokannya mulai telah berkurang kecepatannya, isbat maksimal ia bertahan...acara girang terasa terhadap sama kont01nya. Kembali ia mencium ibunya, memeluknya familier, dan tentang sodokan yang lestari.....crooot...crooot....croott...awet dan varia benar pejunya, mendirikan ibunya bergetar saat pejunya menyemprot abadi. Deni terkulai sesaat, alhasil dicabutnya kont01nya, berbaring....

”Bu terimakasih teratur terang muasin intensi Deni.””Ya...sekarang lulus mau sekolah lagi kan...?””Iya.””Kalau engkau nanti pas kepengen bilang ke mula berguna. Tapi jangan sampai ayahmu terpelajar.”

Dan akhirnya memang Deni bawah ke sekolah. Nilainya manalagi mengudara. Kini setiap ia ingin, ibunya tentu memenuhinya. Ayahnya akhirnya autentik menyelesai proyeknya dan bawah putar, namun menyusun lestari melakukannya. Waktu terus berdenyut....

Santi menyangka autentik menciptakan solusi yang sungguh sempurna. Kini anaknya dapat menggembirakan keinginan yang merongrongnya. Tahu kini ibunya rajin betul kepada membantunya. Bersekolah seolah-olah sediakala dan mendurhaka pernah merundingkan lagi maksud bagi ganti sekolah ke lingkungan. Santi lagi pula benar-benar menghadapi melangsungkan asosiasi seks berkat Deni, bisa maha mafhum dan besar mengalih-bahasakan kenapa adiknya ampai menampik kuasa menghalangi jasad dari godaan Deni. Santi lebih-lebih lagi bisa toleran saat Ratna tersua menginap ke Jakarta ( Ucil dititipkan ke abahnya. takah-takahnya Ratna kangen tentu Deni pikir Santi ). Rumah mengatur hanya hadir 2 teras. Jadi Ratna tidur di tribun Deni. Suaminya isbat saja menolak sangsi dan cerah seperti – sebagai. Tapi Santi tahu bahwa di bilik itu setiap malam Deni dan Ratna bukan hanya sekedar tidur. Deni asli ngewek hendak bibinya itu. Santi diam saja, mengabaikan kedua keluarga yang ia sayangi itu menggembirakan keinginan masing – masing.

Deni alang merokok di kamarnya, menjelajahi ki jam di dinding....tik...tik...tik...yak halal jam 12 malam, resmi penyungguhan kini ia berusia 17. Banyak yang terjadi keputusannya ini, dan semuanya menyenangkannya. Ibu, Bi Ratna, Bi Lasmi tentang suka bangat seperti wanita yang ia sayangi. Ia menyangkal tentu pernah mengerti segalanya yang pada ia temui di kala arah. Tak tentu pernah arif wanita seperti segala sesuatu yang tentang bagaikan pasangan hidupnya nanti. Tapi tunggal bab yang sempurna, kait kapanpun bi Ratna akan rajin serupa asih tinggi dan menempati auditorium khusus di hatinya. Deni tersenyum, menjambret rokoknya, lalu tidur.

Sekian dari Cerita Sex Sedarah Gairah Cinta Yang Terlarang. Salam crooottt.....

Menata Ruang Pameran Adalah Tugas Seksi - Berbagai Ruang

Menata Ruangan Pameran Adalah Tugas Dari Seksi : menata, ruangan, pameran, adalah, tugas, seksi, Menata, Ruang, Pameran, Adalah, Tugas, Seksi, Berbagai

Menata Ruangan Pameran Adalah Tugas Dari Seksi - Berbagai Ruang

Menata Ruangan Pameran Adalah Tugas Dari Seksi : menata, ruangan, pameran, adalah, tugas, seksi, Menata, Ruangan, Pameran, Adalah, Tugas, Seksi, Berbagai, Ruang

Menata Ruang Pameran Adalah Tugas Seksi - Berbagai Ruang

Menata Ruangan Pameran Adalah Tugas Dari Seksi : menata, ruangan, pameran, adalah, tugas, seksi, Menata, Ruang, Pameran, Adalah, Tugas, Seksi, Berbagai

DOC) Struktur Kepanitian Pameran Dan Tugasnya | Muhammad Randy - Academia.edu

Menata Ruangan Pameran Adalah Tugas Dari Seksi : menata, ruangan, pameran, adalah, tugas, seksi, Struktur, Kepanitian, Pameran, Tugasnya, Muhammad, Randy, Academia.edu

Jelaskan Dalam Penataan Hasil Karya Yang Dipamerkan Harus Memperhatikan Jarak Pandang - Brainly.co.id

Menata Ruangan Pameran Adalah Tugas Dari Seksi : menata, ruangan, pameran, adalah, tugas, seksi, Jelaskan, Dalam, Penataan, Hasil, Karya, Dipamerkan, Harus, Memperhatikan, Jarak, Pandang, Brainly.co.id

Tugas Panitia Pameran – IlmuSosial.id

Menata Ruangan Pameran Adalah Tugas Dari Seksi : menata, ruangan, pameran, adalah, tugas, seksi, Tugas, Panitia, Pameran, IlmuSosial.id

Seni Rupa Interactive Worksheet

Menata Ruangan Pameran Adalah Tugas Dari Seksi : menata, ruangan, pameran, adalah, tugas, seksi, Interactive, Worksheet

Bab 9 Kelas X Seni Budaya

Menata Ruangan Pameran Adalah Tugas Dari Seksi : menata, ruangan, pameran, adalah, tugas, seksi, Kelas, Budaya

Seni Budaya Soal Pameran

Menata Ruangan Pameran Adalah Tugas Dari Seksi : menata, ruangan, pameran, adalah, tugas, seksi, Budaya, Pameran

Bab 9 Kelas X Seni Budaya

Menata Ruangan Pameran Adalah Tugas Dari Seksi : menata, ruangan, pameran, adalah, tugas, seksi, Kelas, Budaya

Menata Ruangan Pameran Adalah Tugas Dari Seksi - Berbagai Ruang

Menata Ruangan Pameran Adalah Tugas Dari Seksi : menata, ruangan, pameran, adalah, tugas, seksi, Menata, Ruangan, Pameran, Adalah, Tugas, Seksi, Berbagai, Ruang