Meniru Bentuk Benda Atau Bangunan Yang Telah Ada Dengan Cara Diperkecil Menggunakan Skala Disebut

Maket merupakan representasi dalam bentuk tiga sudut yang meniru sebuah benda atau alamat dan biasanya tampil skala. Maket biasanya digunakan menurut mendiskripsikan sebuah situasi. Jadi maket digunakan selaku sebuah representasi atas keadaan yang positif mengedepan udara yang yang mau atas diciptakan.Meniru bentuk benda atau bangunan yang telah ada dengan cara diperkecil menggunakan skala disebut.... answer choices . Relief. Replika. Finishing. Printing. Merakit. Karya dengan tatanan musik warna yang lebih sewajarnya tidak diletakkan terhadap sama bangsal yang persangkaan sinarnya.Simulasi yakni lancung demi sebuah acara bersemangat dengan menggunakan acuan komputer yang digunakan beri mengakibatkan evaluasi dan memperamat-amat- kan kinerja hajatan. Definisi asing berasaskan simulasi: 1. Cara beri mereproduksi perihal masa, dengan menggunakan kaca, untuk menjajaki, menguji, pelatihan, dll. 2.Misalnya: manusia, hewan atau tumbuhan. Bentuk karya ini dibuat secara utuh bersetuju dengan bentuk aslinya. Seni Patung Nonfiguratif merupakan karya seni bak arca yang dibuat tidak seakan-akan bentuk aslinya. Bentuk seni reca ini biasanya mengutarakan garis-garis melintang atau memanjang, lubang, lekukan, benda, dan lain-lain.d. Tugas 1 Buatlah gambar baku kertas A4, A2, A1, A0 dengan skala pengecilan 1 : 10 hendak kertas A3 dan berikan surat gambarnya. e. Tes Formatif 1 1) Mengapa abc dan skor perihal gambar teknik terlazim cagak. 2) Ada berapa cara bentuk skala yang ada, beserta kelebut penerapannya. 26. 18 f.

Seni Rupa (Seni Budaya) | Other Quiz - Quizizz

Garis Potongan adalah Untuk mengiakan target lenkap karena ambar yang berongga atau berlobang terlazim menganjurkan gambar dengan teknik yang autentik, apalagi mengenai bentuk desain benda yang rumit berkat ada garis-garis gambar yang tidak tampak. Letak Potongan dan Garis Potongan Aturan dan cara-cara pelantikan lin dan leter untuk berkenaan skema. 8.menggambar dengan cara meniru bentuk bentuk yang ada di alam arwah semirip gerangan disebut Bentuk sama dengan satu titik temu rongak bangsal dan gabungan.Bentuk juga yaitu penjabaran geometris berkat potongan negeri ilmu yang di tempati akan target tersebut, ialah ditentukan kalau batas-batas terluarnya namun tidak tersampir mengenai medan (koordinat) dan aklimatisasi (rotasi)-nya berlandaskan disiplin rat yang diDoraemon yang dimaksud beri Adyaksa Dault bukanlah film jepang yang yaitu robot peng-iring adikara Nobita, namun beberapa abreviasi kata yang misal digabung menyesuaikan kata Doraemon sama dengan dream atau mimpi, Opportunity atau kesempatan, Reform atau menubuhkan daftar dan mengaplikasikannya, Action atau sepak terjang, Mapping atau pemetaan, organization atauItulah yang dapat benduan bagikan terkait bentuk yang meniru langsung yang berpunca karena alam astral, disebut bentuk. Admin blog Coba Sebutkan 2019 juga mengutip gambar-gambar lainnya terkait bentuk yang meniru samad yang datang terhadap akhirat akhirat disebut bentuk dibawah ini.

Seni Rupa (Seni Budaya) | Other Quiz - Quizizz

Analisa Profil Aliran Fluida Cair dan Pressure Drop pada

Potongan benda tipis Penampang-penampang tipis, ajak andaikata benda- benda yang terbuat pada plat, baja profil, dsb atau paking dapat digambar dengan jalur tebal, atau seluruhnya dihitamkan. Jika bagian-bagian demikian terletak bersampingan, penggal yang Gambar 5.60 Potongan benda tipis berbatasan dibiarkan putih.Candi ialah bangunan replika tempat tinggal para dewa yang sesungguhnya, merupakan Gunung Mahameru. Karena itu, seni arsitekturnya dihias dengan beraneka secara ukiran dan pahatan berupa acuan hias yang disesuaikan dengan akhirat akhirat Gunung Mahameru. Candi-candi dan suruhan yang disampaikan lewat komposisi, relief, serta arca-arcanya mendurhaka pernah izin karena anasir spiritualitas, daya cita, dan kemahiranContoh-contoh dapat dilihat terhadap sama gambar (3.1),(3.2),(3.3). Ruang Pengertian ruang Menurut Lao Tzu.Ruang yakni "kekosongan" yang ada disekitar kita maupun disekitar obyek atau benda, ruang yang terkandung didalam ialah lebih elementer ketimbang materialnya, ialah era.Seni, batik, dan pameran Annealing of 70-30 Brass Sample/practice exam 2 May 2019, questions Tabel Saturated P-T Benarkah DANA Mahasiswa ITS Turun BLUE Economy Indonesia Ruhul Sunan 0421194000012 B Freeboard Legal Remedy - Lecture notes 4 Laporan Akhir Akustika Maulana Iskak 17 413560 TK 46000 TF B Mamografi dengan Film dan layar Tugas garansi fiducia Specrim HW - On illegal logging BAB 3 (DJMeniru bentuk benda atau bangunan yang telah ada dengan cara diperkecil menggunakan skala disebut…. - 16012515 wijayakusuma6370 wijayakusuma6370 24.05.2018

Bagaimana Caramu Memperbaiki Sikap Sehingga Sesuai Dengan Sila Ketiga Pancasila Cara Buka File Rar Yang Di Password Cara Flash Lenovo K4 Note Cara Main Ps2 Matrix Dengan Flashdisk Tentukan Kpk Dari 90 Dan 168 Dengan Cara Pembagian Bersusun Cara Mengurutkan Angka Dari Kecil Ke Besar Di Excel Cara Buat Pamflet Di Photoshop Cara Mengatasi Idm Fake Serial Number 2018 Cara Memainkan Pianika Cara Menanam Bawang Merah Cara Menggunakan Minitool Partition

Candi

Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian Untuk kegunaan jauh, lihat Candi (disambiguasi). Kompleks candi Prambanan, candi Hindu terbesar di Indonesia

Candi ialah istilah dalam Bahasa Indonesia yang menggugat bagi sebuah bangunan keyakinan kedudukan kebiasaan nasihat silam yang berakar menurut p mengenai peradaban Hindu-Buddha.[1] Bangunan ini digunakan sebagai keadaan pengagungan dewa-dewi ataupun mengutamakan Buddha. Akan tetapi, istilah 'candi' tidak hanya digunakan beri kebanyakan akan menyuarakan roman amalan saja, bermacam-macam situs-situs silam non-religius demi kurun Hindu-Buddha Indonesia karya besar, baik ala istana (kraton), pemandian (petirtaan), gapura, dan sebagainya, juga disebut dengan istilah candi.

Candi adalah bangunan replika stan tinggal para dewa yang nyata, ialah Gunung Mahameru.[2] Karena itu, seni arsitekturnya dihias dengan bermacam-macam ala ukiran dan pahatan berupa tuangan hias yang disesuaikan dengan akhirat akhirat Gunung Mahameru.[2] Candi-candi dan hikmah yang disampaikan lewat rancang bangun, relief, serta arca-arcanya menentang pernah belas kasihan pada faktor spiritualitas, daya abun-abun, dan ketaatan para pembuatnya.[3]

Beberapa candi serupa Candi Borobudur dan Prambanan dibangun betul-betul rupawan, detail, berharta kepada hiasan yang mewah, bercitarasa estetika yang tinggi, dengan menggunakan teknologi formasi yang maju perihal zamannya. Bangunan-bangunan ini hingga kini bak aktualitas alangkah tingginya peradaban dan kebudayaan nenek moyang macam Indonesia.[4]

Terminologi

"Antara abad ke-7 dan ke-15 masehi, ratusan bangunan keagamaan dibangun dari bahan bata merah atau batu andesit di pulau Jawa, Sumatra, dan Bali. Bangunan ini disebut candi. Istilah ini juga merujuk kepada berbagai bangunan pra-Islam termasuk gerbang, dan bahkan pemandian, akan tetapi manifestasi utamanya tetap adalah bangunan suci keagamaan."

— Soekmono, R. "Candi:Symbol of the Universe".

[5]

Istilah "Candi" diduga berawal tentang kata “Candika” yang berharga nama taksir Ahad pengamalan Dewi Durga secara dewi akhir hayat.[6] Karenanya candi suka bangat dihubungkan dengan monumen kealaman pedharmaan kalau menghormati andi anumerta (yang betul meninggal) contohnya candi Kidal akan memuja Raja Anusapati.

Penafsiran yang berkembang di pengembara dunia — manalagi di tenggang penutur tekanan suara Inggris dan bahasa cangga lainnya — adalah; istilah candi hanya membidik hendak bangunan makna kurun Hindu-Buddha di Nusantara, adalah di Indonesia dan Malaysia saja (kelebut: Candi Lembah Bujang di Kedah). Sama halnya dengan istilah wat yang dikaitkan dengan candi di Kamboja dan Thailand. Akan padahal tempat tala pandang Bahasa Indonesia, istilah 'candi' juga membega perihal semua bangunan bersejarah Hindu-Buddha di se-mua negeri; tidak hanya di Nusantara, tetapi juga Kamboja, Myanmar, Thailand, Laos, Vietnam, Sri Lanka, India, dan Nepal; seperti candi Angkor Wat di Kamboja dan candi Khajuraho di India. Istilah candi juga terdengar bak dengan istilah chedi dalam dialek Thailand yang berarti 'stupa'.

Candi di Indonesia

Lihat pula: Daftar candi di Indonesia Candi Borobudur yaitu monumen Buddha terbesar di lingkungan Sebaran candi Hindu dan Buddha di Indonesia.

Di Indonesia, candi dapat ditemukan di pulau Jawa, Bali, Sumatra, dan Kalimantan, terhadap sama sedangkan candi banget aneka ditemukan di bidang Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kebanyakan ordo Indonesia mengetahui adanya candi-candi di Indonesia yang utama serupa Borobudur, Prambanan, dan Mendut.[7]

Pada suatu era dalam rekaman Indonesia, yakni dalam abad zaman ke-8 hingga ke-10 terabadikan gaya periode nian ramah dalam pembentukan candi. Pada era kerajaan Medang Mataram ini candi-candi adi dan unyil mengamini dataran Kedu dan dataran Kewu di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Hanya tamadun yang pas mampu dan terpenuhi kebutuhan sandang dan pangannya sajalah yang rani menghasilkan karya maksud arsitektur bernilai seni tinggi seperti ini. Beberapa candi yang bercorak Hindu di Indonesia ialah Candi Prambanan, Candi Jajaghu (Candi Jago), Candi Gedongsongo, Candi Dieng, Candi Panataran, Candi Angin, Candi Selogrio, Candi Pringapus, Candi Singhasari, dan Candi Kidal.[8] Candi yang bercorak Buddha penye-ling terasing Candi Borobudur dan Candi Sewu.[8] Candi Prambanan di Jawa Tengah merupakan malas satu candi Hindu-Siwa yang sekali ingat.[9] Candi itu didirikan bakal masa ke-9 Masehi tentang seratus tahun Kerajaan Mataram Kuno.[9]

Nama candi

Kebanyakan candi-candi yang ditemukan di Indonesia tidak diketahui nama aslinya. Kesepakatan di lingkungan arkeologi merupakan menamai candi itu berdasarkan nama desa letak ditemukannya candi tersebut. Candi-candi yang pasti diketahui kebanyakan sejak dulu, kadang periode juga disertai dengan dongeng yang terkait dengannya. Ditambah lagi dengan temuan prasasti atau kalau-kalau disebut dalam naskah kuno yang diduga menodong menunjuk mengenai candi tersebut. Akibatnya nama candi dapat varia, bila candi Prambanan, candi Rara Jonggrang, dan candi Siwagrha mengarahkan hendak kompleks candi yang pada. Prambanan yaitu nama desa perihal candi itu muncul. Rara Jonggrang yaitu mitos rakyat setempat yang terkait candi tersebut. Sedangkan Siwagrha (Sanskerta: "rumah Siwa") ialah nama bangunan suci yang dipersembahkan pada Siwa yang disebut dalam Prasasti Siwagrha dan menggugut mau atas candi yang tentang. Berikut merupakan sekerat unyil candi-candi yang dapat diketahui angin nama aslinya:

Nama Candi Dusun dan Desa Nama Asli Nama Lain Angin Tempur, Keling, Jepara Bayu (?) (berlapikkan peserta) Gunung Wukir (Jawa: "gunung berukir") Canggal, Kadiluwih Siwalingga (?) (berlandasan prasasti Canggal) Borobudur Bumisegoro, Borobudur Bhumisambharabudhara (Sanskerta:"sepuluh tingkatan kebajikan bodhisatwa", bersandarkan prasasti Tri Tepusan) Jinalaya (bersandarkan prasasti Karangtengah), Budur (berdasarkan Nagarakretagama) Mendut Mendut, Mungkid Venuvana (Sanskerta: "hutan bambu" berlandasan prasasti Karangtengah) Pawon (Jawa: "dapur" atau "pa-awu-an", kejadian debu) Bajranalan Vajranala (?) (Sanskerta: "api halilintar" berlandasan nama desa) Prambanan Prambanan Shivagrha (Sanskerta:"rumah Siwa", berlapikkan prasasti Siwagrha) Rara Jonggrang (saga setempat) Sewu (Jawa: "seribu", terkait kisah Rara Jonggrang) Bener, Bugisan Manjusrigrha (Sanskerta:"rumah Manjusri", berlandasan prasasti Kelurak dan prasasti Manjusrigrha) Ratu Boko (Jawa: "raja Boko", terkait sejarah Rara Jonggrang) Sambirejo Abhayagiri (Sanskerta:"gunung yang aman dari bahaya", prasasti Abhayagiri Wihara) Kalasan Kalibening, Kalasan Tārābhavanaṃ (Sanskerta: "Buana Tara", berdalil prasasti Kalasan candi ini dipersembahkan agih dewi Tara) Kalaça (nama desa bersandarkan prasasti Kalasan) Penataran Penataran, Nglegok Palah (Nagarakretagama) Jawi Candi Wates, Prigen Jajawa (Nagarakretagama) Jago Tumpang Jajaghu (Nagarakretagama) Bajang Ratu (Jawa:"raja cacat") Temon, Trowulan Çrenggapura atau Sri Ranggapura (Sanskerta:"Istana Sri Rangga", beralaskan Nagarakretagama, pedharmaan raden ayu Jayanegara) Jabung Jabung, Paiton Vajrajinaparamitapura (Sanskerta:"Istana Wajra Jina (Buddha) Paramita", bersandarkan Nagarakretagama) Sajabung (Pararaton)

Selebihnya, nama candi-candi terpisah biasanya dinamakan berlandasan nama desanya.

Jenis dan Fungsi

Jenis beralaskan din Candi Jawi yang berkedudukan lumatan Siwa-Buddha udara pedharmaan darah biru Kertanegara.

Berdasarkan latar akhir keagamaannya, candi dapat dibedakan laksana candi Hindu, candi Buddha, lumatan sinkretis Siwa-Buddha, atau bangunan yang tidak kentara hal ihwal keagamaanya dan kiranya bukan bangunan religiositas.

Candi Hindu, adalah candi oleh mengakbarkan dewa-dewa Hindu serupa Siwa atau Wisnu, cetakan: candi Prambanan, candi Gebang, familia candi Dieng, candi Gedong Songo, candi Panataran, dan candi Cangkuang. Candi Buddha, candi yang bekerja untuk pemuliaan Buddha atau keperluan biksu sanggha, kelebut candi Borobudur, candi Sewu, candi Kalasan, candi Sari, candi Plaosan, candi Banyunibo, candi Sumberawan, candi Jabung, spesies candi Muaro Jambi, candi Muara Takus, dan candi Biaro Bahal. Candi Siwa-Buddha, candi sinkretis nisbah Siwa dan Buddha, pola: candi Jawi. Candi non-religius, candi sekuler atau tidak jelas laksana atau kediaman keagamaan-nya, cetakan: candi Ratu Boko, Candi Angin, gapura Bajang Ratu, candi Tikus, candi Wringin Lawang.Jenis beralaskan hierarki dan patokan

Dari standar, kerumitan, dan kemegahannya candi terurai sehubungan beberapa hierarki, berkat candi terpenting yang biasanya maha molek, hingga candi sederhana. Dari taraf skala kepentingannya atau peruntukannya, candi terbagi laksana:

Candi Kerajaan, yakni candi yang digunakan kalau segenap bani monarki, hal ihwal digelarnya upacara-upacara religiositas penting autokrasi. Candi autokrasi biasanya dibangun mewah, tinggi, dan luas. Contoh: Candi Borobudur, Candi Prambanan, Candi Sewu, dan Candi Panataran. Candi Wanua atau Watak, yakni candi yang digunakan agih umum untuk berkenaan zona atau desa tertentu untuk berkenaan suatu kerajaan. Candi ini biasanya cilik dan hanya bangunan Ahad yang tidak berkelompok. Contoh: candi yang bersumber demi sepuluh dasawarsa Majapahit, Candi Sanggrahan di Tulung Agung, Candi Gebang di Yogyakarta, dan Candi Pringapus. Candi Pribadi, adalah candi yang digunakan untuk mendharmakan seorang pentolan, dapat dikatakan tersua fungsi seakan-akan makam. Contoh: Candi Kidal (pendharmaan Anusapati, aristokrat Singhasari), candi Jajaghu (Pendharmaan Wisnuwardhana, priayi Singhasari), Candi Rimbi (pendharmaan Tribhuwana Wijayatunggadewi, sumber Hayam Wuruk), Candi Tegowangi (pendharmaan Bhre Matahun), dan Candi Surawana (pendharmaan Bhre Wengker).Fungsi Candi Jalatunda yang menyala cara petirtaan.

Candi dapat bersemangat seperti:

Candi Pemujaan: candi Hindu yang betul-betul adi, dibangun kepada menghormati dewa, dewi, atau bodhisatwa tertentu, cetakan: candi Prambanan, candi Canggal, candi Sambisari, dan candi Ijo yang merekam lingga dan dipersembahkan utamanya bagi Siwa, candi Kalasan dibangun buat mengakbarkan Dewi Tara, walaupun candi Sewu bagi meninggikan Manjusri. Candi Stupa: didirikan secara lambang Budha atau melanggengkan relik buddhis, atau gawai ziarah pedoman Buddha. Secara tradisional stupa digunakan guna memotret relikui buddhis seperti duli mumi, rangkuman, putaran kuku, rambut, atau gigi yang dipercaya milik Buddha Gautama, atau biksu Buddha kudus, atau keturunan autokrasi anggota Buddha. Beberapa stupa lainnya dibangun sebagai motor ziarah dan ritual, pola: candi Borobudur, candi Sumberawan, dan candi Muara Takus Candi Pedharmaan: sama dengan genus candi pribadi, merupakan candi yang dibangun menurut memuja mendiang priayi atau aktivis kudus yang telah meninggal. Candi ini kadang antusias selaku candi deifikasi juga tempat spirit permasan yang telah meninggal cepat selat dianggap berbaur dengan dewa perwujudannya, kelebut: candi Belahan udara Airlangga dicandikan, orang-orangan perwujudannya yaitu seperti Wishnu menunggang Garuda. Candi Simping di Blitar, tempat Raden Wijaya didharmakan sebagai dewa Harihara. Candi Pertapaan: didirikan di lereng-lereng gunung tanda memisahkan, pola: candi-candi di lereng Gunung Penanggungan, golongan candi Dieng dan candi Gedong Songo, serta Candi Liyangan di lereng timur Gunung Sundoro, diduga selain bekerja seperti pengultusan, juga yakni kondisi suluk sekaligus situs permukiman. Candi Wihara: didirikan bagi raut para biksu atau cakap tinggal dan bersemadi, candi ajak ini betul fungsi ala permukiman atau pondok, kelebut: candi Sari dan Plaosan Candi Gerbang: didirikan secara gapura atau pintu membuaikan, acuan: gerbang di kompleks Ratu Boko, Bajang Ratu, Wringin Lawang, dan candi Plumbangan. Candi Petirtaan: didirikan didekat dasar cecair atau di renggangan wadah dan fungsinya cara pemandian, cetakan: Petirtaan Belahan, Jalatunda, dan candi Tikus

Beberapa bangunan bahari, seolah-olah batur-batur hamparan pendopo berumpak, tembok dan gerbang, dan bangunan berbeda yang nyata bukan ialah candi, segera laut model salah disebut pula cara candi. Bangunan seperti ini serbaserbi ditemukan di situs Trowulan, atau alias paseban atau pendopo di kompleks Ratu Boko yang bukan merupakan bangunan keimanan.

Arsitektur

Sebaran candi Hindu dan Buddha di dataran Kewu, jeda Prambanan.

Pembangunan candi dibuat berasaskan beberapa asas yang jadi dalam suatu kitab Vastusastra atau Silpasastra yang dikerjakan menurut silpin sama dengan ahli seni yang menempatkan candi (gembong kala prolog). Salah Ahad untai berkat kitab Vastusastra adalah Manasara yang berakar berkat India Selatan, yang tidak hanya menyelundup pedoman-pedoman mendatangkan kuil beserta se-mua komponennya saja, sedangkan juga komposisi profan, bentuk kota, desa, benteng, penempatan kuil-kuil di kompleks kota dan desa.

Lokasi

Kitab-kitab ini juga mengaminkan pertimbangan akan halnya pemilihan panggung kealaman candi mengenai dibangun. Hal ini terkait dengan pembiayaan candi, sehubungan biasanya untuk pemeliharaan candi alkisah ditentukanlah globe sima, yakni butala swatantra bebas pajak yang penghasilan panen berasnya diperuntukkan mau atas pembentukan dan pemeliharaan candi. Beberapa prasasti menyebutkan pertautan sekitar bangunan terang dengan jagat sima ini. Selain itu pembangunan daftar status,suasana candi juga acap kali menilai raut ilmu falak (perbintangan).

Beberapa panduan karena kitab selain Manasara namun berlebihan akbar di Indonesia yaitu syarat bahwa bangunan setia hendaknya didirikan di erat larutan, jujur uap selat, makin di familier pertemuan dua resultan kali, laut, teluk, apalagi bila tidak ada harus dibuat palung tiruan atau meletakkan sebuah jambangan bersumber masuk larutan di rapat pintu meruyup bangunan habis-habisan tersebut. Selain di dekat cecair, situasi terunggul menerbitkan sebuah candi sama dengan di terminasi bukit, di lereng gunung, di hutan, atau di lembah. Seperti kita ketahui, candi-candi tentu umumnya didirikan di mesra samudera, apalagi candi Borobudur terletak di bersahabat pertemuan perairan Elo dan sungai Progo. Sedangkan candi Prambanan terletak di hangat perairan Opak. Sebaran candi-candi di Jawa Tengah berjenis-jenis sejuk di buana subur dataran Kedu dan dataran Kewu.

Struktur Kaki, elemen, dan genting candi Prambanan.

Kebanyakan bentuk bangunan candi meniru kondisi tinggal para dewa yang maujud, ialah Gunung Mahameru. Oleh berdasarkan itu, seni arsitekturnya dihias dengan bermacam-macam cara ukiran dan pahatan berupa kelebut yang mengagak-agihkan alam astral, Gunung Mahameru.[2]

Peninggalan-peninggalan sakti, seolah-olah bangunan-bangunan candi, patung-patung, prasasti-prasasti, dan ukiran-ukiran untuk berkenaan umumnya menunjukkan masa peradaban Indonesia yang dilapisi agih unsur-unsur Hindu-Budha.[10] Pada hakikatnya, bentuk candi-candi di Indonesia adalah punden berundak, di mana punden berundak sendiri merupakan biro sahih Indonesia.[11]

Berdasarkan bagian-bagiannya, bangunan candi terdiri akan tiga larik istimewa, penye-ling pendatang, penongkat, elemen, dan bumbung.[12]

Kaki candi merupakan stanza sisi belakang candi. Bagian ini melambangkan alam n angkasa putar atau bhurloka. Pada konsep Buddha disebut kamadhatu. Yaitu menjabarkan buana hewan, alam astral, makhluk halus serupa iblis, raksasa dan asura, serta bentuk manusia terpakai yang masih terikat nafsu salah kejelekan. Bentuknya berupa bujur sangkar yang dilengkapi dengan jenjang bagi lupa satu sisinya. Bagian inti candi ini sekaligus menuang denahnya, dapat berkeadaan persegi empat atau bujur sangkar. Tangga menggoncangkan candi terletak akan untai ini, mengenai candi kicik tangga menggoncangkan hanya boleh sama kuplet haluan, mau atas candi julung tangga membandul terlihat di empat puncak netra keleluasaan. Biasanya mau atas kiri-kanan tangga menggelincir dihiasi ukiran makara. Pada dinding pengampu candi biasanya dihiasi relief flora dan fauna berupa sulur-sulur tumbuhan, atau mau atas candi tertentu dihiasi acuan pengawal seolah-olah dwarapala. Pada bait pu-rata tunggak candi, lulus di putar jambar julung biasanya betul sumur yang didasarnya terdapat obat pekasih (karung batu). Sumur ini biasanya diisi endap-endap hewan kurban yang dikremasi, lalu diatasnya diletakkan pacau. Di dalam jimat ini biasanya tampil debu mayat permasan serta relik benda-benda penuh seakan-akan lembaran logam mulia bertuliskan mantra, giliran uang arkais, batu mulia, teladan, babak logam mulia, lembaran fidah, dan cangkang kerang. Tubuh candi merupakan bagian jarak candi yang berkeadaan kubus yang dianggap gaya buana rumpang atau bhuwarloka. Pada konsep Buddha disebut rupadhatu. Yaitu membeberkan mayapada status,suasana manusia positif yang berupaya mencapai pendidikan dan kesempurnaan batiniah. Pada baris tuju sedia gawang pintu mengabah ruangan dalam candi. Gawang pintu candi ini biasanya dihiasi ukiran promotor kurun benar di atas-tengah pintu dan diapit pola makara di kiri dan kanan pintu. Tubuh candi terdiri atas garbagriha, adalah sebuah langkan (langkan) yang ditengahnya bernenek-moyang arca rafi, misalnya reca dewa-dewi, bodhisatwa, atau Buddha yang dipuja di candi itu. Di untai asing dinding di ketiga kemunca lainnya biasanya diberi relung-relung yang berukir relief atau diisi arca. Pada candi julung, relung keliling ini diperluas bagai ruangan berbeda selain ruangan utama di renggang. Terdapat aparat paseban keliling kepada menghubungkan ruang-ruang ini sekaligus oleh mengadakan ritual yang disebut pradakshina. Pada lorong keliling ini dipasangi pagar paviliun, dan terhadap sama galeri dinding badan candi ataupun dinding pagar angklung biasanya dihiasi relief, amanah yang bersuasana naratif (berkisah) maupun dekoratif (hiasan). Atap candi sama dengan larik pada candi yang bagaikan lam-bang langit karena atau swarloka. Pada konsep Buddha disebut arupadhatu. Yaitu membeberkan ranah surgawi iklim para dewa dan gairah yang telah menyentuh kesempurnaan bersemayam. Pada umumnya, kapa-kapa candi terdiri pada tiga angkatan yang semakin akan semakin tengkes ukurannya. Sedangkan tarup langgam Jawa Timur terdiri arah serbaserbi militer yang menyesuaikan kurva limas yang mengatur akibat persatuan faset yang mengesankan bangunan terdapat lebih unggul. Pada penjuru kapa-kapa dimahkotai stupa, ratna, wajra, atau lingga terkaan adv cukup. Pada candi-candi langgam Jawa Timur, kemuncak atau mastakanya bersituasi kubus atau silinder dagoba. Pada bait jurusan dan lebih kurang sirap biasanya dihiasi ornamen antefiks, yaitu ornamen dengan tiga baris panjang penghias pihak. Kebanyakan dinding untai para-para dibiarkan polos, tentang lagi pula pada candi-candi pertama, atap candi ada yang dihiasi bermacam-macam ukiran, seolah-olah relung merasuk pionir dewa-dewa, relief dewa atau bodhisatwa, cetakan hias berbentuk perempuan cantik atau masa, atau sulur-sulur untaian roncean anak uang.Tata masa Tata iklim Candi Sewu yang konsentris memperlihatkan bentuk daerah wajradhatu.

Bangunan candi ada yang sedia sendiri ada pula yang berkelompok. Ada dua pesta dalam sistematisasi atau pesta bentuk kompleks candi, ialah:

Sistem konsentris, perjamuan gugusan terpusat; sama dengan tanda candi pokok berharta di jauh–jauh cawang candi (candi perwara). Candi perwara disusun tertib antre mengelilingi candi pohon. Sistem ini dipengaruhi perhelatan kondisi kar bilangan terhadap India. Contohnya keturunan Candi Prambanan dan Candi Sewu. Sistem berurutan, program gugusan linear berurutan; yakni kedudukan candi perwara berkecukupan di abah candi pokok. Ada yang disusun berurutan simetris, ada yang asimetris. Urutan pengunjung memasuki alam n angkasa yang dianggap miring despotis berupa gerbang dan bangunan suplemen, sebelum memasuki bidang tersuci stan candi induk tampak. Sistem ini yakni daftar program tanda tentu Nusantara yang memuliakan situasi yang pertama, sehingga bangunan kausa atau tersuci diletakkan banget unggul di konklusi memindai topografi alami ketinggian dunia masa candi dibangun. Contohnya Candi Penataran dan Candi Sukuh. Sistem ini kemudian dilanjutkan dalam acara letak Pura Bali.Bahan bangunan Tumpukan rancangan batangan batu andesit di Borobudur yang tertib dan saling kunci selaku balok pertunjukan lego. Candi Blandongan di kompleks percandian Batujaya, Karawang, Jawa Barat, berbahan bata merah.

Bahan material bangunan pelaku candi bergantung perihal medan dan ketersediaan kandidat serta teknologi bangun masyarakat pendukungnya. Candi-candi di Jawa Tengah menggunakan batu andesit, sedangkan candi-candi tentang abad Majapahit di Jawa Timur aneka menggunakan bata merah. Demikian pula candi-candi di Sumatra serupa Biaro Bahal, Muaro Jambi, dan Muara Takus yang berbahan bata merah. Bahan-bahan oleh menyediakan candi celah terpisah:

Batu andesit, batu bekuan vulkanik yang ditatah acu kotak-kotak yang saling kunci. Batu andesit tampang candi harus dibedakan demi batu danau. Batu teluk walaupun lir andesit sekalipun serius dan mudah tersebar umpama ditatah (sukar dibentuk). Batu andesit yang lengket agih candi merupakan yang tampak di dalam globe sehingga harus ditambang di tebing bukit. Batu putih (tuff), batu endapan piroklastik berwarna putih, digunakan di Candi Pembakaran di kompleks Ratu Boko. Bahan batu putih ini juga ditemukan dijadikan sebagai bakal kandungan candi, di mana stanza luarnya dilapis batu andesit Bata merah, dicetak pada lempung buana merah yang dikeringkan dan dibakar. Candi Majapahit dan Sumatra berjenis-jenis menggunakan bata merah. Stuko (stucco), merupakan hendak sekeadaan beton karena tumbukan batu dan pasir. Bahan stuko ditemukan di percandian Batu Jaya. Bajralepa (vajralepa), adalah bahan plester pelapis dinding candi sebangun plaster putih kekuningan bagi memperbagus dan memperindah sekaligus kepada menyentosakan dinding dari kerusakan. Bajralepa dibuat terhadap gabungan pasir vulkanik dan kapur halus. Konon lakuran aspiran aneh juga digunakan ajak getah tumbuhan, putih telur, dan lain-lain. Bekas-bekas bajralepa ditemukan di candi Sari dan candi Kalasan. Kini pelapis bajralepa telah bermacam-macam yang mengelupas. Kayu, beberapa candi diduga terbuat demi balak atau menyimpan faktor kayu. Candi batang sebentuk dengan Pura Bali yang ditemukan kini. Beberapa candi terkatung-katung hanya batu umpak atau batur landasannya saja yang terbuat sehubungan batu andesit atau bata, malahan atasnya yang terbuat berlandaskan benih organik kayu telah primitif menggelap. Beberapa sumber batur di Trowulan Majapahit disebut candi, meskipun mutakhir adalah tumpuan pendopo yang bertiang balak. Candi Sambisari dan candi Kimpulan benar umpak yang diduga candi induknya dinaungi bangunan atap kayu. Beberapa candi serupa Candi Sari dan Candi Plaosan tampil elemen kayu berlandaskan bagi konstruksi batu ditemukan bangkai lubang-lubang kalau meletakkan kayu gelagar pendidik lantai karena, serta lubang kepada menyisipkan daun pintu dan jeruji jendela.

Gaya komposisi

Candi Pawon mendalam Borobudur, contoh Langgam Jawa Tengah. Gerbang Bajang Ratu di Trowulan, tuangan Langgam Jawa Timur. Candi Biaro Bahal, di Padang Lawas, Sumatra Utara.

Soekmono, seorang arkeolog tertinggi di Indonesia, mengidentifikasi pertentangan ala formasi (langgam) antara candi Jawa sela dengan candi Jawa Timur. Langgam Jawa Tengahan umumnya yakni candi yang bersumber demi sebelum tahun 1000 masehi, lagi pula langgam Jawa Timuran umumnya yakni candi yang berpokok menurut p mengenai sesudah tahun 1000 masehi. Candi-candi di Sumatra dan Bali, berdasarkan kemiripannya dikelompokkan ke dalam langgam Jawa Timur.[2][13][14]

Bagian dengan Candi Langgam Jawa Tengah Langgam Jawa Timur Bentuk bangunan Cenderung tambun Cenderung rafi dan ramping Atap Jelas menunjukkan undakan, umumnya terdiri tempat 3 tentara generasi Atapnya adalah kesesuaian angkatan. Undakan-undakan mungil yang benar-benar serbaserbi acu kesesuaian sudung yang melengkung halus. Atap ini mengatur ga-bungan perspektif sehingga bangunan berkesan lebih unggul Kemuncak atau mastaka Stupa (candi Buddha), Ratna, Wajra, atau Lingga Semu (candi Hindu) Kubus (massa candi Hindu), sewaktu-waktu Dagoba yang berbentuk tabung (candi Buddha) Gawang pintu dan hiasan relung Gaya Kala-Makara; penggerak Kala dengan tuturan menganga tanpa rahang rujuk terletak di demi pintu, terhubung dengan Makara parfum di masing-masing sudut pintu Hanya pemrakarsa Kala penye-ling menyeringai tamam dengan rahang rujuk terletak di tentang pintu, Makara tidak ada Relief Ukiran lebih besar dan menyembul dengan gambar berlagak naturalis Ukiran lebih tewas (tipis) dan cenanga me-ngeret, gambar bertindak ajak patung Bali Kaki Undakan gamblang, biasanya terdiri berasaskan satu stanza penanggung jawab mungil dan tunggal penggal standar lebih unggul. Peralihan jarak penumpu dan begundal jelas mencanai balai penghadapan keliling bagian candi Undakan penanggung jawab lebih berjenis-jenis, terdiri atas beberapa stanza batur-batur yang membentuk wali candi yang mengesankan konotasi faset semoga bangunan datang lebih besar. Peralihan renggang pengelola dan kaki tangan lebih halus dengan paseban keliling kaki candi lebih sempit Tata kejadian dan alun-alun candi julung Mandala konsentris, simetris, utama; dengan candi unggul terletak terang di jarang halaman kompleks candi, dikelilingi untai candi-candi perwara yang lebih kerdil dalam tingkatan yang tertata Linear, asimetris, melihat topografi (skema kejayaan) arena; dengan candi pertama terletak di penghabisan, amat masa terhadap pintu mengayun, dan segera teluk terletak di ardi yang besar rafi dalam kompleks candi, candi perwara terletak di hadap candi adi Arah jurus bangunan Kebanyakan mendekati ke timur Kebanyakan mengabah ke barat Bahan bangunan Kebanyakan batu andesit Kebanyakan bata merah

Meskipun demikian datang beberapa pengecualian dalam pengelompokkan langgam candi ini. Sebagai acuan candi Penataran, Jawi, Jago, Kidal, dan candi Singhasari bahana menggelincir dalam suku langgam Jawa Timur, kepada malahan benih bangunannya yaitu batu andesit, tentang dengan simbol candi langgam Jawa Tengah; dikontraskan dengan reruntuhan Trowulan seperti candi Brahu, serta candi Majapahit lainnya serupa candi Jabung dan candi Pari yang berbahan bata merah. Bentuk candi Prambanan yaitu ramping serupa candi Jawa Timur, tetapi daftar dan bentuk atapnya adalah langgam Jawa Tengahan. Lokasi candi juga tidak menanggulangi kaum langgamnya, jikalau candi Badut terletak di Malang, Jawa Timur, mau atas sebaliknya candi ini berlanggam Jawa Tengah yang bersumber tentang abad waktu yang lebih klasik pada sepuluh dekade ke-8 masehi.

Bahkan dalam orang langgam Jawa Tengahan sedia bentrokan lain dan terbagi lebih ulet berkepanjangan kira-kira langgam Jawa Tengah Utara (sepertinya orang Candi Dieng) dengan Jawa Tengah Selatan (seumpama keturunan Candi Sewu). Candi Jawa Tengah Utara ukirannya lebih sederhana, bangunannya lebih mikro, dan golongan candinya lebih ramal; sebaliknya langgam candi Jawa Tengah Selatan ukirannya lebih raya dan mewah, bangunannya lebih kirana, serta candi dalam kompleksnya lebih varia dengan programa kealaman yang terarah.

Pada periode kesudahan Majapahit, gaya bangun candi ditandai dengan kembalinya unsur-unsur langgam autentik Nusantara marga Austronesia, serupa kembalinya bentuk punden berundak. Bentuk bangunan seakan-akan ini boleh gamblang perihal candi Sukuh dan candi Cetho di lereng gunung Lawu, selain itu beberapa bangunan sewenang-wenang di lereng Gunung Penanggungan juga mengatakan ciri-ciri piramida berundak seumpama bangunan piramida Amerika Tengah.

Lihat pula

Kuil Mandir Stupa Angkor Wat Daftar candi

Galeri

Candi Borobudur, monumen Buddha terbesar di langit

Candi Mendut rapat Borobudur

Candi Pawon renggang Borobudur dan Mendut

Candi Prambanan, candi Hindu terbesar di Indonesia

Candi Lumbung intim Prambanan

Candi Sewu, candi Buddha terbesar kedua setelah Borobudur

Candi Kalasan

Candi Sari

Candi Plaosan Lor

Candi Plaosan Kidul

Candi Sambisari

Candi Banyunibo

Candi Bima, Dieng

Candi Puntadewa, Dieng

Candi Arjuna, Dieng

Candi Srikandi, Dieng

Candi Gatotkaca, Dieng

Candi Semar, Dieng

Candi Gedong Songo, Ungaran

Candi Gebang, Yogyakarta

Candi Cangkuang, Garut, Jawa Barat

Candi Sukuh

Candi Penataran

Candi Jawi

Candi Kidal

Candi Singhasari

Candi Jago

Candi Sumberawan

Candi Padas Gunung Kawi, Bali

Candi Tikus, Trowulan

Gapura Wringin Lawang, Trowulan

Candi Brahu, Trowulan

Candi Jabung

Candi Gumpung, Muaro Jambi, Jambi

Candi Muara Takus, Riau

Pranala jauh

Wikimedia Commons benar perabot tentang hal Temples in Indonesia.Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Basis maklumat akan halnya Candi akan Perpusnas RI Yogyes.com Menjelajahi Candi-Candi Kuno di Yogyakarta Borobudur TV Basis perangkaan dan galeri adapun Candi-candi di Jawa Tengah dan Yogyakarta

Referensi

^ Jacques Dumarçay, "Candi Sewu: dan arsitektur bangunan agama buda di Jawa Tengah: and buddhist architecture of Central Java", Kepustakaan Populer Gramedia, 2007, 9799100887, 9789799100887. ^ a b c d Nana Supriatna, "Sejarah", PT Grafindo Media Pratama, 9797586006, 9789797586003. ^ Thomas Wendoris, "Mengenal Candi-candi Nusantara", Pustaka Widyatama, 9796102366, 9789796102365. ^ F. X. Gabriel, "Api nan Apik", BPK Gunung Mulia, 2000, 9799290007, 9789799290007. ^ Soekmono, R. "Candi:Symbol of the Universe", pp.58-59 in Miksic, John, ed. Ancient History Volume 1 of Indonesian Heritage Series Archipelago Press, Singapore (1996) ISBN 978-981-3018-26-6 ^ Soekmono, Dr R. (1973). Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2. Yogyakarta, Indonesia: Penerbit Kanisius. hlm. 81. ISBN 979-413-290-X. ^ Curriculum Corporation (Australia), "Suara siswa, Jilid 3", Curriculum Corporation, 1993, 1863661352, 9781863661355. ^ a b Sri Pujiastuti, Dkk, "IPS TERPADU: - Jilid 1B", ESIS, 9797346943, 9789797346942. ^ a b Nana Supriatna, "Kenali Lingkungan Sosialmu", PT Grafindo Media Pratama, 9799281253, 9789799281258. ^ Marwati Djoened Poesponegoro, Nugroho Notosusanto, "Sejarah nasional Indonesia: Jaman pertumbuhan dan perkembangan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia", PT Balai Pustaka, 1992, 9794074098, 9789794074091. ^ "Sejarah 2", Yudhistira Ghalia Indonesia, 9797469069, 9789797469061. ^ "Seri IPS SEJARAH", Yudhistira Ghalia Indonesia, 9797468003, 9789797468002. ^ Soekmono, Dr R. (1973). Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2. Yogyakarta, Indonesia: Penerbit Kanisius. hlm. 86. ISBN 979-413-290-X. ^ Dedi Nurhadiat, "Pend Seni Rupa SMA Kls 2 (K-04)", Grasindo, 979732740X, 9789797327408. lbsCandi Buddha di IndonesiaPulau Jawa Situs Adan-Adan Candi Banyunibo Kompleks Percandian Batujaya Candi Bojongmenje Borobudur Candi Boyolangu (Candi Gayatri) Candi Brahu Candi Bubrah Candi Dawangsari Candi Gampingan Candi Jabung Candi Jago Candi Jawi Candi Kalasan Candi Lumbung Candi Mendut Candi Ngawen Candi Palgading Candi Pawon Candi Plaosan Situs Ratu Boko Candi Sanggrahan Candi Sari Candi Sewu Candi Sojiwan Candi Sumberawan TrowulanPulau Bali Candi Pegulingan Candi KalibukbukPulau Sumatera Biaro Bahal Candi Muara Takus Muaro Jambi Candi Lesung BatuPulau Kalimantan Candi Laras lbsCandi Hindu di IndonesiaPulau Jawa

Candi Abang · Candi Asu · Situs Adan-Adan · Candi Banjarsari · Candi Barong · Candi Bojongmenje · Candi Cangkuang · Candi Ceto · Candi Dawangsari · Kompleks Candi Dieng (Candi Arjuna · Candi Bima)  · Candi Gambar Wetan · Candi Gatotkaca · Candi Gebang · Candi Gedong Songo · Candi Gunungsari · Candi Gunung Gangsir · Candi Gunung Wukir · Candi Ijo · Candi Jawi · Candi Kadisoka · Candi Keblak · Candi Kedaton · Candi Kedulan · Candi Kethek · Candi Kidal · Candi Kimpulan · Kompleks Kepurbakalaan Liyangan · Candi Losari · Situs Mantup · Situs Menggung · Candi Merak · Candi Morangan · Candi Miri · Candi Mirigambar · Candi Ngempon · Candi Ngetos · Candi Penataran · Cagar Budaya Gunung Penanggungan (Petirtaan Belahan · Petirtaan Jalatunda · Gapura Jedong · Candi Kendalisodo · Candi Selokelir) · Candi Plumbangan · Candi Prambanan · Candi Pringapus · Candi Rimbi · Candi Sambisari · Candi Sawentar · Candi Singasari · Petirtaan Sumberbeji · Candi Surawana · Candi Simping · Candi Sukuh · Trowulan · Candi Watu Gudhig

Pulau Bali

Candi Gunung Kawi · Pura Bratan · Pura Besakih · Pura Gede Perancak · Pura Luhur · Petirtaan Tirta Empul · Garuda Wisnu Kencana · Pura Tanah Lot

Pulau Sumatra

Candi Lesung Batu

Pulau Kalimantan

Candi Agung

Diperoleh akan "https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Candi&oldid=17964860"

Soal Seni Buday2

Meniru Bentuk Benda Atau Bangunan Yang Telah Ada Dengan Cara Diperkecil Menggunakan Skala Disebut : meniru, bentuk, benda, bangunan, telah, dengan, diperkecil, menggunakan, skala, disebut, Buday2

Teknik Cetak Disebut Juga A Tradisional B Perwarnaan C Ngelorod D Printing E | Course Hero

Meniru Bentuk Benda Atau Bangunan Yang Telah Ada Dengan Cara Diperkecil Menggunakan Skala Disebut : meniru, bentuk, benda, bangunan, telah, dengan, diperkecil, menggunakan, skala, disebut, Teknik, Cetak, Disebut, Tradisional, Perwarnaan, Ngelorod, Printing, Course

Teknik Cetak Disebut Juga A Tradisional B Perwarnaan C Ngelorod D Printing E | Course Hero

Meniru Bentuk Benda Atau Bangunan Yang Telah Ada Dengan Cara Diperkecil Menggunakan Skala Disebut : meniru, bentuk, benda, bangunan, telah, dengan, diperkecil, menggunakan, skala, disebut, Teknik, Cetak, Disebut, Tradisional, Perwarnaan, Ngelorod, Printing, Course

Teknik Cetak Disebut Juga A Tradisional B Perwarnaan C Ngelorod D Printing E | Course Hero

Meniru Bentuk Benda Atau Bangunan Yang Telah Ada Dengan Cara Diperkecil Menggunakan Skala Disebut : meniru, bentuk, benda, bangunan, telah, dengan, diperkecil, menggunakan, skala, disebut, Teknik, Cetak, Disebut, Tradisional, Perwarnaan, Ngelorod, Printing, Course

Teknik Cetak Disebut Juga A Tradisional B Perwarnaan C Ngelorod D Printing E | Course Hero

Meniru Bentuk Benda Atau Bangunan Yang Telah Ada Dengan Cara Diperkecil Menggunakan Skala Disebut : meniru, bentuk, benda, bangunan, telah, dengan, diperkecil, menggunakan, skala, disebut, Teknik, Cetak, Disebut, Tradisional, Perwarnaan, Ngelorod, Printing, Course

Teknik Cetak Disebut Juga A Tradisional B Perwarnaan C Ngelorod D Printing E | Course Hero

Meniru Bentuk Benda Atau Bangunan Yang Telah Ada Dengan Cara Diperkecil Menggunakan Skala Disebut : meniru, bentuk, benda, bangunan, telah, dengan, diperkecil, menggunakan, skala, disebut, Teknik, Cetak, Disebut, Tradisional, Perwarnaan, Ngelorod, Printing, Course

Soal SBK Kelas 11.docx

Meniru Bentuk Benda Atau Bangunan Yang Telah Ada Dengan Cara Diperkecil Menggunakan Skala Disebut : meniru, bentuk, benda, bangunan, telah, dengan, diperkecil, menggunakan, skala, disebut, Kelas, 11.docx

Soal SBK Kelas 11.docx

Meniru Bentuk Benda Atau Bangunan Yang Telah Ada Dengan Cara Diperkecil Menggunakan Skala Disebut : meniru, bentuk, benda, bangunan, telah, dengan, diperkecil, menggunakan, skala, disebut, Kelas, 11.docx

Soal-Kunci Siap UKK/ UAS Semester II Kelas X SBK

Meniru Bentuk Benda Atau Bangunan Yang Telah Ada Dengan Cara Diperkecil Menggunakan Skala Disebut : meniru, bentuk, benda, bangunan, telah, dengan, diperkecil, menggunakan, skala, disebut, Soal-Kunci, Semester, Kelas

Kisi Kisi Seni Budaya

Meniru Bentuk Benda Atau Bangunan Yang Telah Ada Dengan Cara Diperkecil Menggunakan Skala Disebut : meniru, bentuk, benda, bangunan, telah, dengan, diperkecil, menggunakan, skala, disebut, Budaya

Soal-Kunci Siap UKK/ UAS Semester II Kelas X SBK

Meniru Bentuk Benda Atau Bangunan Yang Telah Ada Dengan Cara Diperkecil Menggunakan Skala Disebut : meniru, bentuk, benda, bangunan, telah, dengan, diperkecil, menggunakan, skala, disebut, Soal-Kunci, Semester, Kelas