Kumpulan Hikayat Melayu

KUMPULAN HIKAYAT LENGKAP.docx. Home. KUMPULAN HIKAYAT LENGKAP.docx. Author: Warnet Vast Raha. 36 downloads 538 Views 178KB Size.Berisi contoh-contoh kumpulan hikayat sastra melayu Indonesia, biar menolong situ dalam Saya harap file download Contoh Hikayat Kumpulan Sastra Melayu Klasik mematuhi pencarian anda.Dalam Katalogus kepusakaan klasik Melayu, kumpulan empat hikayat Nabi Muhammad S.A.W. ini Empat hikayat ini segar sama dengan didong menurut p mengenai kumpulan versi-versi Melayu hikayat...Wahai ading peliharalah mustakim. Tunjuk ajarnya sira penyelidikan. Ambil kalau mu mana yang berguna. Supaya hidupmu tidak menyalah. Hikayat berbilang di bumi junjungan.Hikayat ialah cuai Ahad perihal sastra prosa,manalagi dalam Bahasa Melayu yang berisikan tentu maka, berwai, hukum, rekaman yang bersituasi fantasi, kepahlawanan, religiositas dan berwai.

Contoh Hikayat Kumpulan Sastra Melayu Klasik | Cara Cepat

Kumpulan Hikayat Melayu Indonesia Singkat. Hikayat Yong Dolah YONG DIKEJAR HARIMAU. "Padà suatu hari saàt yong istrahat sehàbis berburu dihutan, tibà-tiba memegang seekor hàrimau bangga menentang...Kamis, 10 Februari 2011. kumpulan hikayat legal melayu komplet. HIKAYAT JAYA LENGKARA Tersebut berwai seorang raja yang besar tinggi kerajaannya, Saeful Muluk namanya, Ajam Saukat......(Sastra Melayu Klasik) Hikayat Indera Bangsawan Hikayat Abu Nawas - Kisah Enam Ekor Lembu yang Pandai Bicara Hikayat Batu Dan Pohon Ara Hikayat Gunung Tidar Hikayat Hang Tuah.Hikayat yakni jejeran dongeng yang ada cerita tentu ketaatan atau kepahlawanan seseorang. Berikut kelebut kumpulan hikayat dengan Cryptowi yang tersaji dan jadi akan Anda membaca.

Contoh Hikayat Kumpulan Sastra Melayu Klasik | Cara Cepat

Empat Hikayat Hagiografi Nabi Muhammad S.A.W | Jantungmelayu.com

Hikayat Adalah : Pengertian, Fungsi, Ciri Ciri, Struktur, Nilai, Unsur, Jenis, Karakteristik Beserta Contohnya Lengkap - Hikayat yaitu teledor tunggal tanda sastra.Search Results for: Contoh Hikayat Kumpulan Sastra Melayu Klasik Beserta MP3 & MP4.Berikut ini adalah jadwal hikayat dalam lagu kalimat Melayu: Hikayat Aceh. Hikayat Abdullah. Hikayat Abu Nawas. Hikayat Abu Samah. Hikayat Amir Hamzah. Hikayat Banjar. Hikayat Bakhtiar. Hikayat Bayan Budiman. Hikayat Hang Tuah. Hikayat Iblis. Hikayat Indraputra. Hikayat Iskandar Zulkarnain.KUMPULAN HIKAYAT. Selasa, 12 Agustus 2014. Silek Minangkabau taksiran menghambur ke sana buat tahun 1160 bersandar-kan ditandainya pancuran alih tempat marga Melayu sehubungan Minangkabau [16].Hikayat Patani (Melayu Klasik). Inilah suatu berwai yang diceritakan buat suku tua-tua, dasar andi yang berlaku negeri Patani Darussalam itu. Adapun raden mas di Kota Maligai itu namanya Paya Tu Kerub...

Kumpulan Berikut Yang Bukan Himpunan Adalah Kumpulan Film Donnie Yen Sekumpulan Rantai Makanan Yang Saling Berhubungan Disebut Kumpulan Ceramah Zainudin Mz Terlengkap (mp3) Kumpulan Berikut Ini Yang Merupakan Himpunan Adalah Kumpulan Puisi Tahun 1970 Kumpulan Lagu Untuk Persembahan Kolekte Kumpulan Mantra Diantara Kumpulan Berikut Yang Termasuk Himpunan Kumpulan Lagu Tony Q

KUMPULAN HIKAYAT (Lengkap Dengan Unsur Instrinsik Dan Ekstrinsik)

KUMPULAN HIKAYAT (Lengkap Dengan Unsur Instrinsik Dan Ekstrinsik)

“PERKARA SI BUNGKUK DAN SI PANJANG”

 Mashudulhakk bijaksana berpendidikan dan bestari mengakhiri perkara-perkara yang alot secara ternyata terhadap acuan yang di mudik ini:

Hatta kisah berapa lamanya Masyhudulhakk pun besarlah. Kalakian dongeng bertambah-tambah cerdiknya dan akalnya itu. Maka untuk berkenaan suatu hari yakni dua orang laki-istri bekerja. Maka sampailah ia perihal suatu samudera. Maka dicaharinya perahu terhadap sama balik gagang, tiada dapat perahu itu. Maka ditantinya 1) gerangan boleh ras lalu berperahu. Itu pun tiada juga benar lalu perahu bangsa. Maka ia pun berhentilah di tebing segara itu berdasarkan istrinya. Sebermula tentang hal istri warga itu paling mustakim parasnya. Syahdan dongeng kepada suami perempuan itu asli antik, lagi bungkuk belakangnya. Maka mau atas persangkaan keluarga ketinggalan zaman itu, cecair lautan itu dalam juga. Katanya, "Apa upayaku mengenai menyebelah samudera ini?"

Maka terselip pula seorang Bedawi duduk di seberang sana sungai itu. Maka kata kelompok itu, "Hai sira kaula, seberangkan apalah gelagatnya saya kedua ini, arah babu tiada dapat berenang; perairan ini tidak aku tahu dalam dangkalnya." Setelah didengar pada Bedawi kata keturunan antik bungkuk itu dan serta dilihatnya perempuan itu sadik rasanya, kisah kerabat Bedawi itu pun sukalah, dan berkata di dalam hatinya, "Untunglah terlampau ini!"

Maka Bedawi itu pun turunlah ia ke dalam lautan itu merendahkan dirinya, hingga lehernya juga ia energik mengedepan kerabat arkais yang bungkuk laki-istri itu. Maka kata umat kuno itu, "Tuan ego seberangkan apalah 2) pembantu,pramuwisma kedua ini. Maka kata Bedawi itu, "Sebagaimana 3) ana tentu singsing saudara kuli kedua ini? Melainkan seorang juga mula maka tersua, tempat larutan ini dalam."

Maka kata famili tua itu bagi istrinya, "Pergilah diri dahulu." Setelah itu maka turunlah perempuan itu ke dalam samudera berdasarkan keluarga Bedawi itu. Arkian maka kata Bedawi itu, "Berilah barang-barang bekal-bekal sampeyan hamba dini, bibi seberangkan." Maka diberi agih perempuan itu segala bekal-bekal itu. Setelah terang kisah dibawanyalah perempuan itu diseberangkan untuk Bedawi itu. Syahdan cerita pura-pura diperdalamnya tirta itu, mudah-mudahan dikata 4) bagi si Bungkuk minuman itu dalam. Maka sampailah terhadap sama pertengahan sungai itu, dongeng kata Bedawi itu kepada perempuan itu, "Akan sampeyan ini maha cantik purata atas mudanya. Mengapa maka anda hamba berlakikan familia unik baheula bungkuk ini? Baik juga anda ulun buangkan kerabat bungkuk itu, semoga agar situ awang, babu ambit, bibi jadikan istri khadam." Maka berbagai-bagailah katanya tentu perempuan itu.

Maka kata perempuan itu kepadanya, "Baiklah, hamba turutlah kata tuan hamba itu."

Maka sepertinya sampailah ia ke seberang segara itu, maka keduanya pun mandilah, setelah sahih maka makanlah ia keduanya segala perbekalan itu. Maka segala budi bahasa itu semuanya dilihat akan kelas arkais bungkuk itu dan segala masalah perempuan itu menurut p mengenai Bedawi itu.

Kalakian maka heranlah bangsa lama itu. Setelah sudah ia menyerobot, dongeng ia pun berjalanlah keduanya. Setelah dilihat untuk umat klasik itu kepada Bedawi berlandaskan istrinya berlaku, alkisah ia pun berkata-kata dalam hatinya, "Daripada muncul menginvestigasi juz yang demikian ini, baiklah babu pasif."

Setelah itu maka terjunlah ia ke dalam sungai itu. Maka heranlah ia, berasaskan dilihatnya danau itu aimya tiada dalam, maka mengarunglah ia ke seberang lalu diikutnya Bedawi itu. Dengan bagian yang demikian itu cerita sampailah ia hendak dukuh letak Masyhudulhakk itu.

Maka genus arkais itu pun datanglah mengipasi akan Masyhudulhakk. Setelah itu maka disuruh oleh Masyhudulhakk panggil Bedawi itu. Maka Bedawi itu pun datanglah pada perempuan itu. Maka kata Masyhudulhakk, "Istri siapa perempuan ini?"

Maka kata Bedawi itu, "Istri kami perempuan ini. Dari kicik lagi permulaan hamba pinangkan; penetapan unggul dinikahkan sehubungan benduan."

Maka kata genus bahari itu, "Istri saya, bersandar-kan cilik nikah berdasarkan ego."

Maka atas demikian seperti bergaduhlah meronce itu. Syahdan maka gemparlah. Maka marga pun berhimpun, benar menginvestigasi bab merapikan itu ketiga. Maka bertanyalah Masyhudulhakk buat perempuan itu, "Berkata benarlah tuan, siapa suamimu sekitar dua kelompok laki-laki ini?"

Maka kata perempuan malang itu, "Si Panjang inilah suami aku."

Maka pikirlah 5) Masyhudulhakk, "Baik tentu seorang-seorang kami bertanya, semoga berketahuan siapa teledor dan siapa terang di dalam tiga orang membereskan itu.

Maka diperjauhkannyalah laki-laki itu keduanya. Arkian alkisah diperiksa pula menurut Masyhudulhakk. Maka kata perempuan itu, "Si Panjang itulah suami hamba."

Maka kata Masyhudulhakk, "Jika sah ia suamimu siapa mentuamu laki-laki dan siapa mentuamu perempuan dan di mana masa duduknya?"

Maka tiada terjawab bagi perempuan malang itu. Maka disuruh menurut Masyhudulhakk perjauhkan. Setelah itu berwai dibawa pula si Panjang itu. Maka kata Masyhudulhakk, "Berkata benarlah anda ini. Sungguhkah perempuan itu istrimu?"

Maka kata Bedawi itu, "Bahwa perempuan itu sedikit nyatalah istri dayang; bahkan perempuan itu sendiri penyungguhan berikrar, mengucapkan ego ini tentulah suaminya."

Syahdan dongeng Masyhudulhakk pun tertawa, seraya bertutur, “Jika sahih istrimu perempuan ini, siapa nama mentuamu laki-laki dan mentuamu perempuan, dan di mana dukuh stan ia duduk?"

Maka tiadalah terjawab beri laki-laki itu. Maka disuruh akan Masyhudulhakk jauhkan laki-laki Bedawi itu. Setelah itu maka dipanggilnya pula familia lapuk itu. Maka kata Masyhudulhakk, "Hai kelas tua, sungguhlah perempuan itu istrimu sebenar-benamya?"

Maka kata suku lapuk itu, "Daripada asal awalnya." Kemudian cerita dikatakannya, siapa mentuanya laki-laki dan perempuan dan di mana kealaman duduknya

Maka Masyhudulhakk berlandaskan sekalian famili banyak itu pun tahulah bagi cabar Bedawi itu dan kenyataan kasta kuno itu. Maka hendaklah disakiti buat Masyhudulhakk kepada Bedawi itu. Maka Bedawi itu pun mengakulah salahnya. Demikian juga perempuan rengsa itu. Lalu didera guna Masyhudulhakk untuk berkenaan Bedawi itu serta karena perempuan celaka itu seratus bandar. Kemudian alkisah disuruhnya tobat Bedawi itu, jangan lagi ia beraksi aksi demikian itu.

Maka bertambah-tambah masyhurlah arif berilmu Masyhudulhakk itu.

Unsur Intrinsik dan ekstrinsik HIKAYAT

Judul           : Hikayat Mashudulhakk (bagian si bungkuk dan si runcing)

Unsur intrinsik :

·         Tema               : Kesetiaan dan Pengkhianatan dalam Cinta

·         Tokoh             :

ü  Masyhudulhakk : arif, bestari, ragib mengakomodasi, berbudi, amanah hati.

ú  …Masyhudulhakk pun besarlah. Kalakian maka bertambah-tambah cerdiknya dan akalnya itu.

ú  Maka bertambah-tambah masyhurlah akil bakir Masyhudulhakk itu.

ú  …..Maka pikirlah 5) Masyhudulhakk,"Baik tentang seorang-seorang saya bertanya, semoga berketahuan siapa abai dan siapa terang di dalam tiga keluarga meronce itu.

ü  Si Bungkuk : totaliter bagi istrinya, sibuk mengalah, mudah percaya.

ú  Maka kata kaum kuno itu, "Istri bedinde, sehubungan kecil nikah berdasarkan awak.

ú  Maka Bedawi itu pun turunlah ia ke dalam teluk itu memudakan dirinya, hingga lehernya juga ia beroperasi mengarah marga tua yang bungkuk laki-istri itu. Maka kata rumpun klasik itu, "Tuan awang seberangkan apalah 2) babu kedua ini.

ú  Maka kata orang khas itu tentang istrinya, "Pergilah sarira pagi buta." Setelah itu cerita turunlah perempuan itu ke dalam danau akan ras Bedawi itu.

ü  Si Panjang / Bedawi : licik, egois.

ú  Setelah didengar kepada Bedawi kata rumpun arkais bungkuk itu dan serta dilihatnya perempuan itu amanah seakan-akan, alkisah famili Bedawi itu pun sukalah, dan berujar di dalam hatinya, "Untunglah nian ini!

ú  Maka kata Bedawi itu, "Bahwa perempuan itu sangka nyatalah istri ana; makin perempuan itu sendiri autentik berikrar, mengajukan bibi ini tentulah suaminya.

ü  Istri Si Bungkuk : mudah dirayu, tidak pasti, sip berbohong, egois.

ú  babu jadikan istri ego." Maka berbagai-bagailah katanya bakal perempuan itu.Maka kata perempuan itu kepadanya, "Baiklah.

ú  ….cerita diperiksa pula oleh Masyhudulhakk. Maka kata perempuan itu, "Si Panjang itulah suami saya.

·         Setting :

ü  sifat :

ú  tepi selat : Maka ia pun berhentilah di tebing danau itu dari istrinya.

ú  Sungai : turunlah perempuanitu ke dalam segara akan marga Bedawi itu

ü  Suasana :

ú  menegangkan: Maka bakal lumayan keturunan ketinggalan zaman itu, cecair lautan itu dalam juga.

ú  Mengecewakan:  "Daripada tersedia memandangi perkara yang demikian ini, akur awang sepi.Setelah itu maka terjunlah ia ke dalam selat itu.

ú  Membingungkan: Maka terhadap demikian bagaikan bergaduhlah membereskan itu. Syahdan kisah gemparlah.

ü  Waktu : tidak diketahui

·         Alur : Alur maju

ü  Eksposisi         :

Mashudulhakk ilmuwan cerdik pandai dan berkecukupan mengakhiri perkara-perkara yang lanjut  maka berapa lamanya Masyhudulhakk pun besarlah. Kalakian dongeng bertambah-tambah cerdiknya dan akalnya itu. Maka untuk berkenaan suatu hari yakni dua kaum laki-istri berfungsi. Maka sampailah ia tentu suatu kali.

ü  Complication   :

….serta dilihatnyaperempuan itu mustakim lebih kurang, cerita spesies Bedawi itu pun sukalah, dan berbahasa di dalam hatinya, "Untunglah betul ini!

ü  Rising action   :

Maka sampailah buat pertengahan laut itu, kisah kata Bedawi itu untuk berkenaan perempuan itu, "Akan dikau ini sekali bagus kurang lebih berlandaskan mudanya. Mengapa dongeng sampeyan bedinde berlakikan macam primitif bungkuk ini? Baik juga dikau bedinde buangkan bani bungkuk itu, supaya biar sira ulun, ulun ambit, khadam jadikan istri kaula."

ü  Turning point :

Maka suku ketinggalan zaman itu pun datanglah memberi tahu tentang Masyhudulhakk. Setelah itu dongeng disuruh menurut Masyhudulhakk panggil Bedawi itu. Maka Bedawi itu pun datanglah atas perempuan itu. Masyhudulhakk, "Baik buat seorang-seorang jongos bertanya, semoga berketahuan siapa alpa dan siapa penetapan di dalam tiga kaum menyetir itu.

ü  Ending                        :

Masyhudulhakk pada sekalian bangsa serbaserbi itu pun tahulah bakal lengah Bedawi itu dan kenyataan umat antik itu. Maka Bedawi itu pun mengakulah salahnya. Demikian juga perempuan jentaka itu. Lalu didera bagi Masyhudulhakk terhadap sama Bedawi itu serta berkat perempuan celaka itu seratus anak sungai.

·         Poin of View :

ü  ordo ke-3 :

Maka bertambah-tambah masyhurlah arif berbudi Masyhudulhakk itu.

·         Amanat :

ü  Jangan berbohong karena berbohong itu tidak ikhlas, adalah dosa, dan hanya kepada mewujudkan kerugian untuk berkenaan sarira kita sendiri

ü  Bantulah karena lurus akal marga yang membutuhkan pertolongan

ü  Syukurilah jodoh yang perkiraan diberikan Tuhan, yakini bahwa jodoh itu benar pada kita

ü  Jangan berseberangan keputusan sesaat yang belum dipikirkan dampaknya

ü  Jadilah warga yang cerdik pandai dalam menyentosakan suatu unit

Unsur ekstrinsik :

·         Nilai religiusitas : kita harus sering bersyukur akan barang apa yang terkaan adv cukup diberikan kalau Allah. Jangan pernah mengirakan iri atas segala sesuatu yang tidak kita miliki pada apa sebab yang te;ah diberikan Allah bakal kita yaitu sesuatu yang memang maksimum guna kita. Janagn seperti yang tampak untuk berkenaan hikayat mashudulhakk.

·         Nilai kehalusan :

Janganlah  sekali-kali  kita mengarib balikkan evidensi, mengucapkan bahwa yang alpa itu sudah dansebaliknya, berdasarkan bagaimanapun juga kenyataan terhadap sama membasmi ketidak benaran.

·         Nilai social adat :

Sebuah kesalahan pastilah terhadap sama mendapat sebuah sambungan, sama hikayat ini diterangkan bahwa seorang yang mengarang keslahan serupa berbohong cerita bakal did masa sebanyak seratus lungkang. (Lalu didera bagi Masyhudulhakk bakal Bedawi itu serta terhadap perempuan sebal itu seratus anak air.)

·         Kepengarangan :

Hikayat mashudulhakk ini tentang lupa tunggal naskah ketinggalan zaman (Collectie v.d. Wall) bersandar-kan diubah di sana-sini setelah dibandingkan sehubungan buku yang diterbitkan untuk A.F. v.d. Wall (menganut naskah yang kekok dalam kumpulan yang tersebut).Dalam Volksalmanak Melayu 1931 (Balai Pustaka) beban naskah yang dipakai v.d. Wall itu diringkaskan dan sambungannya dimuat pula, dengan alamat "Masyudhak".. Dinantinya.

“IBNU HASAN”

Syahdan, zaman sebab periode, muncul seorang beruang hartawan, bernama Syekh Hasan, berjenis-jenis harta berjenis-jenis uang, luhur kesetiap bidang, ialah anak terkaya, hidup du semesta Bagdad, yang ternama kemana-mana, macam kota yang kelewat berdenyut saat itu.

Syekh Hasan amat bakir, mengasihi fakir bapet, anak emas yang nista, menasehati yang berikiran sempit, mengingatkan rumpun yang bodoh, diajari kajian yang lurus hati, melainkan harus  menghadirkan biaya, berupa pakaian atau uang, demi itu banyak pengikutnya.

Syekh Hasan tengkulak yang kaya raya, betul seorang kanak-kanak, laki-laki yang banget perawakan n bangun, pendiam, dan tulus hati pikiran, berusia rongak tujuh tahun. Ibnu Hasan namanya.

Ibnu Hasan alang lucu-lucuya, semua macam tenteram melihatnya, bahkan ordo tuanya, namun demikian pecahan itu, tidak bedegang, perilakunya kalem, malahan hidupnya dimanjakan, tidak kekurangan sandang, namun Ibnu Hasan tentang suka bersolek, berlandaskan itulah kedua ras tuanya besar menyayanginya.

Ayahnya berfikir,”Alangkah salahnya bibi, sunting hati menganakemaskan v mencintai diluar batas, tanpa argumen, betapa kalaukalau keputusannya, dimirkai Allah Yang Agung, ana absah durhaka, mendagi dapat mengasuh pecahan, mendalami pengetahuan yang berarti.”

Dipanggilnya putranya. Anak itu segera mendatanginya, diusap-usapnya putranya sambil dinasihati, bahwa Ia harus mencari ilmu, katanya “Sekarang saatnya anakku, sebetulnya ana kuatir, tapi, pergilah ke Mesir, carilah cara mendatangi keutamaan.”

Ibnu Hasan membalas,”Ayah jangan was-was, jangankan instrumen menentang kemasyhuran, wahana kematianpun babu jalani, semua selera keturunan lama, terhadap sama budak turuti, tidak buat ku merapatkan apkir, siang malam hanya titah Ayah Ibu yang amah nantikan.”

Singkat alkisah, Ibnu Hasan yang terhadap sama minggat kepesantren, tuntas berdasarkan kedua orangtuanya, hatinya kelewat sedih, ibunya tidak tahan menangis terisak-isak, harus kiamat tentang putranya, yang masih betul-betul cilik, belum tanggung usia.

“Kelak, andaikata entong jadi gantung, ketempat merantau, pandai-pandailah mendidik awak, berasaskan jauh pada ordo arkais, harus cerdik ilmunya memegang, jangan berat imam, bengah dan membesarkan hati fisik, mereken lebih pada yang ka-gok, menghitung sarira kerabat berharta lalu menghina sesama. Kalau kelewat perbuatanmu, hidupmu tidak bagi senangkaena dimusuhi semua keluarga, tidak sama tampil yang hendak membantu, sekiranya celaka tidak tentang diperhatikan, rani dirantau kerabat, andaikata judes pada mendapatkan naas, hati-hatilah menyelenggarakan selira jangan meraba enteng segala surah.”

Ibnu Hasan membalas arah topi,”Apa yang Ibu katakan, akan suka bangat kuingat dan kucatat dalam hati, doakanah abdi semoga jernih suasana, supaya jangan ampai memompa wahana yang teledor, wasiat Ibu bagi kuperhatikan, siang dan malam.”

Singkat berwai Ibnu Hasan sah bertolak dikawal dua pengasuhnya sejak mikro, Mairin dan Mairun,mengeset mengacir rancak kaki, Mairun mem-baptis semua perbekalan dan pakaian, sementara Mairin memindai tentang ujung, sewaktu-waktu mengoper tugas Mairun.

Perasaan sedih prihatin, kehujanan, kepanasan, selama pengembaraan yang menggayung waktu berhari-hari namun alhasil ampai juga dipusat kota Negara Mesir, atas lega dari do’a Ayah dan Ibunda, selanjutnya, selalu Ian menyebrangi seorang alim lihai, terus membaca padanya.

Pada suatu hari, saatba’da zuhur, Ibnu Hasan kepalang di wahana, beradu seseorang bernama Saleh, yang berlaku bawah sehubungan sekalah, Ibnu Hasan menyapa,”Anda mudik menurut p mengenai mana?”

Saleh membalas dari berbudi,”Saya balik sekolah.” Ibnu Hasan bertanya lagi,” Sekolah itu segala sesuatu? Coba jelaskan padaku!” yang ditanya mengindahkan,”Apakah kamu belum akil?”

“sekolah itu laksana disiplin, tepatnya masa mengaji, berhitung, menulis, menuturkan, mencontoh tatakrama, kebajikan tentang yang lebih arkais dan yang lebih muda, dan demi sesama, harus akur dari lembaga.”

Begitu Ibnu Hasan mendengar penjelasan tersebut, sungguh bahagia hatinya, di suka bangat  pulih, menjurus kyai dan membujuk izinya, kalau mencontoh disekolah, pengertian memahirkan. Sekarang katakan padaku apa sebab yang konkret tuan harapkan.”

Kyai berkata demikian, target untuk  menguji muridnya, apakah benar ingin bersekolah atau hanya keterangan mudah-mudahan mendapat apresiasi.

Ibnu Hasan menunduk, menyibukkan sedikit aib,”Hamba ingin mengkritik mengapa ana besusah akut tanpa mengenal lelah, membiasakan.

Memang dugaan warga banget berasaskan ayahku berada raya, tidak cela uang, ternaknyapun serbaserbi, bujang tidak usah berlaku, tempat tidak akan kekurangan.

Namun, adicita benduan tidak demikian, buat banget memalukan bilamana pengasuh sempurna tiada, halal menunggal daerah, semua hartanya berantakan ketangan amah.

Tapi, ternyata tidak terurus berlandaskan saya tidak persis akhirnya harta itu berparak, bukan berlipat. Distulah mempunyai ternyata seumpama amah ini bodoh.

Bukan berketurunan mashur, asalnya kanak-kanak kasta berkecukupan, harus selaku buruh. Begitulah sirkulasi udara budak tempat kapital legal terlihat ego hanya tinggal melanjutkan.

Pangkat anakpun nian pula, lagi pula tidak melebihiorang arkais, nian tidak harus ialah bangsa klasik, dan tidak perihal mempersiapkan, manalagi apabila lebih melarat, ibaratnya ranting seorang patih.”

Maka, yakinlah kyai itu akan bauk muridnya.

           UNSUR INSTRINSIK

Ø  Tema    : Bakti seorang pecahan atas kasta tuanya

Ø  Tokoh   : 

o   Ibnu Hasan

o   Syekh Hasan

o   Ibu Ibnu Hasan

o   Mairin

o   Mairun

o   Saleh

o   Kyai penyuluh

Ø  Penokohan : 

o   Ibnu Hasan = Baik, tidak angkuh, kalem, pendiam, penurut

o   Syekh Hasan = Baik, Bijaksan, Penyayang

o   Ibu Ibnu Hasan = Baik, Penyayang

o   Mairin dan Mairum = Setia

o   Saleh = Sopan

o   Kyai pensyarah = Baik

Ø  Plot/Alur : Alur Maju

Ø  Latar :

o   Latar iklim = Negeri Bagdad, Mesir, Pesantren

o   Latar waktu = Zaman pagi-pagi zaman, Saat ba’da Dzuhur

o   Latar suasan = Mengahrukan, sedih, Prihatin

Ø  Sudut pandang : Orang ketiga Minggu esa

Ø  Amanat : Patuhlah kepda kedua orangtuamu, berbuat setuju kesesama manusia dan janganlah sekali-kali kamu melantamkan jasad.

UNSUR INSTRINSIK

Ø  Agama : Menganut petunjuk Islam

Ø  Pendidikan : Ibnu Hasan kasatmata saja ingin menuntut bidang akan kyai tentor

Ø  Adat adat : Sopan, mengasihi yg cacat, dll

Ø  Status ekonomi : Syekh Hasan sungguh berada raya.

“Si Miskin”

Karena keyakinan Batara Indera, seorang permasan keinderaan beserta permaisurinya bibuang berkat keinderaan sehingga sengsara hidupnya. Itulah sebabnya kemudian ia dikenal ala si Miskin.

Si Miskin laki-bini tempat seperti kainnya seakan-akan dimamah anjing itu bersungguh-sungguh mencari rezeki berkeliling di Negeri Antah Berantah di sisi belakang pemerintahan Maharaja Indera Dewa. Ke mana mengedit berangkat rajin diburu dan diusir pada penduduk model berputar terhadap disertai kezaliman sehingga bengkak-bengkak dan berdarah-darah tubuhnya. Sepanjang pertualangan menangislah si Miskin berdua itu bersandar-kan paling lapar dan dahaganya. Waktu malam tidur di hutan, siangnya giat mencari rezeki. Demikian seterusnya.

Ketika isterinya memin- dahkan tiga bulan, ia merindu-kan menggelapkan mangga yang tampak di taman darah biru. Si Miskin membahasakan keberatannya untuk menyendok nafsu pretensi isterinya itu, lagi pula istri itu apalagi menjadi-jadi menangisnya. Maka berkatalah si Miskin, “Diamlah. Tuan jangan menangis. Biar Kakanda enyah mencari akibat mempelam itu. Jikalau dapat, Kakanda berikan mengenai dikau.”

Si Miskin bertolak ke pasar, pulangnya ajak mempelam dan makanan-makanan yang tersendiri. Setelah ditolak kasih isterinya, demi hati yang lacur dan sewenang-wenang ketakutan, pergilah si Miskin mendatangi raden mas memohon mempelam. Setelah diperolehnya setangkai mangga, pulanglah ia rajin. Isterinya menjemput arah tertawa-tawa dan terus dimakannya mangga itu.

Setelah mantap bulannya kandunga itu, lahirlah anaknya yang besar laki-laki bernama Marakarmah (=anak cucu di dalam kesukaran) dan diasuhnya akan sewenang-wenang anugerah sayang.

Ketika menginvestigasi dunia untuk keperluan mengatur teratak gaya posisi tinggal, didapatnya sebuah tajau yang adikara berumbi emas yang tidak bagi putus beri berbelanja sampai mengenai anggota cucunya. Dengan takdir Allah terdirilah di situ sebuah autokrasi yang sempurna perlengkapannya.

Si Miskin lalu bidis nama Maharaja Indera Angkasa dan isterinya bernama Tuan Puteri Ratna Dewi. Negerinya diberi nama Puspa Sari. Tidak antik kemudian, lahirlah anaknya yang kedua, perempuan, bernama Nila Kesuma.

Maharaja Indera Angkasa terlalu seimbang dan pemurah sehingga memasyurkan monarki Puspa Sari dan memasang iri hati bakal Maharaja Indera Dewa di habitat Antah Berantah.

Ketika Maharaja Indera Angkasa buat memaklumkan pertunangan putra-putrinya, dicarinya ahli-ahli nujum berlandaskan Negeri Antah Berantah.

Atas lambaian jahat karena raja Antah Berantah, kasih para kaki tangan nujum itu dikatakan bahwa Marakarmah dan Nila Kesuma itu kelak hanyalah buat menyelenggarakan jentaka saja kepada orangtuanya.

Ramalan bikinan para anggota nujum itu menyedihkan hati Maharaja Indera Angkasa. Maka, berlandaskan hati yang lasat dan amat terharu disuruhnya enyah selama-lamanya putra-putrinya itu.

Tidak lapuk kemudian sepeninggal putra-putrinya itu, Negeri Puspa Sari lucut berapi.

Sesampai di jarang hutan, Marakarmah dan Nila Kesuma berlindung di balik pokok beringin. Ditangkapnya seekor burung guna dimakan. Waktu mencari elektrik ke dusun, tempat disangka menimba, Marakarmah dipukuli kasta berjenis-jenis, kemudian dilemparkan ke bahar. Nila Kesuma ditemu oleh Raja Mengindera Sari, putera mahkota demi Palinggam Cahaya, yang bagi keputusannya seperti isteri putera mahkota itu dan bernama Mayang Mengurai.

Akan nasib Marakarmah di selat, teruslah dia hanyut dan kesimpulannya menelentang di pelabuhan raksasa yang jelita Cahaya Chairani (putri pangeran Cina) yang setelah gemuk terhadap sama dimakan. Waktu Cahaya Chairani berfungsi–aparat di tepi pantai, dijumpainya Marakarmah dalam udara terikat tubuhnya. Dilepaskan tali-tali dan diajaknya rujuk. Marakarmah dan Cahaya Chairani berusaha lari berkat stan raksasa arah menumpang sebuah kapal. Timbul birahi nahkoda kapal itu mau atas Cahaya Chairani, berwai didorongnya Marakarmah ke laut, yang seterusnya ditelan untuk ikan nun yang membuntuti kapal itu mengarah ke Palinggam Cahaya. Kemudian, ikan nun terserampang di rapat pendapa Nenek Kebayan yang kemudian terus memotong perut ikan nun itu terhadap daun padi dengan mendapat perintah berlandaskan burung Rajawali, kait Marakarmah dapat merembes dari menentang bercela.

Kemudian, Marakarmah laksana arek bawa Nenek Kebayan yang kehidupannya berjual rente. Marakarmah kerap menolak menggubah anak uang. Alasannya, gubahan anak uang Marakarmah dikenal pada Cahaya Chairani, yang seperti pasal dapat berlanggar putar masa suami-isteri itu.

Karena cerita Nenek Kebayan mengenai putera Raja Mangindera Sari menemukan seorang puteri di putar kausa beringin yang cukup menenteramkan burung, tahulah Marakarmah bahwa puteri tersebut adiknya sendiri, berwai ditemuinyalah. Nahkoda kapal yang jahat itu dibunuhnya.

Selanjutnya, Marakarmah mencari pemimpin bundanya yang terkaan adv cukup rampak berantakan pulih. Dengan kesaktiannya diciptakannya rujuk Kerajaan Puspa Sari berasaskan segala perlengkapannya seakan-akan dahulu zaman.

Negeri Antah Berantah dikalahkan beri Marakarmah, yang kemudian dirajai kasih Raja Bujangga Indera (saudara Cahaya Chairani).

Akhirnya, Marakarmah berangkat ke bumi mertuanya yang bernama Maharaja Malai Kisna di Mercu Indera dan menyesarkan mertuanya itu jadi Sultan Mangindera Sari bagai pangeran di Palinggam Cahaya.

Unsur Intrinsik dalam hikayat Si Miskin

1.    Tema :  Kunci kesuksesan adalah kesabaran. Perjalanan menyimpan seseorang yang mendapati varia kendala dan cobaan.

2.    Alur : Menggunakan anak sungai maju, berkat penulis menceritakan iklim tersebut tempat hulu permasalahan kait akhir permasalahan.

3.    Setting/ Latar :

¯ -Setting Tempat : Negeri Antah Berantah, hutan, pasar, Negeri Puspa Sari, Lautan, Tepi Pantai Pulau Raksasa, Kapal, Negeri Palinggam Cahaya.

¯ Setting Suasana : tegang, mencekam dan Ketakutan, sip, menyedihkan

4.    Sudut Pandang Pengarang : kasta ketiga serba pintar.

5.    Amanat :

¯  Seorang pengendali yang amanah adalah seorang yang benar dan pemurah.

¯  Janganlah mudah terpengaruh tempat kata-kata oran asing.

¯  Hadapilah semua tegahan dan cobaan dalam sedia berkat sabar dan cela      hati.

¯  Jangan memandang seseorang dengan hidup luarnya saja, tapi lihatlah ke dalam hatinya.

¯  Hendaknya kita dapat menampung sesama yang menyebrangi kesukaran.

¯  Janganlah kita mudah terjerembap dalam merasai suatu ihwal.

¯  Hidup dan janji, mantap dan kedukaan, semua sugih di tanan Tuhan, manusia hanya dapat menikmati takdir yang sedikit ditentukan.

Unsur Ekstrinsik dalam Hikayat Si Miskin

1. Nilai Moral

Kita harus bersikap ilmuwan dalam menanggung segala perkara di dalam berdiri kita.

Jangan kita amat memaksakan kehendak kita hendak ras kikuk.

2. Nilai Budaya

Sebagai seorang entong kita harus kehalusan orangtua.

Hendaknya seorang ibnu dapat memperbudak buat kerabat primitif.

3. Nilai Sosial

Kita harus saling bergotong-royong tentang sesama dan buat kategori yang membutuhkan tanpa pendapat pamrih.

Hendaknya kita bakal berbagi untuk membantu beban bani terasing.

4. Nilai Religius

Jangan menyungguhkan dugaan yang belum legal kebenarannya.

Percayalah mengenai Tuhan bahwa Dialah yang memutuskan nasib manusia.

5. Nilai Pendidikan

Kita harus saling bergandeng tangan berkat sesama dan perihal suku yang membutuhkan tanpa tafsir pamrih.

Jangan menanggapi taksiran yang belum tepat kebenarannya.

Kumpulan Sastra Melayu Klasik

Kumpulan Hikayat Melayu : kumpulan, hikayat, melayu, Kumpulan, Sastra, Melayu, Klasik

Kumpulan Sastra Melayu Klasik

Kumpulan Hikayat Melayu : kumpulan, hikayat, melayu, Kumpulan, Sastra, Melayu, Klasik

Kumpulan Sastra Melayu Klasik

Kumpulan Hikayat Melayu : kumpulan, hikayat, melayu, Kumpulan, Sastra, Melayu, Klasik

Kumpulan Sastra Melayu Klasik

Kumpulan Hikayat Melayu : kumpulan, hikayat, melayu, Kumpulan, Sastra, Melayu, Klasik

Kumpulan Sastra Melayu Klasik

Kumpulan Hikayat Melayu : kumpulan, hikayat, melayu, Kumpulan, Sastra, Melayu, Klasik

Kumpulan Sastra Melayu Klasik

Kumpulan Hikayat Melayu : kumpulan, hikayat, melayu, Kumpulan, Sastra, Melayu, Klasik

Kumpulan Sastra Melayu Klasik

Kumpulan Hikayat Melayu : kumpulan, hikayat, melayu, Kumpulan, Sastra, Melayu, Klasik

Contoh Cerita Hikayat Pendek

Kumpulan Hikayat Melayu : kumpulan, hikayat, melayu, Contoh, Cerita, Hikayat, Pendek

Contoh Hikayat Melayu Kuno - Grills & Zubehör

Kumpulan Hikayat Melayu : kumpulan, hikayat, melayu, Contoh, Hikayat, Melayu, Grills, Zubehör

Contoh Hikayat Lengkap Dengan Unsur Intrinsik Dan Ekstrinsiknya - Temblor En

Kumpulan Hikayat Melayu : kumpulan, hikayat, melayu, Contoh, Hikayat, Lengkap, Dengan, Unsur, Intrinsik, Ekstrinsiknya, Temblor

Contoh Hikayat Melayu Klasik Singkat Merry Ccc – Cute766

Kumpulan Hikayat Melayu : kumpulan, hikayat, melayu, Contoh, Hikayat, Melayu, Klasik, Singkat, Merry, Cute766